Joko Pinurbo: Keindahan Manusia Haruslah Keindahan Bahasa

Joko Pinurbo: Keindahan Manusia Haruslah Keindahan Bahasa
©Kompas

Untuk sementara, saya mencatat dua kematian yang benar-benar menyentuh perasaan kesusastraan saya. Pertama, kepergian seorang pemikir, Ignas Kleden. Dia orang besar di dalam kritik sastra Indonesia. Kedua, jalan pulang seorang penyair, Joko Pinurbo (Jokpin).

Jokpin adalah karakter yang amat penting untuk penulisan puisi Indonesia. Pada Ignas, saya merasakan bahwa bahasa rasional harus juga puitis. Analisis sosial dengan kritisisme humaniora bisa datang dari teks-teks sastra.

Pada Jokpin, saya mengalami pengalaman literasi yang intim dengan bahasa Indonesia. Jokpin memberi pelajaran bahwa bahasa puisi harus rasional, dan sesekali karikatural.

Kedua orang ini punya kesamaan: mereka mantan seminaris. Jokpin dari Seminari Mertoyudan, Ignas dari Seminari Hokeng. Mereka meyakinkan saya untuk menulis topik ini: Kesunyian Seminari dan Kreativitas Menulis Sastra.

Juga, keduanya membuat saya percaya pada apa yang dikatakan Heidegger bahwa penyair dan pemikir adalah penjaga rumah Ada.

Apa yang sayang kenang jika hari ini (Sabtu, 27 April 2024) Jokpin telah menuntaskan kekiniannya?

Saya membaca Jokpin sebagai kreativitas puisi yang terelok. Konstruksi bahasa Indonesia yang intim dan sempurna ada pada dia. Saya boleh membuat pengandaian ini: jika Sutardji Calzoum Bachri adalah contoh dekonstruksi kreatif paling baik di dalam puisi Indonesia, Joko Pinurbo adalah lawan yang paling tepat sebagai rekonstruksi kreatif berbahasa puisi.

Sutardji melampaui konstruksi leksikal dan mencapai permainan bunyi yang magis dan eksistensial. Jokpin menuntun konstruksi semantik di dalam sintaksis yang epik untuk membentuk puisi-puisi fenomenologis yang distingtif.

Baca juga:

Jika Sutardji menolak kamus, Jokpin memperkaya tata bahasa. Puisi Kamus Kecil adalah contoh rekonstruksi itu di mana apa yang tertulis di dalam kamus, kosakata-kosakata itu punya relasionalitas bunyi dan apabila ditaukan ia seperti menjalin konsep menenun imajinasi dan memberi pesan logis yang kreatif.

Bahwa sumber segala kisah adalah kasih
Bahwa ingin berawal dari angan
Bahwa ibu tak pernah kehilangan iba
Bahwa segala yang baik akan berbiak
Bahwa orang ramah tidak mudah marah
Bahwa untuk menjadi gagah kau harus menjadi gigih
Bahwa seorang bintang harus tahan banting
Bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada Tuhan
Bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira
Sedangkan pemulung tidak pelnah merasa gembila
Bahwa orang putus asa suka memanggil asu
Bahwa lidah memang pandai berdalih
Bahwa kelewat paham bisa berakibat hampa
Bahwa amin yang terbuat dari iman menjadikan kau merasa aman

Saya ingat delapan tahun lalu di Novisiat Nenuk. Di rumah formasi itu, selain dituntun oleh Sang Sabda dari bahasa Kitab Suci, saya juga menemukan jalan bertumbuh lewat ziarah puisi dengan injil Joko Pinurbo: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.

Sehabis Membaca Puisi Jokpin

Penaku sembuh total dari sakit mati rasa
Menari dengan riangnya dalam irama rintik-rintik sepi.
Seperti dibedaki berahi ia menerobos selaput putih milik sunyi
Dan darah aksara bercucuran memancarkan merahnya Jokpin:
“Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.”

Nenuk, 13 Oktober 2016

Suatu hari di tahun 2019, saya coba membaca salah satu puisi Jokpin (In Memoriam Mei: Membaca Reformasi dalam Puisi Joko Pinurbo). Jokpin merawat pesan sejarah lewat puisi. Puisi mencatat dan menuntun peradaban, terutama peradaban batin kita.

Apakah kita membutuhkan penyair?

Saya pikir, iya. Apalagi di tengah situasi digital yang mengeliminasi spiritulitas puitik dari batin kita. Penyair menyadarkan kita bahwa bahasa lahir dari hati yang berpikir dan ditumbuhkan oleh pikiran yang berperasaan. Puisi yang ia hasilkan ialah filsafat berbudi bahasa secara indah, baik dan benar yang menuntun kita kepada jati diri.

Baca juga:

“Dari penyair kita belajar memuisi. Kita memuisi karena kita berbahasa. Memuisi berarti menghidupkan bahasa di dalam penghayatan dan perilaku yang puitik.

Memuisi menandakan kemajuan budaya. Sebab daya cipta telah mencapai tingkat optimal dan terbukti melalui bahasa yang dihayati di dalam proses kreatif. Proses kreatif manusia tidak terlepas dari proses menghidupi dan melestarikan bahasa” (Manusia yang Puitik di Era yang Kaotik).

Akhirnya, saya mesti mengucapkan ini: terima kasih, penyair Joko Pinurbo. Engkau adalah sebuah pesan: keindahan manusia haruslah keindahan bahasa. Engkau adalah bahasa Indonesia yang anggun. Engkau mati, mati sebagai penyair. “Tuhan yang merdu, terimalah kicau burung dalam kepalaku.”

 Doa Malam-mu yang amat singkat itu telah diterima karena kamus kecil iman puisimu. “Bahwa amin yang terbuat dari iman menjadikan kau merasa aman”.

Selamat jalan, dan selamat merasa aman di dalam Tuhanmu.

Edy Soge