Ingat, Usia Gak Pernah Bohong

Ingat, Usia Gak Pernah Bohong
Prabowo Subianto saat merayakan pencalonan presiden

Nalar Warga – Waktu Muhammad Ali memutuskan nekat bertarung dengan Larry Holmes, sebagai fansnya, asli gue sedih. Masalahnya usia Ali sudah tua, sudah gemuk, dan gombyor. Gak mungkin dia bakal selincah dulu.

Gue yakin Ali bakal kalah. Karena waktu masih jaya aja dia pernah empat kali kalah.

Gue sebetulnya gak kepingin nonton. Tapi gak bisa. Maka, selama nonton, gue terus berdoa sambil sesekali ngedumel sama orang-orang di sekelilingnya yang membiarkan Ali naik ring di usia yang sudah gak muda lagi.

Betul aja. Malapetaka itu terjadi, Larry Holmes berhasil mengalahkan Muhammad Ali di arena Las Vegas, Oktober 1980. Ali gak berkutik hingga pelatihnya Angelo Dundee melemparkan handuknya di akhir ronde ke-10. Kemenangan itu membuat Holmes menganggap dia lebih hebat ketimbang peraih juara dunia tiga kali tersebut.

Begitu juga dengan Presiden RI kedua, Soeharto. Pak Harto merupakan presiden yang paling lama menjabat, hingga 32 tahun. Bayangin. Soeharto kembali dipilih dan dipilih lagi menjadi presiden oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, lewat Pemilihan Umum yang berlangsung selama 6 kali, pada tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. (Terlepas dari semua itu konon rekayasa, ya).

Namun, mantan ajudan Pak Harto di periode terakhirnya, Sumardjono, pernah bilang, Pak Harto sebetulnya gak mau dicalonkan lagi jadi presiden. Bahkan, menurut Sumardjono, pada 1995, beliau hingga berkali-kali bilang gak ingin dicalonkan lagi.

Rupanya pernyataan Soeharto dianggap cuma buat ngetes reaksi masyarakat. Karena faktanya Pak Harto mengatakan dirinya sudah TOP (tua, ompong, dan peot).

“Keinginan untuk tidak lagi dicalonkan sebagai presiden sungguh-sungguh keluar dari sanubari beliau,” cerita Sumardjono, lho.

Tapi rupanya pernyataan Pak Harto ditanggapi serius. Partai-partai politik dan Mabes TNI rupanya masih menginginkan Pak Harto. Bahkan Ketua Umum Golkar zaman orba, Harmoko, yang juga terus mendorong-dorong dan bisa-bisanya meyakinkan Pak Harto bahwa rakyat masih menghendaki kepemimpinan beliau.

Pak Harto yang sudah sepuh itu pun ge-er. Bener enggaknya kehendak rakyat, mana dia tahu. Faktanya, setelah terpilih, negara kolaps dan 1998 kekuasaan Pak Harto ambruk di tangan rakyatnya yang kata Harmoko masih menghendaki dia. Dan Harmoko pun menghilang dari peredaran.

Begitu juga Ketum Gerindra Prabowo. Setelah dikabarkan oleh adik kandungnya sendiri gak bakal nyapres mengingat usia dan kesehatannya, ternyata orang-orang di sekelilingnya gak peduli. Prabowo pun dipanas-panasin dan disanjung-sanjung pula kayak zaman mantan mertuanya dulu.

Beda

Beda dengan Pak Harto yang sudah berkali-kali jadi presiden, wajar kalo kepikiran mundur biar bisa hidup tenang. Atau Ali yang sudah berkali-kali juara dunia, wajar kalo sudah waktunya istirahat dari bertinju.

Tapi Prabowo beda. Dia sudah dua kali gagal nyapres. Jadi, begitu ada yang meyakinkan untuk ketiga kalinya bahwa dia masih gagah dan kuat, apalagi belum pernah jadi presiden, darah muda di dalam fisiknya yang tua bangkit lagi. Kayak Ali yang yakin bisa meng-KO Holmes yang secara fisik lebih muda dan fit.

Maka ketum Gerindra Prabowo Subianto pun menyatakan siap maju capres di Pilpres 2019. Yang menurut gue agak berlebihan, Prabowo pun diarak dengan bertelanjang dada dan dipanggul oleh para kader saat penutupan Rakornas Gerindra malam itu.

Dan dalam momen itu, Prabowo terlihat dipanggul oleh sejumlah kader Gerindra dengan semangat. Prabowo bahkan mengayun-ayunkan tangannya sambil mengikuti alunan musik lagu ‘Sajojo’. Sementara itu, para kader di sekeliling Prabowo terlihat mengepalkan tangan tanda antusiasme mereka.

Gue gak tahu mesti bilang apa. Sedih atau kasihan. Masalahnya, dia bukan saudara gue yang perlu gue ingetin. Moga-moga aja Prabowo gak dibohongi kadernya kayak Pak Harto dulu. Moga-moga aja Prabowo nasibnya gak kayak Muhammad Ali yang sok kuat sampai gak mengindahkan usia dan kesehatannya.

Beda dengan Jokowi yang berprinsip “menang gak untung kalah gak rugi”, Prabowo “menang harus untung, kalah bisa gigit peci”.

Sekarang, menurut gue, inilah saatnya para kader dan pendukung Prabowo jangan cuma sibuk mencari kelemahan dan menjelek-jelekkan Jokowi, tapi juga harus mulai sibuk menunjukkan prestasi, program, dan kehebatan jagoanmu. Yakinkan bangsa Indonesia bahwa dia layak memimpin negeri ini. Sebagai mantan prajurit sejati, menanglah dengan cara kesatria. Jangan mengulangi cara-cara pilkada di … Ah, sudahlah.

*Ramadhan Syukur

___________________

Artikel Terkait: