Jika Politik Identitas Tidak Berdaya, Mengapa Politik Uang Perkasa?

Menurut Gallup, isu politik identitas tidak menjadi hal penting dalam peristiwa politik AS. Ada 10 permasalahan penting yang dihadapi oleh AS mutakhir, yang tampaknya tidak termasuk politik identitas, meliputi kepemerintahan, COVID, ekonomi, imigrasi, biaya hidup tinggi alias inflasi, menyatukan negara bagian, pengangguran, relasi ras, perubahan iklim, dan kemerosotan moral/agama/etika. (gallup, 2021/12/3)

Ada juga yang mengatakan jika Amerika Serikat sebagai negara maju dan sudah ratusan tahun menikmati kemerdekaan tidak bisa dijadikan perbandingan atas Indonesia. Bukan tanpa alasan, AS memiliki perbedaan sejarah dan pengalaman dengan capaian ilmu pengetahuan dan teknologi maupun ekonomi begitu mencengangkan seantero dunia.

Sesungguhnya dengan penuh harap, Indonesia akan menuju ke sana dan seluruh elemen bangsa menyatakan ‘senjakala politik identitas’. Selebihnya, ia perlu pembuktian dalam kehidupan bersama.

Demi kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan kelompok dan golongan dengan cara membebaskan diri kita dari politik identitas, yang sama ‘ampasnya’ dengan ampas media sosial.

Kita sadar, identitas bangsa yang plural dan besar telah ditempa oleh zaman tidak serta-merta melupakan politik identitas. Karena itu, politik identitas yang tidak mampu merefleksikan apa-apa tentang kedamaian dan persatuan bangsa, kecuali hal-hal yang absurd dan jejadian.

Jika kita ingin melepaskan bayang-bayang monster kecil dalam kepala kita, yang dimulai dari identitas yang beragam menjadi identitas bangsa. Politik identitas seperti badut politik yang lucu, tetapi dari jenis badut “joker” yang menakutkan.

Semestinya kita tidak memusatkan perhatian pada kesalahan-kesalahan berpikir itu sendiri, tetapi belajar sesuatu yang berharga dari festival demokrasi melalui pra Pemilu 2024. Belajar dari sudut pandang yang berbeda akan menemukan jawaban dari pertanyaan mengapa kita mengalihkan perhatian pada pertarungan gagasan dan kreativitas.

Memang tidak semua orang berpendapat demikian adanya, karena kapan pun politik identitas ngebut hingga membuat koma dalam kehidupan bangsa sebagai kesalahan berpikir, malahan kita tidak menemukan jalan keluar.

Baca juga:

Terjadinya ujaran kebencian yang kemungkinan menumpangi politik identitas tidak bisa diharapkan mengiringi pemilu akibat bertentangan dengan tujuan untuk memainkan peran kebangsaan dan menjalin persatuan. Maka semua kasus ujaran kebencian andai sekecil apa pun tetap berada di luar jangkauan pengganggu kedamaian dan keharmonisan bangsa.

Ketika orang lain mendengar ujaran kebencian atau pernyataan kaum ‘sumbu pendek’ di balik radikalisme, mereka akan segera bertanya apakah politik identitas hanya untuk bahan jenaka atau canda yang disengaja.

Ujaran kebencian dan radikalisme merupakan kekeliruan yang akut dalam citra mental. Ujaran kebencian dan radikalisme tidak bisa dimiripkan dengan mekanisme kemalasan, keletihan, gangguan sirkulasi darah, keterbelahan, dan kebingungan menghadapi peristiwa politik yang tidak jarang mengejutkan.

Salah satu upaya penting yang perlu dilakukan oleh para penyelenggara pemilu dan masyarakat adalah mencoba untuk menyingkap kedok pengganggu kedamaian dan toleransi kehidupan yang berbeda-beda.

Faktor-faktor keterbelahan, kebingungan, kegembiraan, dan kemalasan politik kebangsaan tidak bisa dipaksa menjadi serangkaian penjelasan yang utuh. Polri sudah membentuk satuan tugas dan bersama KPU, Bawaslu, dan partai politik akan bergerak untuk menjaga ketertiban pemilu.

Merasuknya politik identitas dalam sendi-sendi kehidupan bisa mengubah konstetasi menjadi konstelasi kekacauan pemilu, yang pada akhirnya akan melemahkan semangat kebangsaan.

Pemanfaatan situasi politik identitas dengan ujaran kebencian berlarut-larut akan mengikis nilai tanda kedamaian dan melunturkan persatuan bangsa, yang sekian lama kita menjaga bersama.

Sekiranya titik tolak gagasan cemerlang dan kreativitas baru dari politikus dimungkinkan bisa pula mengurangi dampak buruk yang ditimbulkan oleh politik identitas. Hanya dengan dorongan untuk mementingkan kehidupan bangsa, ketimbang kepentingan pribadi dan kelompok, maka politik identitas perlahan-lahan akan ditinggalkan oleh para pendukungnya.

Halaman selanjutnya >>>
Ermansyah R. Hindi