Ilmu Komunikasi; Suatu Pengantar

Mengapa kita harus susah payah mempelajari sesuatu yang kita lakukan setiap hari? Kita juga toh tidak mempelajari bagaimana cara berjalan atau cara makan atau cara tidur, perilaku-perilaku rutin yang kita lakukan sepanjang waktu.

Terbiasa berkomunikasi sebenarnya bukan berarti memahami komunikasi. Menurut Porter dan Samovar, memahami komunikasi manusia berarti memahami apa yang terjadi selama komunikasi berlangsung, mengapa itu terjadi, akibat-akibat apa yang terjadi, dan akhirnya apa yang dapat kita perbuat untuk memengaruhi dan memaksimalkan hasil-hasil dari kejadian tersebut.[6]

Di mana pun kita tinggal dan apa pun pekerjaan kita, kita selalu membutuhkan komunikasi dengan orang lain. Jadi bukan hanya dosen, politikus, pengacara, penjual atau pendakwah yang harus terampil berkomunikasi, namun hampir semua jabatan.

Banyak orang gagal karena mereka tidak terampil berkomunikasi. Sebagian pengamat politik menilai bahwa kegagalan Megawati Soekarnoputri untuk menjadi Presiden RI adalah karena ia kurang mampu mengomunikasikan gagasan-gagasannya, meskipun PDI-Perjuangan meraih jumlah suara tertinggi dari rakyat pemilih dalam Pemilu 1999. Sebaliknya, Amien Rais tampil sebagai Ketua MPR karena keterampilannya berkomunikasi, meskipun perolehan suara partainya (PAN) kecil.

Dalam Pemilu 2004, karena problem serupa, Megawati gagal terpilih kembali sebagai Presiden RI setelah ia menggantikan Gus Dur yang dilengserkan DPR di tengah jalan.

Dalam kehidupan sehari-hari pun, banyak kegagalan dalam pekerjaan atau karier disebabkan kegagalan berkomunikasi. Misalnya, orang tidak diterima bekerja karena ia gagal berkomunikasi dalam wawancara. Mungkin ia arsitek yang cerdas atau akuntan yang brilian, namun ia tidak dapat “menjual” dirinya di hadapan pewawancara.

Manajer dipecat dari jabatannya karena ia gagal berkomunikasi dengan bawahan. Seorang wakil rakyat gagal dipilih kembali karena ia gagal berkomunikasi dengan konstituennya. Seorang diplomat gagal meyakinkan negeri tempat ia ditugaskan karena ia bukan hanya tidak persuasif, bahkan tidak menguasai bahasa setempat secara optimal.

Bahkan seorang peneliti yang sepanjang tahun bekerja di sebuah laboratorium terpencil pun bisa gagal kalau ia tidak mampu mengomunikasikan temuannya dalam seminar atau tulisan dalam media cetak.

Baca juga:

Adakalanya orang pun gagal berkomunikasi dengan sesama anggota keluarga; ibu yang tidak dapat berkomunikasi dengan anak-anaknya, atau anak-anak yang tidak dapat berkomunikasi dengan ayahnya.

Bahkan dalam dunia lawak pun, para pelawak yang gagal berkomunikasi berisiko ditinggalkan penonton, dicemoohkan, untuk kemudian dilupakan. Sedangkan para pelawak yang terampil berkomunikasi, seperti Miing Bagito dan Eko Patrio, terus berkibar dan dibutuhkan orang, dan dibayar berapa pun sesuai dengan permintaan mereka.

Dalam konteks inilah kita harus menegaskan kembali persepsi kita bahwa komunikasi itu bukan sesuatu yang mudah. Karena itu, berbagai upaya terus-menerus harus kita lakukan untuk meningkatkan pengetahuan komunikasi kita dan keterampilan kita berkomunikasi. Mestinya tidak ada kata berhenti dalam belajar, karena pengetahuan dan keterampilan yang kita butuhkan harus selalu kita asah, agar senantiasa up-to-date dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan wacana mereka.

***

Menggunakan gaya berbeda dengan gaya penulisan buku teks komunikasi yang telah ada, buku ini saya tulis untuk membantu Anda memahami fenomena yang disebut komunikasi dengan berbagai aspeknya: fungsi, prinsip, model, konteks, kendala komunikasi, dan upaya untuk meningkatkan keefektifannya.

Meskipun memuat banyak rujukan ilmiah, buku ini bergaya populer, santai, dan adakalanya jenaka. Banyak contoh saya ambil dari pengalaman, anekdot atau lelucon yang disampaikan dalam makalah mahasiswa-mahasiswa saya di beberapa lembaga pendidikan tinggi.

Selain itu, saya juga memanfaatkan pengamatan dan pengalaman pribadi saya, baik di dalam maupun di luar negeri, untuk menjelaskan konsep-konsep ilmiah yang saya bahas, juga berita atau cerita dari media massa.

Sejauh ilustrasi yang diberikan mahasiswa menyangkut kesalahpahaman verbal dan nonverbal, saya berusaha melakukan cek ulang melalui wawancara informal, obrolan, konfirmasi via telepon atau SMS dengan orang-orang yang mengenal atau berasal dari latar belakang budaya yang bersangkutan, termasuk para mahasiswa saya yang berasal dari berbagai latar belakang budaya dan daerah.

Untuk memperoleh informasi yang akurat dan mutakhir, atau mengonfirmasikannya, saya juga menghubungi beberapa kawan lama yang bermukim di beberapa negara lain via e-Mail.

Halaman selanjutnya >>>