Jibaku Dahsyat Leksikografis Hassan Shadily dan John M. Echols

Jibaku Dahsyat Leksikografis Hassan Shadily dan John M. Echols
©StockSnap/Pixabay

Seabad sudah sang leksikograf kebanggaan Pulau Madura, Hassan Shadily, yang lahir di Pamekasan, 20 Mei 1920 silam. Karya legendarisnya, An Indonesian-English Dictionary bersama John M. Echols tahun 1963 dan An English-Indonesian Dictionary pada 1975 mengawali sejarah perkamusan modern Indonesia dan dunia.

Karyanya adalah produk dahsyat dari jibaku kerja leksikografis dengan John M. Echols. Kenapa begitu?

Secara tradisionalis, leksikografi dikonsepsi sebagai cabang linguistik yang mencakup pengumpulan data, seleksi data, dan pendeskripsian unit kata atau kombinasi kata dalam satu atau lebih bahasa. Dalam beberapa kasus, ada dua atau lebih bahasa yang dimasukkan dalam kamus secara serentak. Di sinilah hebatnya!

Dengan kata lain, leksikografi dapat dimengerti sebagai cabang linguistik yang berkaitan dengan penyusunan kamus, dari perencanaan hingga penerbitan. Tentunya itu bukan pekerjaan mudah dan asal-asalan.

Hausmann (1985) berpendapat bahwa leksikografi mencakup dua bidang kajian, yaitu leksikografi praktik dan leksikografi teoretis. Hal itu diperkuat oleh pendapat Bergenholtz dan Tarp (2002) yang menyatakan bahwa ada dua hal yang dikaji dalam leksikografi, yaitu pembuatan kamus dan penelitian kamus.

Hassan Shadily bersama John M. Echols membuat kerja leksikografi praktikal yang mencakup penulisan dan pengeditan kamus. Bukan hanya sampai di situ jibaku mereka, ada leksikografi teoretis yang berfokus pada studi bahasa dan kosakata dalam konteks budaya yang juga harus dilalui. Dan level eksekusi yang juga harus sempurna yang berupa metode terbaik untuk mengompilasi kamus.

Sejenak melihat lini masa sejarah perkamusan di Indonesia yang dimulai dari kamus yang berupa daftar kata atau glosarium. Karya leksikografi tertua Indonesia ini bentuk fisiknya berupa daftar kata Cina-Melayu sebanyak 500 kata pada abad ke-15.

Setelah itu, terbit daftar Italia-Indonesia yang disusun oleh Pigapetta (1522). Belanda yang sudah lama di Indonesia juga tak mau kalah. Lahirlah kamus berbahasa Belanda oleh Frederick de Houtman yang berjudul Spraeckende Woord-boek, Inde Maleysche ende Madagaskarsche Talen met vele Arabische ende Tursche Woorden (1603) dan karangan Casper Wiltens dan Sabastianus Danckerts yang berjudul Vocabularium ofte Woordboek near order vanden.

Dengan melihat sekilas runut sejarahnya, bahwa sebagian besar penyusun kamus bukan orang yang berasal dari daerahnya sendiri. Kebanyakan dari mereka adalah orang asing yang tertarik dengan bahasa Melayu atau bahasa daerah yang ada di Nusantara.

Geliat tradisi leksikografi di Indonesia baru mulai dirasakan pada 1916 dengan munculnya kamus dwibahasa dengan judul Baoesastra Melajoe-Djawa yang disusun oleh R Sastrasoeganda.

Di samping itu, ada juga kamus yang berkaitan dengan bahasa Indonesia atau bahasa Nusantara yang disusun oleh penulis luar Indonesia. Misalnya, di Amerika Serikat telah diterbitkan An Indonesian-English Dictionary oleh John M. Echols dan Hassan Shadily (1963) dan An English-Indonesian Dictionary oleh pengarang yang sama (1975).

Kemudian juga di Prancis ada Dictionary Indonesian-Francis oleh La Brousse (1984), di RRC ada Kamus Baru Bahasa Indonesia-Tionghoa oleh Liang Liji (1989).

Di luar dugaan, kamus yang disusun oleh Hassan Shadily dan John M. Echols ternyata laris manis sehingga dicetak berkali-kali sampai sekarang.

Tak hanya sampai di situ, Hassan Shadily makin produktif dengan menyusun Ensiklopedi Indonesia dalam 7 jilid dengan jumlah keseluruhan 3.500 halaman (1980) bekerja sama dengan Penerbit Buku Ichtiar Baruvan Hoeve dan Elsevier Publishing Projects. Ia menjadi pemimpin redaksi saat menyusun ensiklopedi tersebut.

Semenjak diterbitkan pertama kali pada 1976 oleh PT Gramedia Pustaka Utama, kamus tersebut sudah berkali-kali mengalami cetak ulang. Pelan tapi pasti, kamus itu menggeser Kamus Oxford yang sudah lebih dulu dipakai. Apa yang unggul dari kamus ini?

Tentunya kelebihan leksikografi kamus karya Hassan Shadily dan John M. Echols berhubungan dengan pengalaman kebahasaan Hassan Shadily. Pengalaman bahasanya dimulai sejak Hassan menempuh pendidikan HIS di Pamekasan (1929), MULO di Malang (1937), dan MOSVIA di Yogyakarta (1941). Kemudian mendapatkan kesempatan untuk belajar di Tokyo International School (1944), Military Academy Tokyo Japan (1945),dan Department of Social Science, Universitas Cornell (1952-1955) hingga meraih gelar master dalam bidang sosiologi.

Kematangan ilmu bahasanya makin terasa saat belajar di Cornell. Beliau berkenalan dengan Prof. Dr. John M. Echols (1913-1982) dan kelak menjadi mitranya dalam jibaku leksikografinya

Walaupun sempat ada kamus Nusantara yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei Darussalam yang memuat leksikon bahasa Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia, kekuatan kamus Hassan Shadily dan John M. Echols ini tak terbantahkan dari sisi leksikon Melayunya. Terutama jika menukik tajam ke ranah bahasa daerah.

Sebagai contoh saat Hassan Shadily and John M. Echols memberikan definisi untuk kata “lanjaran” dalam kamus mereka pada Indonesian-English Dictionary cetakan ke-3 (Ithaca, N.Y Cornell University Press, 1989) dengan definisi “supporting pole for climbing plant”.

Jelas, model leksikon tersebut tidak bisa didapatkan kalau tanpa menggali kekayaan budaya daerah dan kearifan lokal.

Perhatian kekuatan leksikografi teoretis yang begitu dalam dari karya mereka. Hassan Shadily dan John M. Echols bekerja keras untuk mengembangkan teori tentang hubungan semantik dan struktural dari kata yang digunakan dalam leksikon-leksikon kamusnya. Sebuah gaya leksikografi yang dalam hingga menghunjam ke akar budaya ini sering kali disebut sebagai metaleksikografi.

Dengan melihat pengalaman mereka berdua, maka leksikografi itu tidak sekadar mengumpulkan kata dan menyusunnya secara alfabetis sebagaimana anggapan umum. Jibaku mereka berdua begitu keras!

Jibaku yang diawali dengan pengumpulan data yang berupa kata, penyeleksian kata yang sesuai dengan jenis kamus yang akan dibuat, sampai penentuan kata yang baku dan tidak baku, baik dari sisi penulisan maupun pembentukan kata.

Hassan Shadily dan John M. Echols pernah mengungkapkan tentang risiko yang mereka hadapi saat menyajikan kalimat dan ungkapan Inggris sebagai penjelas di samping padanan Indonesianya. Menurut mereka, dengan cara itu, leksikografi Indonesia dapat dikembangkan lebih lanjut. Ini merupakan cita-cita mulia yang memberi kesempatan bagi generasi berikutnya untuk mengembangkannya lagi lebih jauh dan dalam.

Hassan Shadily bersama John M. Echols telah melakukan pekerjaan yang luar biasa dan bermanfaat bagi banyak orang. Respek kami ucapkan kepadamu berdua.

Atas jasa-jasanya, maka pada 2014 Presiden RI menganugerahi Tanda Kehormatan berupa Satyalancana Kebudayaan untuk Hassan Shadily.

Long Life Education!

Yudho Sasongko
Latest posts by Yudho Sasongko (see all)