Intelektual Muda dan Membangun Politik yang Sehat

Intelektual Muda dan Membangun Politik yang Sehat
Ilustrasi: Kompasiana

Peran intelektual muda sering kali terabaikan hanya karena anggapan kurang ini kurang itu. Padahal, hanya pemudalah yang secara kolektif dapat mengiringi setiap kebijakan politik.

Cara-cara berpolitik yang tidak sehat sering kali melahirkan tipikal kepemimpinan yang hanya mengandalkan pencitraan yang jauh dari sikap idealisme yang tinggi. Kecenderungan ini hampir mudah kita temukan dalam melihat sepak terjang pemimpin yang tidak memiliki rasa keberpihakan kepada rakyat.

Padahal tujuan dari berpolitik tidak lain adalah untuk menentukan nasib rakyat dan stabilitas masyarakat menjadi lebih baik.

Kaum intelektual muda yang terkenal cerdas dan memiliki pemikiran yang jernih justru banyak kita temukan tidak ingin terlibat dalam urusan politik. Totalitas kesadaran yang kaum intelektual muda miliki, terutama menyangkut pemikiran dan pemahaman, lebih sering terproyeksikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan semata.

Sikap pesimistik yang mewarnai cara berpikir kaum intelektual terhadap masalah politik adalah dampak dari keadaan politik kita yang masih belum sehat. Ujung dari biang keladi kebusukan politik terletak pada adanya budaya korupsi yang begitu menggurita hampir di setiap lini sistem perpolitikan kita.

Hal ini bisa kita lihat. Misalnya, saat ini harga yang harus orang bayarkan untuk mencalonkan diri sebagai kepala daerah sama sekali tidak murah. Bahkan biaya yang harus ia keluarkan jauh melebihi gaji yang ia peroleh selama menjadi pemimpin.

Lagi-lagi, politik sebenarnya lebih berkaitan dengan masalah uang, jauh melebihi yang lainnya. Ini tidak hanya ironis, tetapi juga sangat berbahaya bagi kelangsungan sistem kepemimpinan di mana rakyat adalah tujuan yang sebenar-benarnya.

Ada satu anggapan bahwa jika kita sudah tidak percaya lagi dengan politik, maka hancur sudah masyarakat kita. Anggapan ini tentu saja dapat kita benarkan mengingat berpolitik adalah cara bagaimana kita dapat menemukan sebaik-baiknya pemimpin. Seberapa berkualitaskah ia dapat mengubah dan menyejahterakan masyarakatnya.

Jika pada saat yang sama keadaan perpolitikan kita justru terisi oleh orang-orang yang memiliki kecenderungan busuk yang hanya memikirkan uang dan kepentingan semata, maka tidak ada cara lain kecuali siapa pun harus siap untuk terlibat. Sikap optimisme haruslah menjadi sesuatu yang lebih prioritas. Ini adalah jalan terakhir dalam menentukan jalannya roda perpolitikan yang sehat.

Saat ini, tipikal kepemimpinan dan perpolitikan kita lebih banyak terisi orang-orang tua. Mereka memang sudah sangat mapan, baik dari pengalaman, kondisi finansial, dan cara perpikir mereka yang orang anggap lebih holistik. Para pengurus partai politik dan pemimpin daerah rata-rata sudah lewat dari masa dewasa. Itu artinya, para pemuda belum memiliki peran penting dalam praktik politik.

Anak-anak muda lebih banyak terlibat dalam mengiringi perpolitikan kita, ketimbang terlibat secara langsung. Karena, di samping belum memiliki banyak pengalaman, cita rasa pemikiran mereka masih murni.

Baca juga:

Biasanya, anak-anak muda masih terbatas berpolitik pada lingkungan kampus. Di samping memiliki semangat yang luas biasa, mereka juga memiliki sikap idealisme yang begitu tinggi.

Kita sering mendengar bahwa antara teori dan praktik kadang bertolak belakang. Meski tidak akan pernah ada teori tanpa praktik. Tapi, karena dua hal ini sudah sering jadi bahan pertentangan, maka anggap saja itu sebuah kebenaran.

Politik, sebagai sebuah sistem, di mana pun dan kapan pun, pasti baik. Ini berbeda jika politik sudah masuk ke ranah praktik. Karena siasat-siasat yang bermain dalam berpolitik sering kali penuh teka-teki dan penuh dengan kerahasiaan.

Jadi, transparansi itu sebenarnya sesuatu yang ada di permukaan atau di bagian pinggiran. Selebihnya, justru banyak berada di ruang ketertutupan dan kerahasiaan yang tertutup rapat-rapat. Bahkan ketika mulut politikus sudah mengucapkan jutaan kata-kata manis di hadapan publik dan rakyatnya.

Begitulah politik. Ia adalah satu-satunya perjudian “yang sah”. Sebuah seni yang bisa mencekik aktornya kapan saja jika tidak piawai dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Tapi, di luar itu semua, kita masih memiliki harapan. Optimisme dan masa depan yang bisa kita ubah sesuai prinsip yang kita yakini benar. Regenerasi, sebagai sebentuk evolusi dari keadaan politik, pasti akan terjadi, di mana pun dan di masa yang akan datang.

Lalu, di mana peran intelektual muda? Bukankan mereka masih anak kemarin sore? Tanpa uang, tanpa pengalaman, dan pemikiran yang orang anggap belum matang?

Halaman selanjutnya >>>

    Rohmatul Izad
    Latest posts by Rohmatul Izad (see all)