Jak-Ngajak, Gotong Royong Merajut Kebersamaan, Toleransi, dan Perdamaian di Masyarakat Madura

Dalam kerja bakti pemindahan kandang sapi, misalnya, memerlukan banyak orang untuk mengangkat kandang dari tempat asal ke tempat yang lain. Sehingga perlu kesamaan rasa, keseimbangan, dan saling pengertian dalam rangka mengangkat kandang tersebut ke tempat tujuannya.

Kedua, toleransi. Masyarakat memiliki karakter dan fisik yang berbeda-beda satu sama lain. Dengan demikian, perlu rasa toleransi yang jernih dalam rangka mencapai sebuah tujuan.

Acara Jak-Ngajak akan terlaksana ketika satu orang kuat akan mengerti orang lain yang lemah, sehingga yang kuat bersedia mengerjakan hal berat dan yang lemah akan mengerjakan hal yang ringan. Karena dalam sebuah acara Jak-Ngajak tidak semua pekerjaan berat dan tidak semuanya ringan.

Misalnya, dalam acara pembangunan rumah. Mengangkat banyak batu bata yang bertumpuk adalah pekerjaan berat, sedangkan mengambil palu dan paku adalah pekerjaan ringan. Dengan demikian, toleransi satu sama lain akan dapat menjalankan pekerjaan secara bersama-sama hingga mencapai tujuan.

Toleransi layak mendapatkan perhatian dari seluruh komponen masyarakat Indonesia. Hal tersebut karena di usia ini banyak sekali pengerusan budaya lokal yang sebelumnya sarat dengan nilai toleransi. Sehingga lambat laun kehidupan sosial masyarakat bergeser pada sikap individualisme, sejalan dengan dunia framing dalam teknologi yang mengurangi kontak sosial secara langsung di masyarakat pengguna. Semuanya bisa kembali pada semula apabila masyarakat sadar akan sisi lain yang negatif dari era teknologi, serta tetap bangga pada budaya sendiri.

Ketiga, perdamaian. Dalam budaya Jak-Ngajak, setiap orang yang diminta tolong tidak boleh menolak ajakan si punya hajat, kecuali dengan alasan yang sangat tidak mungkin, seperti sakit. Apabila tanpa alasan seseorang menolak ajakan, maka kemungkinan besar dia akan dibenci dan dikucilkan dari kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, Jak-Ngajak secara tidak langsung mencoba melestarikan perdamaian satu sama lain dengan cara pengertian dan tolong-menolong. Bahkan dalam keadaan mendesak, masyarakat akan berbondong-bondong membantu tanpa diundang, misalnya acara kematian.

Semua lapisan masyarakat, secara tidak langsung terkatakan secara lisan maupun tertulis, memiliki harapan akan bertahannya kebudayaan lokal yang sarat dengan nilai toleransi, gotong royong, dan perdamaian. Namun demikian, setiap orang tidak bisa hanya berharap agar orang lain yang melakukannya, sementara dirinya sendiri tidak mau bertindak untuk sesama dan bersama, melainkan setiap individu memiliki kewajiban yang sama untuk meneruskan kebudayaan walaupun sudah dalam dunia kerja yang berbeda satu sama lain.

Baca juga: