Jam Rumah Sakit

Jam Rumah Sakit
©YouPic

Suaranya ditelan oleh keheningan ruangan itu, bercampur suara takbiran yang sedang bersahut-sahutan dan dentang jam rumah sakit terkutuk.

Malam itu, beberapa detik sebelum hari raya Idulfitri tiba, Dea hanya mendengar sayup-sayup suara bel panggilan pasien yang berdentang tak karuan. Tapi, malam itu, ia sendiri, berjaga di lantai lima bangsal rumah sakit yang diisi oleh 5 pasien Covid–dua di antaranya ialah lansia–dan 2 pasien DBD yang tengah terbaring lemah, menunggu diganti infusnya yang sudah mulai habis terganti darah yang mulai merayap naik melewati selang menuju pucuk kantung.

Dea mengerjap, menampar pipi kiri dan kanan seraya memakai kembali baju hazmat yang 5 menit lalu baru saja ia lepas. Matanya mulai berkunang-kunang. Bibirnya gemetar menahan emosi dan rasa kantuk yang luar biasa. Peluh-peluhnya menetes melewati maskernya yang terdiri dari tiga lapis; KN95 dan dua masker medis lain, serta pelindung muka yang menutupi sekaligus kacamatanya.

Jam di kantor perawat tempatnya berjaga berdetak lambat sekali, diiringi suara takbir yang menggema dari musala sebuah kompleks rumah di samping rumah sakit tempat Dea bertugas sekarang. Dea sedang membolak-balik dokumen kiriman kasir terkait pasien yang baru saja tiba, sampai bel terkutuk itu berdentang-dentang lagi tak karuan. Setelahnya, ia tersadar dengan pakaian yang sudah ia kenakan 35 menit lalu, setelah 5 menit sebelum itu ia baru saja mencopotnya sebelum akhirnya memakainya lagi.

Sekali lagi Dea mengumpat, persetan sebutnya. Ia dibiarkan berjaga sendirian pada shift yang harusnya bukan merupakan jadwalnya. Tapi mau bagaimana lagi, hanya dia yang membutuhkan uang lembur itu. Sedang para perawat lain lebih memilih dipecat daripada mengambil jatah hari raya.

Bodoh sekali mereka, pikir Dea. Uang lembur yang begitu banyaknya mereka tolak. Ia memikirkan itu sambil tersenyum-senyum sendiri; senyum yang hanya bisa dirasakan olehnya di balik masker tiga lapis itu.

Tersenyumkah Dea? Entahlah. Ia hanya terlihat seperti gumpalan yang dibungkus kertas yang sedang menatap dokumen tanpa reaksi apa pun. Tapi, di pojokan kertas yang digenggam Dea terlalu lecek, Dea menggenggamnya terlalu kuat. Lalu ia banting dokumen itu setelah bunyi bel mulai muncul kembali mengganggu konsentrasinya.

Ia keluar dari ruangan itu menuju kamar tempat bel itu dibunyikan. Dari langkahnya dan cara dia berjalan menuju kamar itu, ia seperti berniat menghantam si pasien dengan benda apa pun. Napasnya seperti memburu sesuatu yang sudah diincarnya bertahun-tahun. Sambil menggenggam kotak berisi cairan infus baru, ia buka pintu kamar pasien yang sedari tadi memencet tombol panggilan bantuan perawat.

Saat Dea masuk, kamar itu ternyata kosong. Dua ranjangnya belum terseprai, serta tak ada pula bantal dan selimut. Kursi untuk penunggu pasien pun tergeletak vertikal dengan kakinya berada di atas. Gorden penyekat yang terbuka serta pendingin ruangan yang mati menjadi tanda terakhir jika kamar ini memang belum digunakan.

Dea mendengus, ia berpikir tak mungkin salah melihat cahaya yang menyala pada kolom besi yang memuat nomor kamar si pasien. Ia mulai mengumpat rumah sakit itu, segala fasilitasnya mulai rusak dan payah. Bahkan, belnya pun menunjukkan tempat yang salah. Tak mungkin orang sepertinya bisa kehilangan konsentrasi, pikir Dea.

Dea melangkah mundur, diikuti arogansinya yang sedari tadi timbul tenggelam di alam bawah sadarnya. Tapi, itu semua hanya ia yang tahu, perasaan dongkol yang ada di balik baju hazmat berlapis yang ia kenakan dan gertakan gigi yang selalu beradu di balik berlapis-lapis masker yang menutup mulutnya.

Setelah sampai di ruang tempat perawat menunggu, ia menatap cermin yang ada di sana. Pikirannya berontak, apakah akan melepas hazmat itu atau dibiarkan saja menempel di tubuhnya. Toh, bel-bel bajingan itu akan berdentang dan ia pasti akan repot sekali mengenakan kembali hazmat busuk itu.

Tiba-tiba bel berbunyi kembali, dan ia bersyukur keputusan melepas hazmat yang sedari tadi ia pikirkan tiba-tiba merengkuh jawaban lain; bel panggilan itu berbunyi kembali. Maka dengan sigap, ia berjalan menuju kamar pasien yang berbunyi itu. Lalu setelah beberapa langkah, ia kembali pada kamar sebelumnya; kamar yang kosong tadi. Tak mungkin, pikirnya. Kamar itu kosong dan berarti mustahil bel itu berasal dari kamar itu.

Dea melihat jam yang ada pada kamar itu dan tatapannya terpaku pada komponen jamnya yang hilang. Jarum detiknya tak ada. Tapi, beberapa jam memang seperti itu. Ia tak gubris pemandangan yang dilihat matanya seraya keluar dari kamar itu sambil membanting pintu kamar pasien itu. Dua kali Dea salah melihat kamar berapa yang memencet bel bantuan perawat yang bunyinya tak karuan dan mengganggu itu.

Dea kembali sambil berlari ke ruang perawat. Ia kelimpungan sekaligus kebingungan. Lalu ia menatap jam di ruangan itu, jam rumah sakit tempatnya bertugas sekarang. Ia menatap kosong jam itu, menandai bagian-bagian detiknya, menitnya, dan jamnya. Badannya menggigil emosi. Tapi, hanya Dea-lah yang tahu apa yang ia rasakan di balik hazmat yang ia kenakan dan masker tiga lapis yang menutup gerak mulutnya itu.

Lalu, matanya menangkap sesuatu, ia melihat seseorang yang tergeletak di atas meja kerja perawatnya, dengan masih mengenakan baju hazmat yang lengkap. Bukankah hanya dia seorang yang sekarang mengambil jam jaga, sedangkan teman-teman lainnya mengambil libur untuk merayakan lebaran besok?

Ia dekati tubuh yang tergeletak di atas meja kerjanya. Tiba-tiba ia mundur beberapa langkah, lalu terduduk, seperti terpeleset jatuh. Matanya terbelalak dan mulutnya terkunci melihat sesosok di depannya. Ia tiba-tiba berteriak keras, berteriak kencang sekali. Tapi, suaranya ditelan oleh keheningan ruangan itu, bercampur suara takbiran yang sedang bersahut-sahutan dan dentang jam rumah sakit terkutuk itu.

    Raflidila Azhar
    Latest posts by Raflidila Azhar (see all)