Jokowi Akan Larang Ekspor Timah, Saham-Sahamnya Langsung Anjlok

Jokowi Akan Larang Ekspor Timah, Saham-Sahamnya Langsung Anjlok
©Republika

Market News Pernyataan Presiden Joko Widodo yang akan melarang ekspor timah batangan mulai 2024 mendatang dinilai berimbas negatif pada saham-saham produsen timah di Bursa Efek Indonesia. Menyusul rencananya, saham-saham timah terbukti anjlok.

Harga saham PT Timah Tbk (TINS), misalnya, anjlok 5,06 persen ke level Rp1.595 per saham pada penutupan perdagangan hari ini, Jumat (26/11).

Data menunjukkan, nilai transaksi TINS hanya mencapai Rp84,74 miliar dengan volume transaksi 52,27 juta saham dengan frekuensi 8.153 kali. Tetapi jika dilihat sejak awal tahun, sahamnya justru menguat 7,41 persen dengan nilai kapitalisasi pasar Rp11,88 triliun.

Saham produsen timah lainnya, yakni PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL), juga anjlok 2,31 persen ke level Rp1.055 per saham. NIKL ditransaksikan 235 kali dengan volume 260 ribu kali. Dibanding tahun lalu, saham ini terkoreksi 26,99 persen dengan nilai kapitalisasi pasar Rp2,66 triliun.

Sebelumnya, dalam pertemuan tahunan Bank Indonesia, Presiden Jokowi menyebut Indonesia bersiap untuk melarang ekspor timah batangan mulai 2024.

“Sebagai produsen nomor 2 terbesar dunia, bisa dibayangkan kesenjangan permintaan dan pasokan bila aliran timah dari Indonesia ke pasar global dihentikan,” kata mantan Direktur Utama BEI, Hasan Zein Mahmud, Jumat (26/11).

Adapun alasan pelarangan ekspor timah, menurut pemerintah, bertujuan untuk menarik investasi ke industri pengolahan sumber daya dan meningkatkan keseimbangan eksternal negara.

Tak hanya timah, pemerintah juga berkeinginan menghentikan ekspor bauksit tahun depan dan bijih tembaga pada 2023. Keputusan ini diambil karena Indonesia telah terlalu lama menjual komoditas mentah, yang membuat negara kehilangan pendapatan ekspor lebih besar dan pekerjaan di industri manufaktur.

Saat ini, ekspor bulanan batangan timah di Indonesia rata-rata sekitar 6.000 metric ton dan ekspor tahunan mencapai sekitar 70.000 – 80.000 metric ton. Sementara itu, permintaan dunia akan timah batangan saat ini sekitar 340.000 metric ton.

Jika ekspor timah dilarang pada 2024, pasokan global di luar Indonesia dinilai tidak akan dapat menutupi kekosongan pasokan yang ditinggalkan. Sehingga, gap pasokan pasar timah dunia berpotensi meningkat secara signifikan.

Varian Afrika Selatan Memperparah

Varian baru virus korona dari Afrika Selatan juga disebut sukses memperparah. Tak hanya berefek ke timah, harga tembaga dan nikel sebelumnya juga tumbang.

Dilansir CNBC Indonesia, para investor cemas munculnya varian korona baru yang ditemukan di Afrika Selatan itu bisa mengganggu pemulihan ekonomi yang saat ini terjadi. Varian ini dikatakan mengandung beberapa mutasi yang terkait dengan peningkatan resistensi antibodi.

Varian baru ini diyakini para ilmuwan dapat mengurangi efektivitas vaksin.

Jika varian ini sampai menyebar masif, dikhawatirkan akan menimbulkan gelombang pandemi baru yang bisa melumpuhkan roda ekonomi dan mengaburkan potensi permintaan dari barang elektronik.

Berdasarkan laporan Fitch Solutions Country Risk & Industry Research, sektor elektronik menjadi sumber utama permintaan timah olahan. Mereka memperkirakan konsumsi timah olahan akan tumbuh 7,8 persen pada 2021.

Penggerak utama di balik pertumbuhan permintaan akan berasal dari industri elektronik konsumen seperti smartphone, laptop, dan tablet, karena penggunaan solder sebagai tahap pembuatan barang elektronik tersebut.

Pertumbuhan populasi dan peningkatan pendapatan, terutama di pasar negara berkembang, akan mendorong peningkatan pembelian barang elektronik konsumen, sehingga mendukung permintaan timah olahan di masa depan.

Baca juga: