Imam Dua Belas

Imam Dua Belas
©Mesbar

Dalam Mazhab Syi’ah Imamiyyah, ada 12 (dua belas) Imam yang memberi petunjuk dan menggantikan Rasulullah saw sebagai pemimpin umat dalam masalah agama dan sosial. Mereka adalah:

  1. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s
  2. Hasan al-Mujtaba
  3. Husayn, Pemimpin Para Martir
  4. Ali Zainal ‘Abidin as-Sajjad
  5. Muhammad al-Baqir a.s
  6. Ja’far ash-Shadiq a.s
  7. Musa al-Kazhim a.s
  8. Ridha a.s
  9. Muhammad Taqi a.s
  10. Ali an-Naqi a.s
  11. Hasan al-‘Askari
  12. Mahdi atau Shahibuz Zqman, Muhammad bin al-Hasqn a.s

Sebelas Imam ini keturunan Rasulullah saw dari jalur Ali bin Abi Thalib (yang merupakan sepupu + menantu Rasulullah) dan Sayyidah Fatimah az-Zahro’.

Ali merupakan Khalifah Rasyidah keempat. Ia adalah teladan yang sempurna dalam hal ajaran-ajaran Rasulullah. Ali selalu menyertai Rasulullah dari masa kanak-kanak hingga terakhir beliau terpisahkan dari Rasulullah saat memeluk janazah Rasulullah sebelum dikuburkan.

Ali adalah samudra ilmu dan pengetahuan. Belajar langsung dari Rasulullah dari kecil hingga Rasulullah wafat. Oleh karenanya, Rasulullah menamainya Pintu Ilmu dalam sabdanya, “Ana madinatul ‘ilmi wa Aliyyu babuha, saya (Rasulullah) adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu kota ilmu itu.”

Hasan dan Husain

Kedua tokoh ini adalah putra Ali dan Fatimah. Hasan dan Husain merupakan cucu Rasulullah yang sangat ia cintai. Suatu hari Rasulullah bersabda tentang dua cucunya ini, “Kedua orang anakku ini adalah Imam, baik dalam keadaan berdiri ataupun duduk.”

Hasan meninggal dunia setelah istrinya sendiri yang bernama Ju’dah meracuninya. Ju’dah meracuni Hasan atas perintah Mu’awiyyah, Khalifah pertama dalam dinasti Umayyah.

Setelah Mu’awiyah meninggal dunia, anaknya yang bernama Yazid memimpin dinasti Umayyah. Yazid adalah orang yang licik, sombong, dan hidup penuh pesta pora dan sudah jauh dari manhaj Islam. Oleh karena itu, Husain tidak memberikan sumpah setia kepadanya.

Karenanya, Yazid membunuh cucu kesayangan Rasulullah ini dengan mengutus pasukannya, dan pasukan memerangi Husain beserta rombongannya yang terdiri dari putra-putranya, sepupunya, ponakannya, dan orang lain di padang Karbala. Tujuh puluh orang dari rombongannya tersebut terbunuh sebagai syuhada’ di tangan pasukan Yazid bin Mu’wiyah, Khalifah kedua dinasti Umayyah.

Baca juga:

Zainal ‘Abidin as-Sajjad, putra Husayn dan Zainab, saudari Husayn, lolos dari maut dan menjadi tawanan Yazid.

Dari Karbala, mereka yang masih hidup ini dikirim ke Kufah dan dari Kufah ke Damaskus bersama dengan kepala-kepala para syuhada yang telah terpotong dari jasad mereka, termasuk kepala Imam Husayn.

***

Ali Zainal ‘Abidin as-Sajjad yang menjadi saksi peristiwa tragis di Karbala, setelah bebas dari tahanan oleh Yazid, sebagai rezim Umayyah yang kejam ini, kembali ke Madinah.

Di Madinah, beliau menutup diri, menutup pintu rumahnya dari orang Astuting dan menyibukkan diri dengan ibadah dan mendidik para pengikutnya. Selama lebih tiga puluh tahun di Madinah, beliau hidup seperti itu.

Doa-doa yang biasa terpanjatkan beliau kumpulkan dalam sebuah buku yang bernama Shahifah Sajjadiyyah. Salah satunya sebagaimana terlampir:

Setelah as-Sajjad wafat, maka tugas keimamahan berada di pundak Muhammad al-Baqir.

Meskipun dinasti Umayyah mengawasi Muhammad al-Baqir secara ketat, beliau mampu menyebarkan ilmu yang ia warisi sebelumnya, mulai dari as-Sajjad hingga Ali bin Abi Thalib hingga tersambung ke Rasulullah dengan sukses kepada para ulama dan pengikutnya. Karena pada waktu itu dinasti Umayyah mengalami masalah intern dan kelemahan kepemimpinan.

Dinasti Umayyah runtuh dan dinasti Abbaiyah berdiri. Pengganti Muhammad al-Baqir ialah Ja’far ash-Shadiq.

Halaman selanjutnya >>>
    Latest posts by Abd Walid (see all)