Islam sebagai Etika Perdamaian

Islam sebagai Etika Perdamaian
©IndiaToday

Islam, sebagai agama yang tercipta untuk manusia di dunia, tentu memiliki tanggung jawab dalam pembangunan-pembangunan kemanusiaan.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “sesungguhnya Aku hendak menjadikan satu khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan kepadanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?” Tuhan berfirman, “sesungghunya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.(QS. Al-Baqarah: 30).

Betapa singkat perbincangan Tuhan dengan para malaikat dalam ayat tersebut. Tetapi apabila kita kaji lebih mendalam, betapa luas makna yang terkandung di dalamnya. Dalam kisah ini, Tuhan menceritakan bahwa akan menciptakan manusia yang kemudian mendapat mandat sebagai khalifah fi al-ard.

Menurut Prof. Kiai Said Aqil Siradj (2006: 118), tersirat sebuah pesan bahwa khalifah itu tidak cukup hanya dengan banyaknya wirid dan tasbih sebagaimana para malaikat lakukan secara tekun. Kondisi langit tempat malaikat tidak sama dengan realitas di bumi. Di bumi, begitu banyak perbedaan yang pada hakikatnya bersumber pada Yang Esa. Meskipun cara yang mereka lakukan berbeda, tetapi yang tertuju adalah sama, Tuhan Yang Maha Esa.

Berdasarkan ayat ini, dapat kita pahami bahwa bumi adalah urusan manusia, langit adalah urusan malaikat. Letak kesempurnaan manusia adalah sempurnanya tugas ke-khalifah-annya di bumi. Gamblangnya, terciptakannya manusia di bumi untuk mengurus bumi sebagaimana adanya, bukan untuk melangitkan bumi.

Andai Tuhan ingin menciptakan bumi sebagaimana langit, maka Dia tidak akan menciptakan manusia. Sebab manusia tidak Ia ciptakan dari cahaya sebagaimana malaikat, melainkan tercipta dari sari pati tanah. Dari penciptaan ini, kemudian manusia memiliki sifat yang khas duniawi. Lalu bagaimana dengan agama yang Tuhan ciptakan?

Khalifah tentu bukan tugas yang ringan. Dengan demikian, Tuhan membekali manusia dengan agama. Tuhan mengajari manusia cara-cara melaksanakan tugasnya di bumi, pelajaran tersebut berupa agama.

Manusia menerima pelajaran itu dengan akalnya. Lalu manusia menciptakan cara-cara yang bersifat manusiawi dan duniawi dengan menggunakan akalnya, yang kemudian hasil ciptaan itu kita sebut dengan budaya.

Pada hakikatnya, manusia memiliki daya cipta, lantaran dalam diri terdapat potensi keilahian sebagaimana firman Tuhan: ketika telah aku sempurnakan kejadiannya, aku tiupkan ruh-Ku kepadanya. Maka tunduklah kamu dan bersujud kepadanya (QS. Sad: 72).

Baca juga:

Selain daya cipta, dari ayat ini dapat kita ketahui bahwa manusia tidak hanya tercipta dari materi belaka, melainkan juga dari yang immateri, yakni ruh Tuhan. Dalam hal ini, Seyyed Hossein Nasr (2003: 122) menegaskan bahwa manusia berada di antara ciptaan spiritual dan material, dan memiliki sifat keduanya.

Oleh karena itu, sangat tepat jika kita katakan bahwa kesempurnaan manusia dalam melaksanakan tugasnya sebagai khalifah di bumi adalah dengan keseimbangan antara dua unsur penciptaannya. Jika cenderung kepada unsur spiritualnya hingga kemudian mengabaikan unsur materialnya, pada hakikatnya manusia sedang lupa bahwa yang kita urus adalah bumi, bukan langit.

Namun, kedua unsur tersebut menjadikan manusia seimbang atau cenderung kepada salah satunya, bukan secara otomatis. Keseimbangan dan kecenderung kepada salah satu unsur adalah sebuah pilihan. Ini yang kemudian kita sebut dengan kebebasan. Ketika tidak memungkinkan untuk seimbang, maka kemungkinan lainnya adalah cenderung kepada salah satunya.

Kemungkinan atau ketidakmungkinan untuk seimbang tergantung kepada sejauh mana manusia memahami diri. Makin ia paham, kemungkinan untuk seimbang makin besar. Hal ini berdasarkan ketika Tuhan mengajarkan Adam nama-nama (benda) seluruhnya (QS. al-Baqarah: 31).

Manusia mendapat anugerah potensi untuk berbahasa. Sistem pengajaran bahasa kepada manusia bukan bermula dengan mengajarkan kata kerja, tetapi tentang nama-nama terlebih dahulu (Shihab, 2012: 177). Berdasarkan ayat ini, Tuhan mendahulukan pemahaman-pemahaman terhadap sesuatu daripada cara-cara melakukan sesuatu, termasuk mengajarkan manusia memahami diri sendiri sebelum melaksanakan tugas-tugasnya.

Ketika manusia melaksanakan tugasnya di bumi dengan cara-cara langit, pada dasarnya manusia tidak memahami diri sendiri. Manusia menjadi tertutup kepada sesama manusianya, seperti sikap malaikat ketika mendengar makhluk selain diri yang akan Tuhan ciptakan untuk mengurus bumi.

Dalam artian perspektif dunia, manusia memformalkan pelajaran-pelajaran yang Tuhan anugerahkan. Padahal pelajaran-pelajaran tersebut untuk akal manusia olah, yang kemudian menghasilkan budaya-budaya.

Dengan budaya, manusia menunjukkan eksistensinya. Sifat mutlak budaya adalah pembangunan, karena hampir seluruh budaya memiliki sifat tersebut. Yang terbangun adalah peradaban kemanusiaan.

Halaman selanjutnya >>>

Adi Candra Wirinata
Latest posts by Adi Candra Wirinata (see all)