Jilbab dan Kebebasan, Manakah yang Mampu Menjaga?

Jilbab dan Kebebasan, Manakah yang Mampu Menjaga?
©Liputan6

Orang sering keliru dengan berkata: jilbab tak ubah sebagai perisai di medan perang; di samping terus mempertentangkan antara jilbab dan kebebasan.

Bagi perempuan, jilbab itu dapat menjaga tubuh mereka dari mara bahaya. Bagi laki-laki, pakaian itu memungkinkan mereka untuk menjaga pandangan seksualnya.

Hemat kata, jilbab dinilai dapat meminimalkan terjadinya hubungan badan yang dianggap tak layak (tindak asusila seperti perzinahan; pemerkosaan).

Sedangkal itukah pikiran kita selama ini dalam memandang jilbab? Meski jilbab dapat mencegah kontak fisik secara langsung antara dua pemilik jenis kelamin berbeda, bukankah kecenderungan untuk berkontak juga ada dalam hati?

Sungguh, apa yang kita sebut sebagai fungsi jilbab, saya kira, hanya berkisar pada ungkapan: “Di antara bentuk pencegahan adalah ketidaktahuan.”

Ya, tubuh memang bisa saja kita jaga. Hanya ingat, mayoritas hati cenderung berkhianat.

Bukankah dengan demikian bahwa yang kita butuhkan itu adalah penjaga hati? Meski menggunakan “polisi-polisi syariat” sekalipun, apakah mereka akan mampu menjaga hati-hati yang berbeda?

Bagaimana mereka harus menghukum dan memenjarakan hati-hati yang berkhianat itu? Lagi pula, di dunia ini belum pernah ada istilah “penjara hati” untuk para hati yang berbeda dan berkhianat, bukan?

Baca juga:

Adapun klaim bahwa jilbab merupakan satu etika kesopanan, ini pun tak punya nilai kebenaran apa-apa. Tak ada dasar yang menguatkan klaim semacam ini.

Apa hubungannya etika kesopanan dengan menutup aurat? Atas dasar apa laki-laki dan perempuan harus kita bedakan? Bukankah etika kesopanan itu pada hakikatnya satu, bagi laki-laki dan perempuan? Dan bukankah jantung etika kesopanan itu adalah tindakan dan tujuan, bukan bentuk formal dan pakaian?

Jika kita beragumentasi bahwa jilbab hendak menjaga perempuan-perempuan dari mara bahaya yang ada, pertanyaannya, apakah dengan itu perempuan secara otomatis bisa terjaga? Bukankah mereka juga punya kemampuan yang sama sebagaimana laki-laki miliki dalam menjaga keamanan diri mereka sendiri? Lagi pula, mudarat jilbab jauh lebih banyak daripada manfaatnya.

Entah kita sadari atau tidak, dengan jilbab, apalagi yang serba-tertutup (yang hanya memperlihatkan kedua bola mata, misalnya), seorang perempuan bisa jadi akan terhalangi menggunakan hak asasinya, seperti mengejar pendidikan tinggi dan mencari penghidupan yang layak.

Bayangkan, misalnya, kalau seorang perempuan yang hendak belajar atau bekerja di tempat yang tidak memungkinkan mereka menggunakan jilbab, padahal pakaian itu merupakan keharusan yang wajib mereka taati.

Sungguh tradisi jilbab-jilbaban ini hanyalah rekayasa sosial. Sumbernya dari tradisi-tradisi klasik yang tak berdasar. Tradisi semacam ini sama sekali tak membuahkan manfaat apa-apa bagi kehidupan. Kita butuh cara-cara lain yang lebih selaras dengan kondisi kekinian kita sendiri, yakni dengan kebebasan.

Sebagai cara yang paling relevan, kebebasan tentu saja tidak lahir tanpa cela. Banyak juga penyalahgunaan atas kebebasan.

Hanya saja, seiring berjalannya waktu, terutama ditopang oleh tingkat pendidikan yang memadai, tiap orang akan mampu mengerti tanggung jawabnya, memikul dan menjalankan tugas-tugasnya, dan terbiasa dalam mengandalkan diri sendiri dan membela kehormatannya.

Halaman selanjutnya >>>
    Latest posts by Maman Suratman (see all)