Itu Hanya Insiden, Prasangka Saja yang Mengesankan Celaka

Itu Hanya Insiden, Prasangka Saja yang Mengesankan Celaka
©Gleauty

Mengapa umumnya manusia Indonesia cenderung percaya terhadap sesuatu yang berkaitan dengan prasangka dan klenik yang sesungguhnya di luar nalar?

Pertama saya harus mengucapkan, “Selamat memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73. Semoga segala yang dicita-citakan dapat segera terwujud.” Dan maaf jika ucapan ini terasa sangat datar. Mungkin tak begitu berkesan serupa caption-caption yang sangat menggugah dan penuh semangat nasionalis dari para warganet di media sosial.

Maklum saja, sebab dalam urusan berbasa-basi atau merangkai kata-kata indah dalam membuat caption di media sosial, bukan salah satu kemampuan bagi jenis manusia yang cukup kaku seperti saya ini. Lah, untuk memberikan ucapan “selamat ulang tahun” pada teman atau bahkan pacar sekalipun, kadang masih dikatai terlalu formal. Serupa kalimat-kalimat Preumbleum atau mukaddimah dalam pidato.

Tapi tak apalah. Sebab yang lebih penting adalah esensi dari ucapan selamat. Ini saya percaya lahir dari emosi rasa haru, bahagia, dan bangga pada negara ini.

Sejujurnya, saya agak bingung dari mana harus memulai opini ini. Sebab saya juga tak begitu yakin kenapa harus ikut nyiyir dalam isu ini. Padahal, ya, biasanya saya cukup anteng-manteng saja terhadap segala persebaran informasi di media sosial. Terutama soal isu politik yang kian hari makin aneh dan asyik saja untuk jadi tertawaan nalar.

Tapi, ya, begitulah sebagian realitas warganet saat ini. Kalau gak nakal, ya gak terkenal. Apalagi mendekati tahun politik 2019 mendatang, euforianya bisa kita rasakan dalam hampir setiap lini percakapan. Dari mulai politisi yang mulai bergerilya menebar isu dan saling serang di media setiap hari. Sampai kalangan sipil yang analisis dan perdebatannya seperti para pakar lulusan cumlaude fakultas politik saja.

Tapi lagi-lagi tak masalahlah. Toh semua juga bagian dari kekebebasan berpendapat yang terjamin dalam demokrasi yang kita sepakati. Oleh karena demokrasi menjamin, jadi saya juga memiliki kesempatan untuk sekadar nyiyir. Atau berusaha mendebat secara objektif. Tentunya terhadap sebagian warganet yang cukup mudah menyimpulkan sesuatu dengan prasangka yang sukar logika terima. Minimal bagi logika saya sih.

Misalnya dalam melihat fenomena beberapa insiden yang terjadi terkait pembukaan Asian Games kemarin. Itu juga terkait upacara perayaan hari kemerdekaan di beberapa daerah. Sebagian dari warganet cepat menyimpulkan hubungan antara insiden yang terjadi dengan warna prasangka politik tertentu atas rezim. Entah karena dorongan hasrat apa yang kemudian mengaitkannya dengan ramalan tanda-tanda peristiwa yang terkesan negatif.

Insiden Padamnya Api Asian Games yang Dibawa Presiden Jokowi

Mengapa umumnya manusia Indonesia cenderung percaya terhadap sesuatu yang berkaitan dengan prasangka dan klenik yang sesungguhnya di luar nalar? Bagi yang pernah membaca sekilas tentang kutipan wartawan dan sekaligus budayawan Muchtar Lubis dalam buku Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban, khususnya pada poin ciri manusia Indonesia yang percaya pada takhayul, akan menemukan petikan seperti ini:

“Manusia Indonesia sangat mudah percaya pada menara dan semboyan dan lambang yang dibuatnya sendiri.”

Baca juga:

Kutipan tersebut mungkin dapat menjelaskan mengapa kita memiliki kebiasaan untuk cukup mudah mengait-ngaitkan fenomena atau menyimpulkan peristiwa yang kita temui dengan klenik dan prasangka tertentu tanpa landasan pemikiran yang logis dan dari informasi yang objektif.

Dalam klasifikasi prasangka oleh John E. Farley, terdapat 3 kategori, yakni prasangka kognitif yang merujuk pada apa yang dianggap benar; prasangka afektitif yang berkaitan soal suka dan ketidaksukaan; dan prasangka konatif yang mengarah pada bagaimana kecenderungan seseorang dalam bertindak.

Nah, untuk kasus insiden padamnya Torch Relay (kirab obor) di Istana Merdeka kemarin, sepertinya lebih cenderung digunakan sebagai isu serangan politik yang dibungkus sedemikian rupa oleh para elite dalam bentuk asumsi kategori parsangka afektif ketimbang mengganggapnya sebagai insiden murni kesalahan teknis. Mengapa saya berpandangan demikian? Sebab saya hanya tak ingin semangat perayaan pesta olahraga se-ASIA ini kemudian menjadi ternodai oleh noktah black campaign (kampanye hitam).

Lagi pula, kenapa sih sebagian dari kita masih selalu berprasangka ke arah negatif? Padahal itu hanya peristiwa padamnya obor api sementara karena ketidaksengajaan. Ya, meskipun sebenarnya api yang sempat padam saat dibawa berlari itu diambil langsung dari sumber api abadi di Major Dhyan Chand National Stadium New Delhi (India) sebagai tempat pertama kalinya Asian Games dilaksanakan, yang bahkan tak dipadamkan saat diterbangkan oleh unit pesawat AURI dan kemudian digabungkan dengan sumber api abadi di Mrapen, Grobongan, Jawa tengah.

Tapi, ya, namanya juga ketidaksengajaan. Terus mau bagaimana lagi? Lagian, kan, memang ada lagunya dari band Noah, “Tak Ada yang Abadi.”

Selain itu, bagi saya, api abadi Asian Games itu adalah gambaran simbol dari lambang semangat yang terus menyala untuk menjaga kebersamaan dan persahabatan serta semangat untuk berprestasi. Tanpa bermaksud sedikitpun menganggap remeh simbol semangat itu, saya hanya ingin mengatakan bahwa yang lebih penting dan esensial sebenarnya adalah tentang rasa, sportivitas, dan semangat kita dalam menghadapi perayaan akbar olahraga level Asia ini.

Jadi, kata Cak Nun, kita harus bisa belajar membedakan antara gula dan manis, antara yang terlihat dan terasa, antara bentuk dan esensi.

Halaman selanjutnya >>>
Muhammad Al-Akram