Jejak Pendidikan Karl Marx

Jejak Pendidikan Karl Marx
©Gramho

Jejak pendidikan merupakan suatu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari manusia. Bahwa manusia sudah mendapatkan pendidikannya semenjak dilahirkan di muka bumi ini.

Baik terlahir dari keluarga kaya, sederhana, ataupun miskin, manusia tetaplah mendapatkan pendidikannya semenjak ia dilahirkan. Terutama pendidikan tersebut datang dari orang tuanya. Orang tuanyalah yang mendidik anaknya untuk seperti apa, beragama apa, berbahasa apa, berbudaya yang bagaimana, semua itu diajarkan oleh orang tuanya.

Begitu pula dengan Karl Marx, ia sama halnya dengan manusia pada umumnya, yang turut memiliki jejak pendidikan. Marx terlahir dari keluarga yang menganut agama Yahudi, maka Marx pun megikuti agama orang tuanya. Kemudian ketika ayah Marx berpindah agama dari Yahudi ke Kristen Protestan, Marx dan saudaranya pun juga mengikutinya. Hal ini menunjukan bahwa orang tua benar-benar menjadi pendidik pertama bagi anaknya.

Semenjak kecil, Marx sudah mendapatkan pembelajaran dari orang tuanya di rumah atau home school. Baru kemudian setelah menginjak usia 12 tahun, Marx melanjutkan ke sekolah Jesuit, Firdrich Wilhelm Gymnasuium, Trier. Di sana Marx belajar selama 5 tahun.

Pada Oktober 1835, Marx mulai masuk di Universitas Bonn, Prusia. Marx mengambil jurusan hukum dan fokus dalam biadang yurisprudensi. Namun sebenarnya Marx sendiri tidak minat untuk mengambil fakultas hukum. Ia justru  ingin mempelajari sastra dan filsafat. Namun ayah Marx tidak menyetujuinya dan mengatakan bahwa ilmu hukum lebih bermanfaat untuk karier.

Jurusan hukum tidak menghalangi minat Karl Marx. Ia mengikuti komunitas penyair di Universitas Bonn guna menjaga minatnya terhadap sastra dan filsafat. Komunitas ini memiliki sudut pandang radikal. Bahkan komunitas ini tidak pernah lepas dari pantauan polisi setempat. Selain itu, Marx juga bergabung dengan kelompok pemabuk, Landsmannschaft der Treveraner (Trier Tavern Club).

Marx menghabiskan hari-harinya untuk untuk mabuk-mabukan, membuat onar, memburu wanita. Pernah suatu hari Marx berkelahi dengan anggota Korps Borussia universitas. Hal ini dialami oleh Marx sekitar dua semester semenjak dirinya masuk ke Universitas Bonn. Sampai akhirnya Marx dipindahkan oleh ayahnya ke sekolah lain, yaitu Universitas Berlin jurusan ilmu filsafat dan hukum.

Baca juga:

Sekitar Oktober 1836, Marx mulai belajar di Universitas Berlin. Ia mulai lebih serius belajarnya, dan minatnya akan filsafat tetap dijaga. Karena bagi Marx, dengan filsafat, segala sesuatu dapat dicapai. Marx mulai tertarik dengan filsafat G.W.H Hegel. Pada saat itu Hegel baru saja meninggal dan filsafatnya masih hangat-hangatnya diperdebatkan oleh  filsuf seantero Eropa.

Pada masa itulah Marx bergabung dengan Doktorklub (Doctor’s Club) di Universitas Berlin, sekumpulan mahasiswa yang setia membahas berbagai pemikiran Hegel. Ia mulai memikirkan untuk menggabungkan studinya (Hukum) dengan Filsafat.

Melalu diskusi-diskusi inilah Marx mulai bersentuhan dengan beberapa kelompok Hegelian Muda seperti Adolf Rutenberg, Bruno Bauer, dan Ludwig von Feurbach. Berbeda dengan Doktorklub yang cenderung menjadi Hegelian sayap kanan dan terjebak dengan metafisika Hegel, mereka memapankan tafsir kiri dari pemikiran Hegel dengan berpikir secara kritis dalam mengkritik kondisi sosial, politik, agama dengan menggunakan dialektika Hegel.

Marx juga mempelajari beberapa bahasa seperti bahasa Inggris, bahasa Italia, bahasa latin, dan sejarah seni. Pada 1840, Marx mengedit naskah Hegel, Filsafat Hegel Mengenai Agama (Hegel’s Philoshophy of Religion) dengan bekerja sama dengan Bruno Bauer.

Pada April 1841, Marx menyelesaikan studi doktor filsafat di Universitas  Jena dengan disertasinya yang berjudul The Difference between the Domocritean and Epicurean Philosophy of Nature (Perbedaan antara Filsafat Demokritean dan Epicurean mengenai Alam).

Awalnya disertasi ini dibuat untuk menyelesaikan jejak pendidikan di Universitas Berlin. Namun karena universitas ini masih sangat konservatif, Marx akhirnya memindahkan disertasinya di Universitas Jena.

Dalam disertasi tersebut menuai banyak kontroversi. Pasalnya, Marx mengatakan bahwa teologi harus mengamini dan menyerah terhadap filsafat yang lebih superior. Hal ini jelas tidak diterima oleh profesor di Universitas Berlin.

Referensi:

Nugroho, Wahyu Budi. 2019. Memahami Kembali Karl Marx, Marxisme, dan Perkembangannya

    Muchammad Mugiono
    Latest posts by Muchammad Mugiono (see all)