Indonesia Masih Ada Harapan

Indonesia Masih Ada Harapan
©Kompasiana

Indonesia masih ada harapan. Berikan waktu untuk maju.

Nalar Warga – Saya tidak mendukung protes dengan kerusuhan di Papua Barat dan Papua. Bukan karena faktor nasionalisme, tetapi kenyataan rasional bahwa jika tindakan itu dilanjutkan akan terjadi korban-korban lebih luas. Dan bahwa jika provinsi itu memisahkan diri, saya yakin tidak akan lebih baik.

Bahkan di Papua Barat, ada potensi terjadinya pertikaian horizontal. Mendirikan negara sendiri bukan selalu berarti situasi akan lebih baik.

Dan lagi pula, tanpa Papua, provinsi-provinsi lain di Indonesia juga akan berisiko memisahkan diri. Terjadi balkanisasi.

Bahkan tanpa nasionalisme sekalipun, kita bisa mengerti bahwa kita sudah membuat investasi besar dalam kegiatan nation building selama berdekade-dekade. Sudah ada kesamaan sejarah, kesamaan kesenangan, bahkan ada kesamaan bahasa yang digunakan.

Jangan terlalu cepat membuang aset-aset berharga ini hanya untuk kekesalan sesaat. Kecuali kalau memang warganya diminta untuk mengabdi pada sistem hukum lain, misalnya jadi khilafah. Selama masih hukum nasional, Indonesia masih ada harapan.

Kita harus sadar, Indonesia itu entity artificial; terjadi karena dipersatukan oleh Hindia Belanda. Negeri ini bukan negara kebangsaan homogen seperti Korea atau Jepang. Karena sifatnya pluralistik itulah kita harus lebih keras berjuang mempertahankannya. Kalau tidak, semua bercerai.

Ok, mungkin saya juga menuliskannya karena faktor sentimental, bahwa Indonesia masih ada harapan. Berikan waktu bagi Indonesia untuk maju.

*Mentimoen