Intelektual Presentatif

Phoenix Literacy

Intelektual yang presentatif merupakan intelektual yang menjadi bagian dari gerakan masyarakat tertindas.

Pengetahuan telah meregistrasikan dirinya dalam peradaban dunia, pada setiap masa. Pengetahuan lahir dari kehidupan sosial masyarakat dan intelektual ada di dalamnya. Intelektual juga telah berusaha menjelaskan setiap peristiwa dan situasi dengan cara-cara rasional.

Namun dalam konteks kehidupan sekarang, intelektual bukan hanya memiliki tugas untuk menjelaskan setiap peristiwa. Tetapi menjadi bagian dari peristiwa hingga menghadirkan peristiwa sebagai fungsi autentik dari intelektual saat ini.

Intelektual yang presentatif merupakan intelektual yang menjadi bagian dari gerakan masyarakat tertindas. Intinya, intelektul presentatif merupakan intelektual yang memiliki keberpihakan.

Tulisan ini berusaha untuk melacak fungsi intelektual yang presentatif dan berusaha bagaimana menggarap dan menginisiasi intelektual presentatif menjadi sebuah gerakan politik. Dikatakan presentatif karena intelektual menjadi bagian dari perjuangan masyarakat yang tertindas dan marjinal serta kelompok rentan.

Idealnya intelektual mengharuskan diri untuk menjadi parhesia dalam ungkapan Foucault, yakni mengungkapkan kebenaran, serta ada penubuhan dari ungkapan itu. Singkat kata, parhesia dalam diri intelektual adalah mengatakan sebenarnya dan memperlakukan sebenarnya atau dengan metafor Firman yang menjadi daging.  Intelektual intinya menjadi terang dan garam.

Menjadi terang dan garam berarti mengharuskan intelektual memberi diktum-diktum yang bisa memprovokasi publik. Sekaligus menjadi aktor perubahan sosial. Intelektual harus organik politis dengan mengubah kehidupan natural masyarakat tentang zoe (fakta biologis tentang kehidupan) dan mendorong  menjadi bios (kehidupan berpolitik atau kehidupan yang dipersyaratkan untuk berkualitas), Agamben (1996: 151). Dengan kata lain, intelektual harus menjadikan politik sebagai kehidupan untuk berkualitas dari masyarakat satu bangsa.

Intelektual yang presentatif mampu memberikan diri pada yang lain dengan menjadi bagian dari yang lain. Yang lain ini, yakni rakyat yang tertindas, marjinal, kelompok rentan. Saya sedikit sepakat dengan Max Lane (2014: 18-22) dalam bukunya Unifinished Nation, menjelaskan bahwa tugas paling penting yang kita lakukan secara terus-menerus, yakni dengan mengorganisasi rakyat.

Artinya, mengorganisasi rakyat sebagai upaya untuk merumuskan political demand. Tugas itu merupakan tugas mulia dari intelektual presentatif. Hadir memahami kerentanan kehidupan masyarakat, menjadi bagian dari rakyat. Lalu menggerakkannya dengan memberi tuntutan politik secara bersama. Itulah yang dinamakan presentasi langsung. Dengan kata lain, intelektual bukan menjadi representasi, tetapi melampaui itu, yakni mempresentasikan langsung keluhan dari rakyat.

Kerentanan Intelektual

Seorang filsuf kenamaan Antonio Gramsci (1997) mengkategorikan intelektual ke dalam dua bingkai. Pertama intelektual tradisional, yang bertindak menjadi antek penguasa. Kasarnya, mencari suaka pada rezim. Kedua intelektual organik, yakni orang yang memiliki fungsi untuk merumuskan artikulasi dari ideologi dan selalu berpihak kepada kaum lemah dan tertindas.

Dua kategori dari Gramsci merupakan hasil dari refleksinya mengenai peran intelektual pada masa fasis di Italia. Namun, saya sendiri melihat bahwa di negara mana pun intelektual selalu mengalami binaritas posisi seperti yang dijelaskan Gramsci. Intelektual yang tradisional rentannya bisa menjadi subjek dociles bodies atau tubuh yang jinak. Dikatakan jinak karena apa saja perintah rezim selalu dituruti. Sementara intelektual organik cenderung menjadi musuh rezim

Hemat saya, ada beberapa hal yang membuat sulit untuk menyatukan kedua kategori di atas yang dijelaskan Gramsci. Kesulitannya karena faith dan refleksi yang sangat berbeda.

Efek dari keyakinan dan refleksi yang berbeda menyebabkan teknis dari tindakannya yang berbeda pula. Misalnya dengan alasan karena yang berada dalam rezim, cenderung mengabaikan demand dari luar rezim. Sementara yang di luar rezim kekeh dengan kepentingan dari kelasnya. Singkatnya intelektual tradisonal tidak terkonek dengan organik. Bahkan diciptakan untuk saling memusuhi.

Binaritas ini merupakan bentuk kerentanan dalam diri intelektual kita. Sehingga tidak salah berbicara intelektual kadang ambivalen. Di satu sisi, ada intelektual yang sangat hegemoni; di sisi lain, ada juga intelektual yang dominasi dan subjugasi.

Intelektual Pahami Lack

Dari persoalan binaritas di atas, maka intelektual harus mampu merumuskan kembali dirinya sebagai intelektual. Intelektual bukan soal sederet gelar akademis serta memperoleh sertifikasi dari negara. Namun intelektual intinya harus mampu bertindak untuk berpihak. Sehingga dari keberpihakannya, intelektual akan menjadi presentatif dan organik. Dengan kata lain, intelektual dikatakan presentatif dan organik maka tindakannya harus selalu ada keberpihakan.

Untuk menjadi organik dan presentatif, maka setidaknya bagi saya intelektual sebenarnya harus paham soal lack kekurangan, Lacan, et Evans (1996: 163). Karena setiap diri manusia mengutip Lacan selalu mengalami kekurangan dalam dirinya.

Manusia selalu retak. Karena adanya keretakan itu justru membuat manusia untuk selalu memperbaiki diri. Dalam konteks kehidupan bernegara juga selalu mengalami keretakan. Maka tugas intelektual adalah membangun kembali optimisme dengan mengisi dan menyusun kembali keretakan itu. Inilah intelektual presentatif.

Menyusun kembali keretakan merupakan tugas mulia dalam diri manusia. Tetap melanjutkan konsep Lacan bahwa tugas mulia itu bisa dinamakan sebagai sebuah refleksi Yang Riil sesuatu yang sulit diraih. Tugas ini merupakan tugas melampaui simbolic dan imajiner. Artinya, menjadi intelektual organik dan presentatif merupakan sebuah tugas yang tidak memikirkan tentang diri. Tetapi justru memikirkan orang yang diperjuangkannya.

Tugas menjadi intelektual presentatif dan organik itu hadir begitu saja tanpa ada embel-embel untuk mendapatkan apa-apa dari yang lain. Dengan kata lain, tugas itu merupakan panggilan hidup. Singkatnya, keretakan dan kekurangan ini sebagai peristiwa intelektual untuk menjadi intelektual presentatif dan organik.

Dengan mendasarkan diri pada kekurangan, maka akan dengan sendirinya intelektual kita selalu hadir. Dalam kehadirannya selalu berpihak. Itulah tugas intelektual yang presentatif dan organik.

Menggerakkan Intelektual

Jika intelektual sudah menjadi organik dan presentatif, maka dalam hal menyuarakan penting untuk mengganggu fantasi rezim dalam mengambil kebijakan. Dalam mengganggu fantasi rezim, maka intelektual harus menginisiasi dirinya untuk gerakan.

Saya ingatkan kembali, intelektual bukan hanya sederet gelar akademis dan sertifikasi negara. Tapi intelektual melampau itu, yakni keberpihakan.

Lantas, bagaimana menginisiasi gerakan? Memang inisiasi gerakan ini terbilang sulit mengingat isu dan fragmentasi perjuangan yang melandai pada partikularitas gerakan masyarakat di Indonesia. Namun hal itu bisa diatasi jika memiliki ketekunan dan keseriusan. Dengan kerendahan hati, baik intelektual presentatif dan organik di kampus, maupun yang bergerak langsung dalam masyarakat akar rumput, maka penting untuk saling terkonek.

Dengan kata lain, ketika intelektual organik dan presentatif saling terkonek satu sama lain dengan memperluas kembali dimensi-dimensi perjuangannya. Tanpa meniadakan yang lain. Maka akan menghadirkan gerakan yang masif dalam memperjuangkan isu-isu ketidakadilan.

Kendati demikian, yang tidak kalah penting juga adalah ketika gerakan sudah terbentuk melalui organisasi rakyat dan saling terkonek satu sama lain. Maka intelektual harus memahami dirinya memiliki legitimasi kekuasaan.

Kekuasaan itu, antara lain: ada legitimasi sosial, karena publik mengakui dengan tindakan yang sudah dilakukan atau dengan kata lain sudah menjadi organik dan presentatif. Selain itu, ada kuasa pengetahuan yang diperoleh, baik melalui pembacaan maupun melalui pengalaman tindakan berada di tengah masyarakat.

Seperti kata Foucault, Power is everywhere dalam tubuh intelektual terdapat kekuasaan untuk mengintervensi terhadap jalannya agenda-agenda politik dari negara. Dengan demikian, intelektual presentatif dan organik merupakan pilihan utama dari seorang manusia menjadi intelektual.

Menjadi intelektual organik dan presentatif berarti ada keberpihakan terhadap kelas masyarakat secara khusus yang tertindas. Intelektual presentatif dan organik yakni hadir dalam ketidakhadiran negara untuk menciptakan politik keadilan.

Share!