Ingin Jadi Tuhan?

Ingin Jadi Tuhan?
©Shutterstock

Orang ingin jadi Tuhan, yang bisa dengan segala kemahatahuannya mengeklaim sana-sini, kebenaran itu milik siapa dan siapa yang berhutang terhadap siapa.

Hampir pasti orang sulit (atau bahkan tidak mampu) bertemu Tuhan secara empirikal; memegang tangannya atau menyentuh kulit misalnya. Namun, sulit juga meyakinkan sebagian orang bahwa Tuhan tidak ada.

Mengapa harus meyakinkan orang? Setidaknya alasan klasik ini; karena Tuhan tidak bisa disentuh, dijamah, dilihat (menurut sebagian orang, Tuhan bisa dilihat oleh beberapa orang yang punya pancaindra keenam) tetapi orang bisa “mabuk” saat terlalu beriman penuh dan tidak ingin “digugat” karena hal-hal yang kurang baik dan benar. Juga sulit sekali untuk meyakinkan orang-orang ateis bahwa Tuhan sungguh ada. Tuhan, kendati ingin dilenyapkan maupun diyakini ada, ia toh tetap diperdebatkan.

Boleh jadi, Tuhan itu dirasakan lalu diperdebatkan. Mungkin. Perdebatan itu bahkan menjadi sumber problem. Klaim-klaim muncul. Tuhan yang saya percaya adalah Tuhan yang benar. Orang-orang yang menyembah Tuhan yang lain, patut dilenyapkan. Karena itu, membunuh orang lain misalnya bisa jadi dianggap suatu kebajikan.

Ini berlaku bagi orang yang tidak punya semacam keterbukaan pada kebenaran, dan lalu menganggap diri Tuhan, mengibarkan panji kebesaran di atas menara gading agama. Ya agama! Tapi mengapa agama ya? Apakah agama telah membius kita?

Di dunia ini, agama-agama berseliweran. Agama adalah wadah untuk menampung orang-orang yang punya keyakinan terhadap Tuhan. Orang masuk dalam agama tertentu, dan meyikini Tuhan secara “tertentu” juga. Tuhan di pikiran mereka adalah ada. Dia bereksistensi. Dia ada untuk menolong saya atau membuat hidup saya lebih bermakna.

Agama, hemat saya, membuat seseorang beriman secara lebih spesifik; percaya kepada Tuhan mana dan Tuhan macam apa. Orang kemudian “bergantung” pada agama dan pada apa yang ia yakini. Orang mendalami seluruh ajaran agamanya dan berusaha kuat untuk mengamalkan apa yang diajarkan agama.

Namun, semakin orang mengamalkan ajaran agama, semakin orang “haus” akan kebenaran. Orang selalu mencari pemaknaan yang baru sesuai konteks kehidupan. Itulah, sering disebut; orang yang bertuhan selalu meredefenisi makna kepercayaannya. Orang mencari tanpa henti. Mencari makna maksudnya, kendati acap kali ia mungkin bingung bagaimana harus berbuat. Ia bisa terjebak pada ektrim-ekstrim yang tidak dikehendaki. Orang terus mencari; ia sendiri boleh jadi tidak mengenal lagi dirinya sebagai pencari (seekers).

Agama dapat saja disebut sebagai lembaga moral untuk “mengikat” manusia. Ia mengikat karena Tuhan mewahyukan suatu ajaran yang dianggap baik dan benar; mengarahkan manusia kepada suatu harapan akhirat. Relasi dengan Tuhan dengan demikian selalu menjadi relasi vertikal; Tuhan yang maha dan manusia yang “biasa”, Tuhan yang berkuasa dan manusia yang terbatas. Hanya dengan relasi itu, Tuhan diakui sebagai Tuhan.

Selebihnya, hubungan horizontal, katakanlah antara sesama ciptaan, selalu merupakan suatu upaya mem-personifikasi Tuhan; menghidupkan Tuhan, mengakui (entah sebagian atau penuh) bahwa di dalam diri “yang bukan aku”, ada Tuhan yang senantiasasa bersemayam. Jadi, hubungan dengan Tuhan selalu in se hubungan vertikal dan hubungan antar-manusia hanya suatu “rakitan” konseptual akan Tuhan yang “bersemayam”, Tuhan yang bersolider, katakanlah.

Hemat saya, konsep ini tidak sepenuhnya diterima. Kita tidak secara pasti yakin bahwa semua agama tidak serta-merta menjadikan sesamanya bukan sebagai medium untuk mengamalkan kebajikan agamanya. Tidak sepenuhnya! Ada agama/kepercayaan parsial (atau mungkin tafsir yang keliru terhadapnya) yang menghalalkan membunuh orang.

Baca juga:

Okelah, kalau sebagian orang mungkin tidak mengakui secara penuh, tetapi sejumlah aksi terorisme cukup membuktikannya. Para teroris itu selalu punya latar belakang konseptual untuk melenyapkan sesama. Entah alasan berlatar belakang tekstual ajaran agama tertentu, entah karena usaha membalas, katakanlah sejarah kelam yang membelenggu kelompok tertentu. Selalu saja, dimulai dengan suatu latar konseptual-“sejarah pikiran”.

Orang berbuat, karena berpikir tentang sesuatu yang ada “di depan dan belakangnya”, pasca ia melenyapkan sekelompok orang yang tidak tahu apa-apa misalnya, orang yang tidak berdosa. Ia berpikir tentang surga yang empuk, ia ingin membalas apa yang telah orang lain perbuat.

Namun, ini persoalan yang sangat kompleks. Yang meneror boleh saja dinakhodai oleh pihak yang merasa tidak didengarkan secara politis. Kita tentu tidak mampu menutup mata dengan aspek kehidupan yang luas ini, yang darinya orang boleh saja memutuskan untuk melenyapkan yang lain. Himpitan ekonomi misalnya. Atau persoalan politik skala lokal maupun global yang menumpas sebagian orang. Mereka kemudian merasa sebagai “kelompok kalah” yang patut membangun instansi “bawah tanah” secara senyap dan profesional untuk menghantam pihak yang dirasa telah mensubordinasi mereka.

Namun, saya tak ingin menganalisis lebih jauh. Cukup. Kembali pada keinginan jadi Tuhan. Apakah ada peluang, agama menjadikan manusia menganggap diri besar dan karena itu berkuasa atas kebenaran?  Bisa saja.

Agaknya cukup dilematis antara mengatakan bahwa “tuhan tidak perlu dibicarakan/diperdebatkan” dan mengatakan bahwa agama menjadi corong perdamaian semua makhluk hidup di dunia ini. Sangat dilematis. Agama, dalam kenyataannya masih menjadi dasar pijak problem-problem kemanusiaan.

Namun, saya tetap mengatakan bahwa, dari agama, orang juga bisa berbuat baik karena merasa hidup ini merupakan investasi untuk akhirat. Agama bisa merangkum suatu nilai yang semua kita terima sebagai “yang patut” dilakukan. Kita insyaf, andaikata agama tidak ada, segala sesuatu bisa dilakukan, termasuk kejahatan. Agama membius kita sekalian ini untuk berbuat yang benar.

Hari-hari ini, entah sadar atau tidak (saya coba menyadarkan), agama sering menjadi sumber benturan. Mungkin lebih tepatnya bukan agama, melainkan orang-orang beragama. Benturan yang saya maksud ialah bahwa orang ingin melampaui apa yang ia percaya; orang ingin jadi Tuhan, yang bisa dengan segala kemahatahuannya mengeklaim sana-sini, kebenaran itu milik siapa dan siapa yang berhutang terhadap siapa.

Orang-orang ini, hemat saya, mempraktikkan suatu “orgasme beragama”, suatu kondisi puncak yang membuatnya gemetar nikmat, sekaligus membuatnya buta melihat Tuhan dalam diri sesamanya.

Kadang benar, bahwa orang yang telah mencapai puncak nikmat akan kehilangan kendali. Ia sulit berpikir ulang. Ia merasa nikmat kalau menghujat orang dan menganggap rendah orang. Sekali lagi, di kepalanya belum tentu ia berpikir bahwa Tuhan itu ada dalam diri sesama. Lebih-lebih ia tidak sadar bahwa Tuhan ada dalam dirinya. Mungkin ia sadar tapi ia telah dimabukkan oleh doktrin, berikut menghancurkan dirinya sendiri. Ia menghancurkan Tuhan!?

Lalu bagaimana kira-kira saya meyakinkannya dan menjamin bahwa dia menerima penjelasanku? Rupanya sulit. Belum tentu. Taraf akademisku masih merangkak ketimbang orang-orang itu. Bukan siapa-siapa. Anonim ya! Orang-orang itu.

Baca juga:

Kira-kira begini; kalau Tuhan itu melampaui saya, saya bukanlah siapa-siapa. Saya sama dengan sesama saya yang lain; terbatas dalam ruang dan waktu. Terbatas pengetahuanku (karena itu saya yakin bahwa ada orang yang melampauiku). Saya tidak bisa seperti Tuhan (kendati ingin jadi Tuhan). Tidak bisa. Tuhan itu maha.

Lalu saya dengan berani memaklumkan bahwa orang-orang itu kafir, padahal jelas-jelas mereka ber-Tuhan. Saya dengan lantang menyerukkan agar manusia harus mengikuti apa yang saya ajarkan. Saya mengumbar kebencian? Mungkin. Kalimat hinaan itu menggumpal jadi luka. Saya melukai Tuhan.

Siapakah saya, sehingga menyebut diri nabi atau menganggap yang lain kafir? Dunia bernama Indonesia ini, hemat saya, masih sibuk dengan problem ini. Orang berkutat pada kata-mengatai agama, kepercayaan yang sebenarnya (hanya) melekat pada manusia.

Agama itu “pakaian” yang dikenakan. Agama itu aksesoris yang kita punya dan pilih. Aksesosioris itu tidak harus menjadi sumber kita bertengkar, mengumbar benci. Rasanya sedih dan naif kalau kita bertengkar tentang aksesori dan melupakan hal yang paling mendasar dari kemanusiaan; perdamaian, keadilan, persaudaraan, kasih. Kita telah membabtis diri sebagai Tuhan, toh kendati Tuhan mungkin tidak menganggap diri “maha”.

Agama mejadi sumber problem, ketika orang-orang beragama berlomba-lomba jadi Tuhan. Jadi Tuhan yang saya maksudkan ialah selalu mengklaim diri benar kendati Tuhan belum tentu seperti itu.

Dunia bernama Indonesia masih sibuk berdebat tentang aksesori bernama agama, sedangkan di belahan bumi lain orang berlomba-lomba mengejar prestasi untuk hidup yang “sekarang dan saat ini”. Kebenaran di dunia selalu tidak paripurna. Mengapa? Kehidupan dinamis, manusia berpikir. Kalau demikian, mungkin tidak akan ada kata “selesai” dan “tunggal”.

Agak berlebihan kalau saya berkata bahwa para pemimpin agama selalu punya potensi untuk mengeklaim diri Tuhan. Ia para pemimpin agama. Mereka telah kenyang dengan doktrin dan dapat saja dijerumuskan oleh doktrin. Sekali lagi, hampir pasti orang tidak mampu bertemu Tuhan secara empirikal. Sesamaku adalah “diriku yang lain”. Guna apa bertengkar karena aksesoris bernama agama? Guna apa ingin menjadi “Tuhan”?

Paul Ama Tukan