Industry Brand, Merusak atau Menambah Lifestyle Generasi Muda?

Industry Brand, Merusak atau Menambah Lifestyle Generasi Muda?
©Forka

Industry Brand, Merusak atau Menambah Lifestyle Generasi Muda?

Saat warga negara sedang sibuk menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan, tanpa sadar dan berkelanjutan membeli sesuatu tanpa pertimbangan, dan disertai dengan respons emosi yang kuat.

Pembelian barang yang hanya didasari oleh keinginan dan tidak mempertimbangkan kebutuhan, di saat itulah  masyarakat kelas sosial rendah, tanpa kekayaan membentuk garis pertahanan untuk melindungi perekonomian dalam bidang atau kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan pengolahan bahan baku atau pembuatan barang jadi di pabrik dengan menggunakan keterampilan dan tenaga kerja.

Dengan iman dalam konsumsi bisa melebihi impulsif konsumsi. Kaum konsumerisme diolah sebagai aset target yang paling berharga. Kaum kapitalis membabtis proletar untuk digunakan sebagai anggota atau pion dari nafsu liga strata sosial

Hal ini disebabkan namanya manusia pasti tidak bisa lepas dari yang namanya aktivitas konsumsi, karena manusia selalu perlu sandang, pangan dan tempat tinggal hanya untuk bertahan di era industri ini. Seiring dengan  yang namanya perkembangan zaman pastinya ada perubahan yang terus terjadi, seperti modernisasi.

Modern di sini bisa dikatakan suatu bentuk dari perubahan yang bisa terjadi pada manusia dan terjadi konsumerisme. Konsumerisme di sini merupakan perilaku dari konsumsi yang sangat berlebihan dan irasional yang biasanya mendahulukan keinginan atau ego daripada kebutuhan yang mendesak dengan tidak memprioritaskan manfaat dari suatu barang tersebut, dalam hal ini manusia pasti cenderung kepada sifat boros, dan pengakuan diri.

Media sosial dan marketplace memungkinkan para pelaku usaha untuk berinteraksi dengan baik antar sesama produsen, konsumen maupun calon konsumen. Media sosial dan marketplace sebagai sarana digital marketing tool dapat meningkatkan penjualan. Salah satu marketplace yang banyak digandrungi oleh masyarakat adalah Shopee.

Selain marketplace teknologi informasi berbasis media sosial makin memperkuat posisi bisnis dalam memenangkan persaingan di era Industri 4.0. Melalui media sosial perusahaan dapat menjangkau konsumen secara luas tanpa terbatas oleh ruang dan waktu/real time. Salah satu media sosial yang populer dan memudahkan produsen dalam memasarkan produk adalah Instagram.

Industri sekarang ini diibaratkan sebagai medan pertempuran bagi produsen yang bergerak dalam komoditas sejenis. Strategi iklan dan faktor konsumerisme harus disusun secara efektif dan efisien, yang diawali dengan cara menganalisis kekuatan dan kelemahan dari pesaing agar bisa melahirkan citra-citra yang bisa menarik masyarakat serta pasar sehingga konsumen mempunyai minat untuk membeli.

Baca juga:

Dengan iklan yang merupakan alat fundamental bagi sebuah perusahaan yang dirancang secara khusus guna mencapai tujuan perusahaan dengan meningkatkan keunggulan bersaing yang dapat digunakan untuk melayani pasar sasaran.

Dalam konteks ini gaya hidup konsumerisme menonjol masuk dan mengakibatkan kiblat pada konsep manusia tentang gaya hidup berubah. Konsumerisme tampil seperti Hegel yang menawan, tetapi di sisi lain menghasilkan kegelisahan dan kecemasan seperti halnya Karl Marx.  Konsumerisme bisa mengubah sebuah pemikiran adagium tua Cartesius cogito ergo sum (pikiran saya membuat ada) menjadikan pandangan consummo ergo sum (passion hidup adalah saya).

Di era ini seperti ada portal yang berkembang agar kita bisa mendapatkan informasi dengan cepat. Hal tersebut pasti berdampak pada perubahan media iklan, cara memasarkan sesuatu, dan megahnya fitur dunia sosial. Dalam hal ini bisa membuat periklanan dan penjualan dari suatu produk akan lebih lebih mudah.

Biasanya kita dituntut untuk bisa beradaptasi dalam realitas yang sureal ini dan masifnya skenario di industri modern ini bisa diatasi dengan strategi pemasaran yakni dengan memanfaatkan periklanan.

Jika ditinjau dari aspek filsafat iklan akan merujuk pada pertanyaan Esther Thorson dan Shelly Rodgers, yang mana dia mengatakan “apakah kegunaan dari iklan dan aspek utilitas seperti apakah yang terkandung di dalamnya?”. Hal ini secara gamblang bisa dielaskan dengan empat faktor.

Kesatu, untuk sarana menciptakan sebuah teori-teori dan dogma-dogma tentang sebuah brand di dalam cara berpikiran konsumen. Kedua, untuk tempat melahirkan citra-citra yang bisa menarik masyarakat serta pasar sehingga konsumen mempunyai minat untuk membeli. Ketiga, bisa digunakan untuk sarana yang menggaet para konsumerisme untuk menggambil keputusan membeli salah suatu produk sesuai dengan merek yang diiklankan kepada mereka.

Terakhir, sebagai dogma untuk mengubah perilaku kehidupan para pelanggan misalnya dengan kita meniru menurunkan berat badan, memperhatikan dan memelihara suatu bentuk kesehatan dan keindahan gigi.

Dapat ditarik kesimpulan industri sekarang ini diibaratkan sebagai medan pertempuran bagi produsen yang bergerak dalam komoditas sejenis. Strategi iklan dan faktor konsumerisme harus disusun secara efektif dan efisien, yang diawali dengan cara menganalisis kekuatan dan kelemahan dari pesaing agar bisa melahirkan citra-citra yang bisa menarik masyarakat serta pasar sehingga konsumen mempunyai minat untuk membeli.

Halaman selanjutnya >>>