Intoleransi, Sumber Pelemahan Kebebasan Sipil

Intoleransi, Sumber Pelemahan Kebebasan Sipil
©FB/Saidiman

Nalar Politik – Manajer Program Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad menyebut bahwa intoleransi merupakan salah satu sumber pelemahan kebebasan sipil di Indonesia.

“Intoleransi yang menguat di masyarakat pada akhirnya menjadi ladang subur bagi munculnya para politikus dan pejabat publik oportunis tanpa visi kebangsaan yang menjalankan kebijakan hanya berdasarkan kecenderungan umum publik,” jelas Saidiman dalam keterangan tertulisnya di Harian Kompas, 21 Mei 2021.

“Mereka berlayar di atas arus konservatisme. Ini yang menjelaskan mengapa beberapa tahun terakhir sangat mudah muncul peraturan-peraturan daerah diskriminatif atau tindakan represif aparat pada kelompok rentan,” sambungnya.

Merujuk rilis indeks demokrasi dunia 2020 dari The Economist Intelligence Unit (EIU), Saidiman memperlihatkan Indonesia menempati ranking 64 dari 167 negara. Meski posisinya tidak berubah dari tahun sebelumnya, skor demokrasi Indonesia mengalami kemunduran.

“Dihitung dari skala 1 sampai 10, di mana 1 adalah kondisi demokrasi terburuk dan 10 adalah yang terbaik, demokrasi Indonesia ada di angka 6,30. Skor ini lebih buruk dari tahun 2019, yakni 6,48,” beber Saidiman.

Laporan yang mirip juga datang dari lembaga lain, seperti Freedom House. Sejak 2013, lembaga pemeringkat kebebasan ini menempatkan Indonesia dalam gerbong partly free (bebas sebagian). Sebelumnya, dari 2005 sampai 2012, Indonesia berada dalam kategori fully free (bebas penuh), satu gerbong bersama negara-negara dengan demokrasi yang sudah mapan.

“Senada dengan EIU, Freedom House juga menunjuk aspek kebebasan sipil sebagai titik terlemah demokrasi Indonesia. Diukur dari skala 1 sampai 7, di mana 1 sangat bebas dan 7 sangat tidak bebas, kebebasan sipil Indonesia berada di angka 4,” lanjut alumnus Crawford School of Public Policy, Australian National University itu.

Pelemahan kebebasan sipil itulah, menurut Saidiman, yang kemudian jadi alasan mengapa banyak peneliti dan ahli Indonesia menyatakan Indonesia sedang mengalami kemerosotan demokrasi.

“Kemerosotan tak berasal dari ritual pemilu yang berjalan cukup baik dari pemilu ke pemilu, tetapi dari ranah kebebasan sipil,” pungkasnya. [sm]

Baca juga: