Intelektual Penggerak Perubahan; Refleksi Peran Organisasi Mahasiswa Daerah

Intelektual Penggerak Perubahan; Refleksi Peran Organisasi Mahasiswa Daerah
Ilustrasi: Andresfranco.net | Flickr

Bagi saya, persoalan organisasi mahasiswa kita sekarang ialah karena mereka mau terus-menerus memperpanjang jabatan pahlawan mereka. Kalau saja mereka mau berendah hati dan menerima kenyataan bahwa mereka adalah mahasiswa, saya kira persoalannya tidak seruwet seperti sekarang. ~ Arief Budiman – Sinar Harapan, 20 Februari 1969

Mahasiswa sebagai Penggerak Perubahan

Pertama sekali, kita harus mempertegas siapakah yang disebut sebagai “mahasiswa”. Apakah mahasiswa adalah mereka yang duduk di bangku kuliah sembari mencatat keterangan dosen? Atau apakah mahasiswa adalah mereka yang turun ke jalan, berteriak dengan seribu tuntutan, dan ‘meracau’ kepada pemerintah?

Siapakah dirinya? Sejauh mana eksistensinya dibutuhkan oleh bangsa ini? Lalu benarkah mahasiswa—secara keseluruhan—adalah kaum intelektual (intelektual organik) yang mampu menggerakkan perubahan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan dasar yang harus kita pecahkan bersama.

Baiklah, kita mulai dari soal intelektual organik. Gramsci (1891-1937) menyebut kaum terpelajar harus menjadi kaum intelektual organik. Menurutnya, terpelajar (anggaplah mahasiswa)—meski kenyataannya tidak semua mahasiswa terpelajar—memiliki tanggung jawab moral, tidak hanya dalam mengembangkan keilmuan, tetapi juga kebudayaan masyarakat (Gramsci, 2008:12).

Mereka merupakan golongan yang harus mampu menjelaskan kehidupan sosial dari luar tidak hanya berdasarkan kaidah-kaidah saintifik, tetapi juga memakai bahasa kebudayaan untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman nyata, yang tidak bisa diekspresikan oleh masyarakat sendiri. Mereka harus mampu merasakan emosi, semangat, dan apa yang dirasakan masyarakat, memihak dan mengungkapkan apa yang menjadi kecenderungan-kecenderungan objektif, serta ikut terlibat dengan apa yang dialami masyarakat (Simon, 2004:141).

Pertanyaannya, masih adakah ciri-ciri intelektual organik dalam diri mahasiswa saat ini? Kalau kita menjawab sembarangan, tentu saja kita akan menjawab “Tidak ada!” Tetapi, kalau kita tipe orang yang berhati-hati, maka kita akan berkata: “Mungkin masih ada, meski tak banyak.”

Apa yang disebutkan Gramsci di atas (kaum yang mampu membahasakan realitas konkret ke dalam bahasa kebudayaan), hanya mungkin dilakukan oleh kalangan terpelajar, atau setidak-tidaknya—dalam konteks pembagian jenjang pendidikan—manusia perguruan tinggi. Dalam hal ini, jelas mahasiswa, dosen, dan akademisi kampus.

Karena tulisan ini membahas mahasiswa, maka kita akan fokus pada mahasiswa. Sehingga bentuk pemahaman yang harus kita bangun adalah: mahasiswa harus ikut menggerakkan perubahan sosial. Dengan demikian, mahasiswa pantas disebut sebagai agen of change yang tugas utamanya adalah melakukan penyusunan dan pengorganisasian suatu lapisan intelektual yang mengekspresikan pengalaman aktual masyarakat dengan keyakinan dan bahasa bumi (baca: masyarakat).

Lihat juga: Mahasiswa dan Peran Intelektualnya

Artinya, mahasiswa harus menghadirkan suara-suara kepentingan masyarakat tertindas dengan bahasa kebudayaan, sehingga pandangan dunia, nilai, dan kepercayaan kaum kelas bawah meluas ke seluruh masyarakat dan menjadi bahasa universal (Simon, 2004: Pengantar).

Bila tahap ini berhasil, maka jalan semakin lebar untuk melakukan perubahan yang diharapkan: membangun nilai budaya mereka sendiri bersama-sama dengan kaum tertindas dan lapisan intelektual yang berpihak. Dalam konteks inilah bisa dikatakan bahwa supremasi tertinggi seorang mahasiswa sebagai penggerak perubahan sosial tercipta.

Tentu saja, sebagai penggerak perubahan, mahasiswa harus mampu menggali potensi di dalam dan di luar dirinya;  rajin berkontemplasi, merefleksi diri, dan menerapkannya dalam aksi nyata. Kalau tiga hal itu gagal dilakukan, maka sia-sialah dia sebagai mahasiswa. Bersiaplah menerima kutukan peradaban: menjadi generasi micin!

Menggerakkan Pembangunan Daerah

Oleh karena mahasiswa adalah bagian dari intelektual organik, maka mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk membangun bangsanya (daerahnya). Di mana pun dia berada, ia tidak boleh lupa bahwa dirinya tetap memiliki beban moral, utang budi kepada daerah.

Tanpa ada maksud bersikap primordialis, bagaimanapun, mahasiswa memang harus memperhatikan daerahnya sendiri. Bahkan kalau mungkin kembali ke daerah untuk membangun peradaban baru. Akan tetapi, yang perlu diingat, jangan sampai stereotip kedaerahan ini mengganggu rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa yang lebih besar: bangsa Indonesia.

Tugas dan tanggung jawab moral ini tidak bisa hanya dibicarakan, apalagi hanya dipikirkan. Ia harus mewujud dalam aksi nyata untuk membangun daerah. Entah bagaimana bentuknya.

Mahasiswa tidak boleh diam berpangku tangan, membiarkan, apalagi menyerahkan pembangunan daerah hanya kepada pejabat. Tidak boleh. Mahasiswa harus pro-aktif memberikan feedback positif, baik berupa ide atau gagasan, melakukan kontrol sosial terhadap pejabat, dan memberikan pendidikan untuk masyarakatnya.

Mohammad Hatta menulis begini:

Dalam segala hal, kaum intelegensia tidak dapat bersikap pasif, menyerahkan segala-galanya kepada mereka yang kebetulan menduduki jabatan yang memimpin dalam negara dan masyarakat. Kaum intelegensia adalah bagian daripada rakyat, warga negara yang sama sama memiliki hak dan kewajiban.

Dalam indonesia yang berdemokrasi, ia ikut bertanggung jawab tentang perbaikan nasib bangsa. Dan sebagai warga negara yang terpelajar, yang tahu menimbang buruk dan baik, yang tahu menguji benar dan salah dengan pendapat yang beralasan, tanggung jawabnya—seperti yang saya katakan tadi—adalah intelektual dan moral. Intelektual karena mereka dianggap golongan yang mengetahui; moral karena masalah ini mengenai keselamatan masyarakat, sekarang dan kemudian. (Hatta,  1984: 16)

Oleh karena itu, sudah saatnya mahasiswa bergerak! Tidak sekadar berbicara dan berteori, sebab teori saja tidak menyelesaikan persoalan. Dalam mewujudkan perubahan, mahasiswa wajib menggunakan akal dan ilmunya untuk bertindak menegakkan kebenaran.

Menurut Arief Budiman, kaum terpelajar atau mahasiswa memiliki dua kekuatan pokok untuk melakukan perubahan: “kekuatan moral” dan “kekuatan politik” (Budiman, 1984:160).

Kekuatan moral, yaitu kekuatan atas dasar hati nurani, akal budi: di mana mahasiswa memiliki pandangan kebenaran yang berbeda dari orang biasa. Kekuatan moral ini tercermin dalam solidaritas yang solid dan perasaan saling memiliki satu sama lain.

Adapun kekuatan politik adalah kekuatan atas dasar posisi mahasiswa sebagai subjek dan objek politik sekaligus. Mereka dekat sekaligus jauh dari kekuasaan. Dekat, maksudnya mudah menggoncang kekuasaan. Jauh, maknanya mereka hanya bisa menggoncang kekuasaan, tetapi tidak bisa tidak bisa berkuasa.

Lihat juga: Mahasiswa dan Peran Kepemudaannya

Sebagai tambahan informasi, gerakan mahasiswa yang selalu berhasil bukanlah gerakan “kekuatan politik”, tetapi gerakan “kekuatan moral”. Hal tersebut dicatat oleh Arief Budiman dalam tulisannya, Peranan Mahasiswa sebagai Kaum Intelegensia (Budiman, 1984).

Senada dengan itu, Jap Ki Hien juga menyatakan: “Pernyataan para mahasiswa itu bukan suatu pernyataan politik, melainkan suatu pernyataan etik”. Etik maksudnya adalah moral.

Lalu kekuatan mana yang bisa digunakan untuk membangun daerah? Praktis agar memiliki bergaining power yang kuat. Dua kekuatan itu harus digunakan sekaligus. Sehingga, terbuka kesempatan untuk mengusulkan, memberi aspirasi, inspirasi, dan mengevaluasi kebijakan pemerintahan di tingkat daerah.

Asalkan, sekali lagi, asalkan jangan jadi mahasiswa yang suka menjual diri kepada penguasa: Apa demi pembayaran, atau, lebih mungkin, karena mereka bisa ‘dipakai’ (Suseno, 2014: Pengantar). Mereka menempatkan ketajaman berpikir mereka dalam pelayanan kepentingan politik penguasa, menjadi provokator dan produsen propaganda, yang kesemuanya menjurus pada—seperti yang disebutkan Julien Benda—pengkhianatan intelektual!

Peran Organisasi Mahasiswa Daerah

Baiklah, sekarang kita tidak akan membahas mahasiswa secara umum lagi. Tetapi khusus pada organisasi mahasiswa, lebih spesifik lagi organisasi mahasiswa daerah.

Organisasi mahasiswa daerah merupakan organisasi di mana para mahasiswa berkumpul berdasarkan asal daerahnya. Kalau saya orang Jember, maka saya akan berkumpul dengan organisasi mahasiswa daerah Jember. Kalau Anda orang Madura, maka Anda berkumpul dengan organisasi mahasiswa daerah (Organda) Madura.

Lazimnya, pembentukan Organda didasari atas kesamaan nasib antara sesama mahasiswa di perantauan. Kesamaan nasib ini membentuk sebuah kepedulian bersama untuk membangun komunitas, agar mudah berkumpul bersama keluarga dari daerah yang sama.

Kepedulian ini diwujudkan dalam proses pengorganisiran mahasiswa daerah untuk ikut bersama-sama—dalam satu naungan organisasi—memberikan feedback dan sumbangsih positif terhadap daerah, baik berupa gagasan maupun gerakan. Dengan organisasi ini, mahasiswa daerah bisa memainkan perannya sebagai manusia intelektual.

Salah satu peran yang bisa dimainkan oleh organisasi mahasiswa daerah, di antaranya adalah mendidik masyarakat. Sebagaimana dijelaskan oleh Gramsci, mahasiswa wajib membaur kepada masyarakat lalu mendidiknya.

Dalam konteks mendidik masyarakat, ada dua golongan masyarakat yang perlu dididik oleh organisasi mahasiswa daerah: pertama, masyarakat di luar daerah asalnya (baca: orang luar).

Organisasi mahasiswa daerah memiliki peran penting dalam proses akulturasi, penyemaian, dan pengenalan budaya daerah kepada daerah lain. Selain itu, organisasi daerah juga berfungsi sebagai ‘sales’ daerah. Ia berperan mempromosikan kebudayaan, kesenian, destinasi wisata, dan berbagai corak kekhasan daerah yang dimiliki oleh daerahnya.

Fungsi sebagai ‘sales’ ini bukan berarti mereka hanya memperkenalkan dan ‘berjualan dagangan’ daerah saja. Lebih dari itu, mereka wajib mendidik masyarakat umum agar paham kondisi sosiologis dan antropologis daerahnya. Dengan demikian, diharapkan rasa toleransi dan hubungan baik antardaerah bisa tetap harmonis.

Lihat juga: Peran Intelektual; Telaah Progresif Pemikiran Edward Said & Antonio Gramsci

Kedua, masyarakat di daerahnya. Masyarakat di daerah sangat perlu dididik. Pendidikan ini diharapkan bisa menjadi salah satu langkah krusial dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Karena satu-satunya jalan yang mungkin, dan terbuka lebar untuk mahasiswa, adalah pembangunan sumber daya manusia.

Pembangunan sumber daya manusia merupakan titik sentral pembangungan peradaban. Di mana manusia diajarkan untuk lebih bermanfaat untuk diri dan lingkungannya. Sebab tanpa manusia-manusia berkualitas, batangan emas berton-ton hanya dianggap batu tak berguna.

Tetapi, di mata manusia berkualitas, batu yang bergeletakan di jalanan pun tetap sangat berguna. Ibnu Sina berkata seperti ini: Saat kebodohan menguasai kesadaran, maka kesadaran memiliki hak untuk berbuat hal paling bodoh. Jika masyarakat di daerah tidak dididik, maka mereka akan berbuat hal paling bodoh, dan mudah sekali dibodohi.

Hemat penulis, langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mengembangkan sumber daya manusia di daerah, di antaranya adalah: 1) Melakukan sosialisasi tentang pentingnya pendidikan dan belajar. Sebab kebanyakan masyarakat di daerah belum sadar betul apa gunanya berpendidikan. Di antaranya, bisa melalui sosialisasi kampus, meski berpendidikan tak melulu harus ngampus.

2) Mengadakan pelatihan keterampilan masyarakat di daerah. Apa pun bentuk keterampilannya. Intinya, keterampilan positif dan membangun, baik bersifat membangun ekonomi maupun pola pikirnya. Misal, pelatihan pembuatan anyaman bambu atau pelatihan pemasaran online, atau bahkan yang paling sederhana, pelatihan manajemen keuangan keluarga.

3) Pendampingan kepada masyarakat secara langsung. 4) Memantau perkembangan daerah melalui jejaring yang ada, baik berita dari media maenstream maupun dari kawan di daerah.

Mungkin akan timbul pertanyaan, kapan langkah-langkah tersebut bisa dilakukan? Sedangkan jiwa dan raga berada jauh di perantauan? Mudah saja: ketika libur dan ada kesempatan. Dan masih banyak lagi langkah konkret yang bisa dilakukan. Saya yakin, Anda bisa merumuskannya bersama kawan-kawan!

Dari sini kita berkesimpulan bahwa organisasi daerah harusnya tidak hanya beraktivitas di perantauan, tetapi sesekali kembali ke rumah untuk membangun masyarakat di daerah. Akhirnya, di setiap kesempatan, saya terpaksa harus terus mengulangi apa yang dikatakan Musolini: bukan teori, tetapi perbuatanlah yang mengubah dunia. Selamat berjuang! Hidup Mahasiswa!

#LombaEsaiMahasiswa

Daftar Pustaka

  • Natsir, Ismed. 1984. Cendikiawan dan Politik. (Jakarta: LP3ES)
  • Eyerman, Ron. 1996. Cendekiawan: Antara Budaya dan Politik dalam Masyarakat Modern. (Jakarta: YOI)
  • Prasetyo, Eko. 2014. Bangkitlah Gerakan Mahasiswa.(Yogyakarta: Resist Book dan Social Movement Institute)
  • Said, W. Edward. 2014. Peran Intelektual. (Jakarta:YOI)

*Imam Nawawi, Mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; aktif sebagai Ketua di  Komunitas Menulis Pinggir Rel (MPR) dan Redaktur Pelaksana Lembaga Pers Mahasiswa Advokasia

___________________

Artikel Terkait:
Peserta Lomba
Peserta Lomba 33 Articles
Peserta Lomba Esai Nalar Politik.