Jangan Main-Main dengan Corona!

Jangan Main-Main dengan Corona!
©BBC

Jangan main-main dengan Corona!

Nalar Warga – Saya bukan siapa-siapa. Tapi tugas saya sebagai rakyat sekarang adalah berteriak sekencang-kencangnya agar didengar para pemangku kebijakan.

Mari berteriak bersama: “Indonesia, jangan main-main dengan Corona!” Ulangi terus biar didengar. Biar kita semua waspada.

Jangan anggap Corona ini tidak berbahaya karena tidak mematikan. Bayangkan, virus ini bisa menjangkiti orang seantero planet dalam waktu sekejap. Betapa ia sakti mandraguna.

Mungkin benar tingkat kemampuan membunuh virus ini cukup rendah, antara 2-4 persen dari total orang terjangkiti. Tapi senjata utama Corona bukan di situ. Senjata utamanya adalah kelicikan menyebar diam-diam secara amat cepat.

Coba bayangkan skenario ini: jika di sebuah kota yang terjangkiti berjumlah 10.000 orang. Sebagian besar, sekitar 80 persen, akan merasakan gejala ringan seperti batuk dan sakit tenggorokan.

Tapi dari 10.000 orang itu, akan ada 20 persen yang menderita cukup parah dan membutuhkan perawatan di rumah sakit. Itu artinya, akan ada 2.000 orang yang harus dirawat. Rumah sakit di kota itu butuh 2.000 tempat tidur, ventilator, infus. Entah berapa ribu masker, alat suntik, alat tes yang dibutuhkan. Dokter dan perawat pasti tidak tidur.

Dari 2.000 yang ditangani secara medis, 4 persen (sekitar 80 orang) akan meninggal. Jika peralatan medis tidak memadai, jumlah yang meninggal dipastikan akan lebih tinggi. Itulah kenapa WHO begitu khawatir jika virus ini mewabah di negara-negar miskin dan berkembang. Kemampuan sistem kesehatan negara-negara itu dikhawatirkan tidak akan mampu menanganinya.

Tapi kota mana yang siap menampung orang sakit bersamaan dalam jumlah yang banyak seperti itu? Tidak di Cina, tidak di Italia, tidak di Amerika. Kalau ini menimpa Indonesia, saya hanya bisa membayangkan kengeriannya.

Baca juga:

Saya tidak sedang menakut-nakuti. Tapi hanya ingin mengingatkan bahwa urusan Corona ini cukup serius. Ia virus yang cerdas. Agar terkenal, ia serang dulu orang-orang tenar. Tom Hank, artis top Hollywood, tiba-tiba terjangkiti. Istri perdana menteri Kanada ia serang. Beberapa anggota kabinet, menteri dan penasihat Presiden Iran sakit dan meninggal. Sekarang menteri Perhubungan Indonesia, Pak Budi, harus diisolasi.

Lah, kalau orang-orang top seperti mereka yang punya standar hidup lebih higienis, sehat, dan lebih terjaga bisa terjangkiti, apalagi kita-kita!

Buang jauh-jauh pikiran Corona takut matahari dan takut gerah. Atau Corona tidak akan menjangkiti orang yang sering wudu, qunut, dan suka minum susu kuda liar. Virus ini tidak peduli agama dan keyakinan.

***

Apa yang harus dilakukan pemerintah? Saya bukan ahlinya.

Tapi intinya, Jokowi dan Ma’ruf Amin harus lebih serius. Jangan mikir ambil untung ekonomi ketika melihat negara lain tersungkur. Jangan mikir dulu bagaimana menyelamatkan ekonomi. Pikirkan dulu bagaimana menyelamatkan nyawa. Ekonomi akan lumpuh dengan sendirinya jika kasusnya seperti Italia! Semua akan kena kalau tidak waspada.

Belajar saja sama Singapura dan Korea yang dianggap berhasil mengerem laju virus. Juga Vietnam. Korea melakukan metode agresif testing. Puluhan ribu dia tes setiap hari. Yang positif diikuti dan diawasi. Yang parah ditangani.

Bisa juga model karantina (lock down) ala Wuhan dan Italia sekarang. Los Angeles tempat tinggal saya juga mulai menerapkan karantina. Model ini terpaksa dilakukan jika kasus sudah di atas lebih 1.000 orang.

Kenapa karantina dan lock down? Tujuannya agar memperlambat penyebaran virus.

Ingat, senjata utama Corona adalah kemampuannya menyebar secara diam-diam sengan sangat cepat. Eksponensial. Jika minggu ini ia menyerang 1.000 orang, dalam dua minggu ke depan, jika tanpa lock down atau social distancing, kasusnya bisa bertambah menjadi 4.000.

Dengan menghentikan semua kegiatan publik seperti sekolah, kampus, jumatan, konferensi, dan lain-lain, senjata utama Corona bisa kita tangkal. Juga dengan memperlambat penyebaran itu, kita bisa membunuh Corona. Inkubai virus itu sangat pendek jika tidak berada dalam tubuh manusia.

Yang paling penting, lock down membuat jumlah kasus lebih sedikit. Jika jumlah lebih sedikit, rumah sakit masih bisa menangani kasus-kasus berat.

Ayo, berteriak yang kencang sekali lagi: Indonesia, jangan main-main dengan Corona!

*Zezen Zaenal Mutaqin