Independensi Fraksi KAHMI; Catatan tentang Keterwakilan dan Kepentingan Pilpres

Ini kebetulan yang baik. KAHMI terjaga. Semua perwakilan ada. Ya, inilah “Fraksi KAHMI” yang disinggung Prabowo itu dalam ceramahnya kemarin. Soal PPP dan partai lain tidak ada perwakilannya, karena memang tidak mencalonkan diri saja. Munas sebelumnya, kader HMI di PPP ada yang mencalonkan diri; Fadly Nurzal.

Sebagian tidak mmenerima istilah kebetulan”, tapi takdir. Apapun itu, ini cara Tuhan menjaga dan mengingatkan KAHMI agar benar-benar di tengah “rel” perjuangan dan tujuan HMI berdiri: “terbinanya insan akademis pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang dirihoi Allah subhanahu wata’ala.”

Rasanya sudah “clear” ya. KAHMI benar-benar tegak di tengah sebagai organisasi independen. Jadi, jangan ragu dan khawatir lagi. Yang paling penting menjaga dan memperkuat bingkai kemajemukan dan misi keislaman-keindonesiaan; Islam – Indonesia sebagai satu kesatuan sebagai semangat membangun Indonesia bersama-sama seluruh elemen bangsa yang ragam latarnya.

Keragaman politisi di presidium KAHMI, tentu Рdan mestinya Рakan menjaga jarak yang sama terhadap kepentingan:  politiknya akan menganut equal distance.

Misi “HMI connection” yang diterjemah melalui pengabdian KAHMI itu tidak sempit untuk kepentingan keluarga besar alumni saja, tapi untuk seluruh anak bangsa dan ibu pertiwi. Ini yang sering dilafalkan sebagai “rahmatan lil alamin”, rahmat untuk semesta alam. Begitulah doktrin HMI tentang ber-Islam, ber-Indonesia, ber-semesta.

Jadi, kalau ada pertanyaan alumni HMI secara lembaga akan mendukung siapa dalam Pilpres nanti? Tentu beragam. Posisinya akan ada di mana-mana tapi tidak ke mana-mana. Kalau pilihan pribadi-pribadi: itu kembali ke pribadi. Selebihnya, KAHMI tentu piawai menjaga semuanya. Karena kepentingan bangsa harus diutamakan dan diperjuangkan demi masyarakat adil makmur seperti tujuan HMI.

Baca juga:
Samsir Pohan