Jokowi Lawan Hoax Berbalut Fitnah dan Ujaran Kebencian

Jokowi Lawan Hoax Berbalut Fitnah dan Ujaran Kebencian
Presiden Jokowi (Foto: @KSPgoid)

Nalar PolitikBeberapa tahun ini, fitnah maupun ujaran kebencian cukup merebak. Tentu ini sangat meresahkan. Sebab, bila hal ini terus terjadi dan dibiarkan, maka bangsa Indonesia akan sangat mudah berujung pada perpecahan.

Kekhawatiran inilah yang juga sangat dirasakan Presiden Jokowi. Karenanya, ia turut menyikapi dan berpesan agar rakyat tidak mudah terprovokasi oleh beragam fitnah dan ujaran kebencian, apalagi kabar bohong alias hoax yang kebanyakan merajalela di linimasa media sosial.

“Saya titip pesan kepada Bapak/Ibu semua, jangan mudah dipengaruhi oleh fitnah-fitnah dan kabar bohong. Jangan sampai saling mencela dan menjelekkan karena kita semua adalah saudara sebangsa dan setanah air,” terang Presiden Jokowi, Selasa (6/2/2018).

Diakui, fenomena fitnah dan ujaran kebencian tersebut marak terjadi, terutama menjelang pesta demokrasi di Indonesia. Di pusat hingga daerah, fenomena tersebut terus bergulir, apalagi ketika masuk ke babak Pilpres dan Pilkada.

Tak dipungkiri, lantaran pembiaran, banyak rakyat yang harus terpecah belah hanya karena perbedaan pilihan politik semata. Inilah yang juga tidak dikehendaki oleh Presiden Jokowi sebab polemik tersebut hanya akan memperuncing masalah persatuan bangsa.

“Negara ini negara besar. Jangan karena hal kecil seperti itu masyarakat diadu domba. Itulah kadang-kadang jahatnya politik di situ.”

Diakui pula, Presiden Jokowi sendiri pernah merasakan hal serupa. Ia pernah jadi pihak yang dituduhkan oleh para penyebar fitnah.

Lihat saja, beberapa waktu lalu, banyak tuduhan untuk Presiden Jokowi sebagai salah seorang anggota dari Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Padahal PKI itu dibubarkan tahun 1965. Saya lahir 1961. Berarti saya baru umur 4 tahun. Masa ada PKI balita? Itu yang memfitnah ngawur.”

Presiden Jokowi juga mengakui, dirinya terkadang merasa jengkel jika menerima tuduhan ngawur seperti itu. Namun, di sisi lain, ia sendiri merasa kemarahannya itu tidak berguna jika harus diluapkan secara berlebihan. Ya, meski masyarakat harus senantiasa diingatkan terkait persoalan ini.

“Sekarang saya juga blak-blakan. Kalau tidak diingatkan seperti itu, masih ada yang percaya juga.”

Terkait sindikat penyebar hoax yang terungkap baru-baru ini, yakni Muslim Cyber Army (MCA) Presiden Jokowi memerintahkan kepada Kepolisian RI untuk mengejar dan memberi tindakan tegas kepada para pelaku penyebar hoax tersebut.

“Kalau pelanggaran hukum, saya perintahkan, entah itu Saracen, entah itu MCA, kejar, selesaikan, tuntas. Jangan setengah-setengah. Sebab penyebaran berita bohong dapat menyebabkan perpecahan bangsa.”

“Hati-hati, hati-hati. Entah motifnya motif ekonomi, motif politik, tidak boleh seperti itu. Saya perintahkan ke Kapolri, kalau ada pelanggaran, tindak tegas. Jangan ragu-ragu.”

Ketika ditanya soal media sosial yang saat ini sudah lebih tenang dengan pengungkapan Saracen juga MCA, Presiden Jokowi menampik anggapan tersebut.

“Enggak. Masih hangat. Saya perintahkan, selesaikan tuntas supaya adem.”

___________________

Artikel Terkait: