Indonesia Kehilangan Pejuang Islam Wasathiyah Yang Tercerahkan

Dwi Septiana Alhinduan

Dalam semburat senja yang menutupi cakrawala Indonesia, sebuah kehilangan menciptakan kerinduan. Kehilangan itu bukan sebatas individu, melainkan gelombang dari pemikiran dan perjuangan yang telah mewarnai perjalanan sejarah bangsa ini. Islam Wasathiyah, yang dalam pengertian luas merujuk pada sikap moderat dan adil, kini terancam menguap dalam riuhnya kerasnya narasi ekstremis. Dalam konteks ini, kita tak hanya bicara tentang keyakinan, tetapi juga tentang jiwa bangsa yang harus hilang dalam deru perubahan zaman.

Pengantar masuk ke dalam dunia Islam Wasathiyah membawa kita pada sebuah narasi yang tidak hanya religius tetapi juga kultural. Wasathiyah menggambarkan sebuah jembatan antara dua kutub yang berlawanan. Seperti dua sisi mata uang, dia menawarkan perspektif yang seimbang. Sayangnya, dengan munculnya berbagai ideologi yang lebih radikal, jembatan ini mulai retak. Kita lihat, bagaimana seminar-seminar keagamaan yang dulunya ramai didiskusikan kini menjadi sepi, ditinggalkan oleh pejuang-pejuang yang sepenuh hati memperjuangkan prinsip moderasi.

Di pangkal jalan yang remang-remang ini, mari kita tengok sosok-sosok yang pernah menjadi cahaya dalam kegelapan. Seperti pelita di malam yang kelam, mereka adalah para pemuka yang tidak hanya mengajarkan nilai-nilai agama, tetapi juga etika dan tanggung jawab sosial. Figur seperti Nurcholish Madjid, yang dikenal dengan pemikiran progresifnya, menjadi salah satu simbol yang sangat dihargai dalam Islam Wasathiyah. Dalam karyanya, ia menekankan pentingnya rasionalitas dalam beragama dan menolak radikalisme.

Namun, dunia Islam di Indonesia tidak melulu diwarnai oleh wajah-wajah yang memberikan pencerahan. Para pemikir moderat kini seperti penari di atas panggung yang mulai kehilangan sorotan. Mereka terdesak oleh suara yang lebih keras, yang penuh semangat tetapi mengarah pada sikap intoleransi. Kendati demikian, pejuang-pejuang ini masih ada, meski keberadaan mereka kian membayangi masa depan. Mereka menjadi bukti bahwa perubahan tidak selalu membawa kebaikan, dan bahwa suara moderasi sangat diperlukan di tengah gejolak.

Pergulatan antara moderasi dan ekstremisme dapat dianalogikan dengan pertarungan antara dua aliran sungai. Satu sungai mengalir tenang, menjaga ekosistem dan memberi kehidupan. Sementara itu, sungai yang lain, meskipun deras dan berenergik, sering kali membawa rasa takut dan kebencian. Di sinilah tantangannya, bagaimana menjaga arus yang seimbang agar kedamaian dapat mengalir tanpa terhalang oleh kekerasan.

Belakangan ini, kita menyaksikan beberapa pergeseran dalam discourses publik. Banyak institusi pendidikan Islam yang sebelumnya menerapkan kurikulum moderat kini mulai terpengaruh oleh ideologi yang lebih ekstrem. Sekolah-sekolah yang dulunya mengajarkan keadaban, etika, dan kebijaksanaan kini menghadapi tantangan untuk tetap teguh di jalur Wasathiyah. Ini adalah titik kritis di mana kita bisa memahami bahwa tantangan untuk memelihara moderasi butuh lebih dari sekedar retorika; dia membutuhkan tindakan nyata.

Saat ini, berbagai organisasi kemasyarakatan, baik lokal maupun internasional, berupaya menyebarluaskan paham moderat ini. Mereka mengadakan pelatihan, seminar, dan dialog antaragama untuk merangkul berbagai elemen masyarakat. Namun, dalam perjalanan ini, tantangan besar dihadapi—misalnya adanya budaya yang menolak dialog dan lebih memilih untuk memisahkan diri dalam kotak-kotak identitas. Inilah saatnya bagi setiap elemen masyarakat, mulai dari pemuda hingga orang tua, untuk ikut berkontribusi dalam menciptakan ekosistem yang subur bagi Islam Wasathiyah.

Dengan genapnya tahun-tahun yang berlalu, peta jalan untuk masa depan tetap harus digambarkan dengan benang emas moderasi. Apakah kita akan melangkah ke depan dengan keberanian untuk menggunakan alat-alat yang dimiliki umat Islam? Ini adalah saat yang krusial bukan hanya bagi masyarakat Muslim, tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia. Keberagaman harus menjadi aset, bukan hambatan.

Kita harus terus merawat semangat moderasi ini, seperti merawat tanaman di tengah cuaca yang tidak menentu. Kuncinya adalah menjaga agar tanah tetap subur, memberi pupuk yang tepat, dan melindungi dari hama-hama yang mengancam. Modus operandi ini memerlukan kolaborasi semua pihak, dari pemuka agama, pendidik, hingga masyarakat sipil. Kesadaran kolektif dapat menjadi cermin bagi generasi mendatang, sebagai upaya untuk menjamin bahwa jasa para pejuang Islam Wasathiyah yang tercerahkan tidak akan sia-sia.

Diakui, perjalanan panjang ini bukanlah hal yang mudah. Namun, pelajaran yang dapat diambil adalah harapan. Bahwa jika kita bersatu dan berkomitmen untuk memperjuangkan prinsip-prinsip moderasi, maka cahaya yang pernah redup dapat menyala kembali. Kini adalah saatnya untuk kebangkitan, untuk menjadi pejuang keadilan, untuk mengukir sejarah baru di tengah badai intoleransi yang terus melanda.

Related Post

Leave a Comment