Jadi Kiai Tak Perlu Ngaji

Jadi Kiai Tak Perlu Ngaji
©NU Online

Kata “kiai” tentunya sudah tidak asing lagi bagi orang Indonesia. Apalagi bagi mereka yang pernah mengeyam pendidikan di pesantren.

Sebutan “kiai” seolah tak bisa terlepaskan dari nuansa keagamaan, Islam khususnya. Kiai kerap sekali menjadi rujukan bagi masyarakat terkait persoalan-persoalan agama. “Masalah apa pun, kalau sowan ke kiai, pasti kelar,” ujarnya.

Saya jadi ingat pesan guru saya ketika saya masih mengenyam pendidikan di pesantren. “Menjadi kiai bukanlah keinginan ataupun sebuah cita-cita. Kiai adalah suatu anugerah yang diberikan Allah SWT kepada makhluknya. Ngaji untuk mencari ilmu, bukan menjadi seorang kiai.”

Pesan itu masih mendarah daging di dalam tubuh saya. Bahwa tujuan mencari ilmu bukan untuk mendapatkan gelar agar disegani oleh masyarakat, atau bahkan dimuliakan di tengah-tengah masyarakat. Hal itulah yang ditanamkan oleh para kiai kepada santrinya.

Namun akhir-akhir ini, kemurnian mencari ilmu sudah mulai jarang ditemui. Hal ini bisa diketahui dengan munculnya ustaz-ustaz dan gus-gus baru di media sosial. Mereka yang baru belajar agama beberapa bulan kemudian merendahkan seorang kiai yang alim dan terhormat di masyarakatnya.

Bahkan ada seseorang yang baru masuk agama Islam kemudian dipanggil ustaz oleh pengikutnya. Dan yang terjadi adalah fatwa-fatwa yang dikeluarkan kerap sekali menyesatkan masyarakat Indonesia.

Seharusnya orang yang baru masuk Islam itu belajar dengan orang-orang Islam. Belajar dengan para alim ulama. Belajar dengan kiai-kiai pengasuh pondok pesantren. Bukannya malah menggurui mereka.

Ada lagi yang baru masuk Islam, dipanggil ustaz lagi oleh pengikutnya. Karena ceramahnya yang sering menjelek-jelekkan agama terdahulunya. Hal ini dilakukan juga tidak terlepas agar viewer-nya makin banyak. Makin banyak viewer, makin banyak job pastinya.

Baca juga:

Bagi mereka, agama seolah sudah menjadi barang dagangan. Mereka sudah tidak memikirkan apakah yang dikatakan benar atau salah, yang penting viewer naik penghasilan naik.

Ada juga orang yang sering membahas kajian-kajian pesantren, padahal pesantren saja belum pernah ia rasakan. Menganalisis fenomena pesantren seolah ia adalah orang yang sedang berkecimpung di dunia pesantren.

Dengan alibi menjadi santri tak harus mondok di pesantren. Saya tidak menyalahkan argumen tersebut, namun bukan berarti mereka yang tidak mondok dengan yang mondok sama.

Jika bukan ahlinya, lebih baik tidak perlu ikut campur, apa pun itu. Sesuatu, apabila dipegang bukan pada ahlinya, ya tinggal menunggu kerusakannya. Kalau bukan ahli agama, gak perlulah sok bicara-bicara soal agama, apalagi sampai memberi fatwa. Itu hanya akan merusak masyarakat. Kalau mau dagang, cari yang lain yang lebih halal.

Mari jaga kemurnian agama. Karena dengan kita menjaga, Indonesia akan aman sentosa.

Muchammad Mugiono
Latest posts by Muchammad Mugiono (see all)