Jangan Padamkan Semangat Juangmu, Wahai Mahasiswa!

Jangan Padamkan Semangat Juangmu, Wahai Mahasiswa!
Ilustrasi: pixabay

Manusia adalah makhluk yang mulia. Ia ibarat cahaya matahari yang menyinari alam semesta dengan kekuatannya. Dengan akalnya, ia mampu membangun jiwa-jiwa yang terjebak pada kegelapan demi menuju entitas kehidupan yang lebih bercahaya dalam bimbingan Ilahi.

Kehidupan semakin membawa manusia kepada titik tanda tanya yang penuh dengan tantangan. Realitas kehidupan yang serba pragmatis dan hedon telah mengobrak-abrik akal dan perilaku manusia sehingga menjadi tidak sehat.

Hidup serba perhitungan demi keuntungan. Fokusnya hanya pada target kesenangan belaka, bahkan diakibatkan era globalisasi yang sangat pesat ini.

Kecanggihan teknologi yang membuat kehidupan serba instan telah menciptakan manusia-manusia yang lupa akan tujuan hidup sebenarnya. Mereka telah dicengkram oleh kehidupan yang tidak lagi mengenal nilai-nilai kemanusiaan. Sebab yang ada di kepala mereka hanyalah pemikiran yang mencari solusi atas kebutuhan nafsu syahwat belaka.

Sering muncul di benak ini pertanyaan-pertanyaan dan pemikiran yang mengganggu tentang realita aneh yang tidak masuk akal sehat.

Pertama, korban-korban hegemoni dunia maya yang tidak sadar. Mengenai sebab masalah yang membuat manusia zaman ini terjebak pada sistem sosial yang tanpa mereka sadari mereka adalah korban-korban hegemoni dunia maya. Hanya dengan melihat layar handphone, banyak orang terhipnotis dan tidak sadar akan dunia nyata yang sesungguhnya.

Apakah dunia maya sebegitu pentingnya dari dunia sesungguhnya? Seakan-akan image di dunia maya perlu lebih baik dari image di dunia sesungguhnya. Sampai-sampai pencitraan menjadi gaya hidup sehari-hari. Hal ini sama saja menyuburkan sifat menipu dalam diri sendiri.

Kedua, interaksi  lawan jenis. Di zaman ini tak lagi mudah membedakan mana pasangan insan yang telah halal dan mana yang belum. Karena begitu banyak postingan-postingan media sosial maupun yang terlihat langsung oleh mata kepala terlihat nyata suatu adegan atau aktivitas interaksi layaknya suami istri. Hal ini sama saja membiarkan diri diperbudak oleh nafsu sendiri.

Ketiga, pemerintah selalu melakukan pencitraan dan mengumbar janji palsu. Jika kita menyorot dunia kepemerintahan, ternyata di dalamnya masih banyak binatang buas yang memangsa hak rakyat.

Begitu hebatnya mereka tampil dan terus memberikan pencitraan kepada masyarakat hanya untuk kepuasan diri sendiri. Mereka hadir bukan sebagai manusia yang menjawab berbagai tantangan zaman, tapi malah menjadi aktor kesenjangan sosial.

Sampailah pada pertanyaan puncak, adakah suatu sistem yang mampu memperbaiki kembali kehidupan ini yang di dalamnya terpenuhi dengan kedamaian, kesejahteraan, dan keadilan yang penuh cinta?

Solusi atas masalah-masalah di atas hanyalah dengan mengajak kembali para pemimpin-pemimpin negeri dan para pemangku kebijakan kembali kepada fitrahnya. Tetapi mungkinkah mereka mampu kembali kepada fitrahnya? Jika selama ini masih saja terdengar teriakan-teriakan perlawanan kepada para elite negeri yang hanya mampu memberikan kesengsaraan kepada masyarakat. Semoga saja dengan teriakan-teriakan perlawanan tersebut mampu membantu mereka kembali kepada fitrahnya.

Di zaman ini, sebutan mahasiswa tak lagi sakral di tengah-tengah masyarakat. Telah banyak mahasiswa yang masuk dalam dunia pragmatis dan hedon yang hanya bisa memamerkan style dan mengandalkan orangtua sebagai pemenuhan kebutuhan pragmatisnya.

Mereka tak lagi berpikir bagaimana melakukan perubahan dan mampu memberikan arti kepada masyarakat, tetapi yang ada di dalam kepalanya hanyalah kesenangan belaka, sehingga membuat mental mereka menjadi mental kerupuk yang sangat mudah baper.

Tetapi saya yakin masih ada segelintir mahasiswa yang tetap konsisten dengan nilai-nilai perjuangan. Mereka akan melakukan perubahan di mana dunia mereka hanya dunia belajar yang dipenuhi dengan ide-ide yang cemerlang dan semangat juang yang tak pernah padam.

Kami tunggu kedatangan kalian, wahai mahasiswa, yang masih konsisten untuk menjawab tantangan zaman yang telah mencengkram kehidupan. Sebab yang berjuang mungkin menang dan yang tidak berjuang mustahil menang.

*Ray Akbar Ramadhan, Mahasiswa STIE Muhammadiyah Mamuju

___________________

Artikel Terkait: