Insomnia Blues

Insomnia Blues
Painting by Eseret Art

: a.k

I

dadamu serupa lembah
tempat edelweis bermekaran
musim-musim bertukar rupa
seperti sebuah gigil
di kala kabut mengambang
sebelum cahaya bulan karam
dimakan fajar

II

di sana aku menekuk lutut
menumpahkan rindu, mengantarkan hidup
sebelum bayang-bayang muncul di matamu
dan dadamu menjadi asing tak terbaca
selain labirin rumit, lorong-lorong gelap
malam-malam yang panjang
membuatku makin tersesat dari hangat dekap cintamu

III

muara hatimu, jauh
tak ada peta yang kutemukan
untuk sampai kepadanya
o, apa cinta selamanya rimba;
menyemaikan duka tiba-tiba
menggilas yang hampir mekar
membunuh yang bertahan hidup?

IV

di luar jendela
angin bertiup kencang
menghamburkan cemas ke langit bulan Juni
aku menginginkanmu, tapi kau tak ada
barangkali benar, malam selalu bekerja
dengan cara yang aneh, ia tak pernah
berpihak pada orang-orang yang jatuh cinta;
udara menjadi gerah
waktu terasa lambat, dan wajahmu menjadi begitu nyata

VI

merayakan kesunyian, aku ingin pergi
menuju tempat-tempat yang pernah engkau singgahi
barangkali kutemukan bekas bibirmu
masih lengket tersisa pada gelas-gelas kaca
agar aku bisa mengenangmu
mendekapmu penuh seluruh
berkunjung ke tempat paling indah
di mana khayalan dirayakan
dan puisi-puisi akan tetap dituliskan

sebab, Na, mungkin hanya metafora
dunia yang membiarkanku
memilikimu seutuhnya

 

Riwayat Sebuah Sajak

menulis sajak ini
adalah menemukan persimpangan panjang
penuh kelokan dan lubang, tempat aku rela
tersesat di dalamnya

menulis sajak ini
membayangkan kembali bait-bait merdu
engkau yang bernyanyi
di bukit-bukit jauh
tempat kita menamatkan menamatkan hari tua

menulis sajak ini
seorang laki-laki berlari
mengejar sisa-sisa mimpi
hal-hal yang memilih jadi abadi

menulis sajak ini
adalah mencermati baik-baik
bagaimana alfabhet, kata, frasa, sintaksis
tak pernah lelah membimbingku
menuju namamu

 

Perihal Mimpi

malam yang pekat selalu
mengacaukan isi kepalamu
barangkali, tidur hanyalah menyerahkan diri
ke seberang sisi yang ghaib
atau seumpama jeda
tidur hanya cara termudah
untuk berdamai dengan nasib, yang meski diam
tak pernah terlambat menertawakanmu

maka sekali lagi, di malam ini
kau putuskan untuk tetap terjaga
dengan mata yang menanggung perih
di beranda rumah, kau termenung
mengosongkan secangkir Robusta 

“ya, barangkali Tuhan menciptakan biji kopi, agar manusia mengerti, bahwa mereka tak pernah sendirian.” kau menggumam, lalu tersenyum-senyum sendiri

di langit, kau lihat mimpi-mimpi
telah berada pada jam kerja
mereka berseliweran, sebagian bertubrukan
ada yang berputar-putar, dan mungkin juga
tidak sedikit yang salah alamat

tapi kau tak peduli
tak sekalipun kau pernah peduli
semegah apapun, mimpi akan tetap menyakitkan
sebab kokok ayam selalu ditugaskan
mengembalikanmu pada kenyataan

    M. Dihlyz Yasir
    Latest posts by M. Dihlyz Yasir (see all)