Jangan Mendewakan Bentuk Demonstrasi

Jangan Mendewakan Bentuk Demonstrasi
┬ęTwitter

Demontrasi itu, entah damai ataupun kaos (ada lagi kategori di luar dua lategori lazim ini?), bukan menjadi syarat mutlak untuk diikuti. Bahkan demonstrasi sendiri juga bukan syarat mutlak untuk menyampaikan aspirasi.

Ragam cara tersedia dan/atau disediakan. Ada teatrikal, musik, dan medium-medium lainnya sebagai sarana penyampaian aspirasi. Menentukan mana yang dipakai, tergantung pada pertimbangan tujuan, signifikansi, serta dampak. Dan yang utama adalah kondisi objektif di lapangan.

Jadi, demonstrasi tak melulu soal orasi. Bukan kategori-kategori ideal di atas itu yang harus dilayani. Justru ia yang harus melayani pertimbangan-pertimbangan di atas. Jangan dibalik.

Pernah dalam suatu konsolidasi saya berdebat dengan seorang kawan yang ideologinya mengharuskan ia untuk melakukan kaos di setiap aksi demonstrasi. Pokoknya seperti iman yang harus dijalankan tanpa pertimbangan.

Apa aspirasi yang ia hendak suarakan, berapa massa yang ia punya, dan berapa aparat yang akan dihadapi, semua nyaris hilang dalam pertimbangan. Saya akhirnya memutuskan untuk tidak ikut bergabung.

Di lain kesempatan, dengan sangat membosankan, saya dipaksa untuk mendengarkan nasihat dari seorang kawan soal keharusan aksi demonstrasi yang damai. Itu tanpa pertimbangan yang memadai.

“Dunia sudah berubah, aksinya harus beradab,” begitu kira-kira yang ia sampaikan.

Padahal, pilihan-pilihan di atas, orasi, teatrikal, musik, entah sifatnya adem ayem atau subversif, hanyalah pilihan taktis yang sepenuhnya bergantung pada pertimbangan-pertimbangan riil.

Kalau kategori-kategori ideal di atas dipaksakan oleh mahasiswa semester awal, atau orang awam pada umumnya, okelah, masih masuk akal. Tapi kalau ini justru menjadi perdebatan-perdebatan sengit sesama “anak pergerakan” yang jam terbang konsolidasi dan aksi demonstrasinya sudah tak terhitung lagi, ini yang menjadi masalah.

Di bawah ancaman pentungan, moncong senjata, dan segala rupa tindak represif yang bisa dilakukan kapan saja oleh tentara terhadap rakyat Urutsewu, memilih demonstrasi terbuka dengan pesan-pesan eksplisit seperti orasi Bung Karno bisa-bisa hanya mengundang bala.

Atau pada masalah di Papua sana yang sudah sungguh kronis, yang dengan itu meminta perhatian serius pemerintah. Mengharuskan gerakan untuk orasi damai, adem ayem lagi guyub hanyalah lelucon yang kurang humor.

Sekali lagi, bukan masalah damai atau kaos, tapi seberapa besar pilihan-pilihan itu bisa punya signifikansi atas tujuan-tujuan yang ingin dicapai.

Kalau sebagai kekecewaan atas kabut asap yang sudah menelan ratusan korban jiwa, dan ratusan ribu yang terkena ISPA, memenggal leher pemilik perkebunan kelapa sawit, misalnya, yang dengan itu dapat mengubah situasi, maka hal tersebut bukan barang haram yang harus selalu tabu.

Jadi, jangan memberhalakan aksi damai. Jangan pula mendewakan aksi kaos.

Untuk berbagai aksi yang telah berlangsung di beragam daerah, yang dengan itu mendapat banyak apresiasi, seberapa jauh ini berpengaruh terhadap tujuan-tujuan yang hendak dicapai? Jika tuntutan-tuntutan tersebut tidak digubris oleh pemerintah, langkah apa lagi yang diambil selanjutnya?

Baca juga:
Latest posts by Andi Ar-Rahman (see all)