Ilmu Komunikasi; Suatu Pengantar

Meskipun ilustrasi yang diberikan para mahasiswa tidak semuanya merupakan pengalaman nyata, saya pikir tidak ada perbedaan yang mendasar antara pengalaman nyata dengan lelucon yang mereka sampaikan. Lelucon tersebut dapat kita anggap kasus-kasus hipotesis yang dapat dialami siapa saja dalam kehidupan sehari-hari, meskipun dengan kadar, nuansa, dan dalam konteks yang berbeda.

Bukankah kebanyakan dari kita sekali waktu pernah mengalami kesalahpahaman komunikasi yang konyol seperti itu?

*Deddy Mulyana

[1] P.R. Smith, Marketing Communications: An Integrated Approach, London: Kogan Page, 1993, hlm. 55.

[2] Soelaeman B. Adiwidjaja, “Sumber Kesalahpahaman”, Pikiran Rakyat, 13 Desember 1999.

[3] Gordon I. Zimmerman, James L. Owen, dan David R. Seibert, Speech Communication: A Contemporary Introduction, St. Paul: West, 1997, hlm. 17.

[4] Kompas, 14 November 1999.

[5] H. Thomas Hurt, Michael D. Scott, dan James C. McCroskey, Communication in the Classroom, Reading Massachusetts: Addison-Wesley, 1978, hlm. 6-10.

[6] Richard E. Porter dan Larry A. Samovar, “Approaching Intercultural Communication” dalam Larry Samovar dan Richard E. Porter, ed, Intercultural Communication: A Reader, edisi ke-3, Belmont, California: Wadsworth, 1982, hlm. 27.

Riwayat Buku
  • Judul: Ilmu Komunikasi; Suatu Pengantar
  • Penulis: Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D.
  • Penerbit: PT Remaja Rosdakarya, 2000
  • ISBN: 979-514-993-8