Implementasi Tri Kompetensi Dasar IMM di Masa Pandemi

Implementasi Tri Kompetensi Dasar IMM di Masa Pandemi
©Academic Indonesia

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan organisasi mahasiswa Islam yang bergerak di tiga ranah kehidupan manusia, yaitu religiositas, intelektualitas, dan humanitas. Ketiganya merupakan bagian penting yang berada pada organisasi IMM. Setiap kader IMM wajib menguasai tri kompetensi dasar tersebut untuk menunjang konsep gerakan dari organisasi ini.

Tri kompetensi dasar ini digagas dan dideklarasikan pada muktamar pertama IMM di Solo pada 1965. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan eksistensi IMM sebagai organisasi otonom dari Muhammadiyah untuk melanjutkan Gerakan dakawah amar ma’ruf nahi munkar. Yang terpenting ialah gerakan filantropi yang selama ini dilakukan Muhammadiyah dan ortom-ortomnya.

Hari ini keadaan negara kita sedang berada pada titik kekacauan diakibatkan pandemi yang belum usai. Muhammadiyah sudah banyak membantu bangsa ini, bahkan menerjunkan relawan untuk membantu meringankan beban masyarakat umum yang terdampak Covid-19.

Sebagaimana dalam Maarif Institute mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah harus menjadi contoh. Apalagi bantuan yang telah dikeluarkan sudah banyak bahkan miliaran rupiah sebagaimana kata Abdul Mu’ti Sekretaris Umum Muhammadiyah.

IMM sebagai ortom Muhammdiyah tidak sepatutnya hanya menjadi penonton dan bangga atas capaian yang dilakukan induk organisasinya itu. Sebab IMM juga memiliki gerakan sendiri yang harus dihidupkan dengan melihat semangat dari induk organisasinya.

Seharusnya, di masa pandemi ini IMM harus banyak terlibat membantu pemerintah dan masyarakat keluar dari persoalan Covid ini. Bukan malah sebaliknya, memperkeruh keadaan dengan tindakan melawan atau tidak mempercayai adanya Covid-19 ini. Hal ini tentunya mencederai tri kompetensi dasar IMM yang mengharuskan kder-kadernya harus memiliki intelektualitas yang tinggi, berdasarkan kajial ilmiah yang objektif.

Namun realitasnya masih ada kader IMM yang tidak peka dan ikut merasakan penderitaan masyarakat. Bahkan tanpa memiliki keilmuan berani mengatakan covid itu bagian dari konspirasi yang dibuat. Pemikiran ini tentunya berbeda dengan induk organisasi ini, yaitu Muhammadiyah. Sebab Muhammadiyah sejak awal pandemi sudah banyak ikhtiar untuk melakukan perbaikan atas masalah umat ini.

Implementasi Tri Kompetensi

Seharusnya kader IMM di mana pun berada harus mampu mengimplementasikan tri kompetensi dasar tersebut. Agar kahadiran IMM di dunia bisa dirasakan oleh banyak umat.

Apa yang dilakukan oleh IMM Yogyakarta, bisa dijadikan contoh, selain mengkritik mereka juga menghadirkan solusi bagi bangsa ini, dengan gerakan saling membantu. Dengan kata lain kader IMM harus mampu memadukan kekuatan religiositas atau akidah atas kepercayaan terhadap ketentuan Allah, yang juga sudah banyak diberikan contoh oleh Rasulullah.

Dalam pengilmuan Islam dengan menggunakan pendekan Burhani atau kebenaran teks. Kader IMM perlu mempercayai bahwa covid ini merupakan bentuk musibah dan teguran dari Allah Swt untuk kita selalu bermuhasabah diri serta mempercayai kebenaran ajaran Al-Quran.

Intelektualitas sebagai kompetensi kedua dalam IMM penting adanya untuk bisa menjawab semua persoalan ini. Dengan pengetahuan yang dimiliki kader IMM harus mampu melihat sisi keilmuan dari adanya pandemi ini. Kajian secara ilmiah merupakan rujukan yang utama dibandingkan dengan perkataan orang yang belum jelas asalnya.

Sedangkan kompetensi yang ketiga ialah humanitas. Kader IMM melihat pandemi ini seharusnya bisa terbangun dari keterpurukan untuk bisa hadir di tegah masyarakat yang sedang kesusahan. Melalui bidang sosial dan pemberdayaan masyarakat, atau bekerja sama dengan lembaga amil zakat Muhammadiyah untuk melakukan gerakan-gerakan yang bisa meringankan beban masyarakat yang kehilangan pekerjaan ataupun yang tidak bisa mendapatkan makan dan sebagainya.

Saya pikir jika hal ini dilakukan dan adanya kesadaran kolektif semua kader, maka cepat atau lambat pandemi ini akan segera berakhir dan masyarakat kita menjadi kuat untuk menghadapi realitas ini. Sebagaimana perintah Allah dalam surah Ali Imran 104, “sekiranya ada segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada keburukan dan itulah orang-orang yang beruntung.” Kader IMM tidak boleh melupakan ayat ini, sebab ayat inilah yang menjadi spirit gerakan dakwah IMM.

Di masa pandemi ini, seharusnya tri kompetensi dasar ini bisa diimplementasikan dan bisa dijadikan sebagai bagian dari solusi IMM untuk membantu bangsa ini. Sudah saatnya menghilangkan budaya mengkritik tanpa solusi.

Jikapun kader IMM mengkritisi kebijakan pemerintah, seharusnya dibarengi dengan solusi. Dan saya berhipotesa bahwa tri kompetensi dasar IMM bisa menjadi solusi dari persoalan yang ada. Tinggal kesadaran itu saja yang perlu kita gerakkan dan dibuktikan dengan tindakan.

Gerakan Filantropi IMM

Gerakan filantropi ialah gerakan yang dilakukan karena didasari kecintaan atas sesama manusia yang dibarengi dengan nilai kemanusiaan tinggi. Memberikan sumbangsih, baik berupa uang, waktu, tenaga, dan sebagainya, merupakan bagian yang sangat penting dilakukan.

Kader IMM dengan gerakan filantropi pastinya bisa diajdikan sebagai rujukan untuk mengeluarkan umat manusia dari persoalan pandemi ini. Sudahi saling tuduh-menuduh, menyalahkan serta tidak memberikan solusi apa-apa dari persoalan ini. Jadi tri kompetensi dasar IMM ini, tidak ada nilainya jika hanya dirasakan dan dimiliki hanya oleh kader IMM saja, melainkan harus dirasakan oleh semua masyarakat di sekitar kita sebagai kader IMM.