IMM dan Kesadaran Kadernya

IMM dan Kesadaran Kadernya
©Sang Pencerah

Kesadaran atas rasa kepemilikan dan kecintaan terhadap IMM merupakan hal yang penting untuk ditanamkan di benak para kader.

Organisasi kemahasiswaan akan maju dan jaya tergantung daripada kader-kader yang akan menjadi pelanjut dari gerakan organisasinya. Karena pada prinsipnya kader ialah inti dari sebuah gerakan organisasi. Yang menggerakan organisasi menuju ke arah yang maju karena kadernya, sehingga perlu membanggakan diri menyandang gelar seorang kader di organisasi.

Banyaknya mahasiswa hanya sebagian saja yang diberi kesempatan oleh Allah untuk bergabung di organisasi. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai organisasi kader tentunya berharap banyak kepada seluruh kader yang aktif menggerakkan organisasi untuk selalu memikirkan hal yang terbaik untuk IMM. Bukan malah sebaliknya atau mengambil keuntungan pribadi dari nama IMM.

IMM sejak rumusan pendiriannya sudah banyak dititipkan harapan oleh para pendiri maupun oleh ayahanda di Muhammadiyah. Untuk benar-benar berjuang di medan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, menjadi pelopor organisasi mahasiswa Islam yang berahklak mulia, berjuang karena lillahi taala untuk kesejahteraan masyarakat (baca: enam penegasan IMM).

Dalam sebuah organisasi, tentunya tempat belajar dan tempat menghabiskan jatah kesalahan kita selama masih belajar. Itu merupakan salah satu doktrin senior yang membangun kesadaran seorang kader, agar jangan ragu dalam melaksanakan aktivitas sebagai anak organisasi.

Kesadaran Kepemimpinan

Sebagai seorang kader, memiliki kesadaran atas rasa kepemilikan dan kecintaan terhadap IMM merupakan hal yang penting untuk ditanamkan di benak para kader. Begitu pun dalam proses kepemimpinan IMM. Dalam setiap level pimpinan IMM, kesadaran untuk saling membesarkan dan saling dukung-mendukung harus ditunjukkan sebagai seorang kader dalam menjadi pimpinan.

Bukan malah sebaliknya, meninggikan ego, karena kalah dalam pemilihan ketua dan pimpinan sehingga masuk dalam satu kepengurusan, tujuannya hanya untuk menjatuhkan pimpinan yang lain. Hal demikian merupakan pola-pola yang dianut di luar IMM, yang kemudian dimasukkan ke dalam IMM karena kepentingan jabatan.

Pendek pengetahuan saya, di IMM dan ajaran para senior-senior seorang kader jangan kelihatan ambisi untuk mendapatkan jabatan di IMM. Namun konsepnya ialah, jika diberikan kesempatan, maka ambil amanah itu dan kerjakan dengan sebaik-baiknya. Bukan dengan melakukan penghasutan kepada kader, dan menjahtukan kader lainnya dengan berita bohong hanya karena mengejar jabatan di IMM.

Dalam setiap organisasi, pastinya akan memiliki dinamika masing-masing. Namun jika dinamika hanya selalu terkungkung hanya dalam internal, maka kita bukan malah mendekati kejayaan, melainkan mendekati kehancuran. Sebab, jika rumusnya terus-menerus seperti ini, kapan IMM akan mengurus kepentingan masyarakat, mengurus orang-orang lemah, mengurus ketidakadilan?

Maka kesadaraan seorang kader dibutuhkan, untuk bersama-sama saling membesarkan. Kesadaran ini bukan hanya kita yang berada dalam struktur organisasi, melainkan kader yang tidak masuk ke dalamnya harus lebih memiliki kesadaran terhadap perkembangan IMM. Jangan sebaliknya, ikut menghasut kader-kader lainnya untuk jangan mengikuti seorang kader yang tidak mau mengikuti kemauan mereka.

Seorang kader IMM harus intropeksi diri, apa yang sudah selama ini diberikan untuk IMM, ataukah selama ini kita banyak menjual nama IMM di luaran sana untuk kepentingan pribadi dan golongan atas nama pimpinan?

Kesadaran Kolektif

Jika kesadaran seorang kader dalam kepemimpinan sudah berjalan, maka selanjutnya kesadaran secara kolektif, dari semua unsur kader IMM, harus melebur menjadi satu tujuan. Apa itu?

Untuk mencapai tujuan IMM, seorang kader jangan mencampuradukkan ideologi IMM dan Muhammadiyah dengan yang lain, jangan menjadikan IMM yang kedua, apalagi karena ingin mencalon ketua BEM di kampus. Jangan jadikan IMM sebagai ladang untuk mencari uang, menjadikan IMM sebagai organisasi politik dan sebagainya.

Jika kesadaran kolektif seluruh kader IMM sudah mampu memetakan soal di atas, maka yakin dan percaya bahwa semboyan IMM jaya, abadi perjuangan, anggun dalam moral, unggul dalam intelektual dan menjadi akademisi Islam yang berahklak mulia sedikit demi sedikit akan kita capai.

Baca juga:

Kesadaran kolektif ini sangat perlu, melihat realitas yang ada, IMM seakan-akan terkotak-kotak di dalamnya dengan berbagai kepentingan. Sehingga dengan tidak adanya kesadaran ini membuat IMM hanya mampu besar di kandang tanpa hanya mampu mengurus internal, tanpa memedulikan yang lainnya.

Kesadaran kolektif ini pula yang dibutuhkan di semua level pimpinan, para pimpinan untuk bahu-membahu mengurus IMM dengan baik dan semmapu yang bisa dilakukan. Menekan ego agar tidak tampak di permukaan merupakan hal yang lebih baik dibandingkan meninggikan ego dan ingin kelihatan hebat di orang lain, tetapi sesungguhnya kita tidak memiliki konsep apa-apa.

Menjadi sangat penting kesadaran seorang kader IMM untuk benar-benar menjadi kader yang sejati. Jika hari ini kita masih merasakan banyak keurangan khususnya sebagai pimpinan, maka coba meluruskan kembali niat awal kita ber-IMM, niat untuk mengembangkan IMM, memajukan gerakan IMM.

Sebab hari ini IMM masih dibutuhkan oleh banyak orang untuk hadir sebagai pembeda, dengan gerakan tri kompetensi dasarnya yang menjadi profil seorang kader IMM yang bermartabat.

Asman