Jokowi Tampar Pesimisme Prabowo di Depan Mahasiwa UNISMA

Jokowi Tampar Pesimisme Prabowo di Depan Mahasiwa UNISMA
Presiden Joko Widodo saat memberikan kuliah umum di Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Kamis, 29 Maret 2018 (Foto: Biro Pers Setpres)

Nalar Politik Dalam rangka memberi kuliah umum di Universitas Islam Malang (UNISMA), Presiden Joko Widodo (Jokowi) tampar sikap pesimisme Prabowo Subianto. Hal tersebut terkait pernyataannya tentang Indonesia yang akan bubar di tahun 2030.

Presiden menyatakan, Indonesia harus berani menghadapi tantangan dan hambatan-hambatan. Semakin besar sebuah negara, semakin besar juga tantangan yang kita hadapi. Walaupun tantangannya berat, bangsa besar tidak boleh gentar dan pesimis. Baginya, ini sangat penting.

Sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia harus memiliki mental yang juga besar dan harus bermental pemimpin. Sebab Indonesia menjadi salah satu negara rujukan dari negara lain dalam merawat keragaman.

Selain itu, Presiden juga menyampaikan tentang tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, yakni terkait maraknya isu hoaks. Presiden mengingatkan agar tidak mengembangkan isu-isu yang bisa menyebabkan bangsa Indonesia menjadi pesimis. Jika isu-isu itu sudah termakan oleh masyarakat, maka akan muncul pesimisme.

“Oleh karena itu, rakyat Indonesia harus memiliki mental yang kuat, tahan uji, dan tahan banting. Negara besar pasti mendapatkan ujian, hambatan, dan rintangan,” tegas Jokowi, Kamis, (29/3/2018).

Ia menuturkan bahwa kita harus tawakal. Tetapi, kita juga harus tetap ikhtiar, bekerja keras, dan percaya diri untuk fokus pada usaha membangun bangsa, bukan seperti pesimisme Prabowo.

Jokowi Tampar Pesimisme Prabowo di Depan Mahasiwa UNISMA

“Fokus meningkatkan kesejahteraan rakyat dan kita tidak boleh menyerah terhadap usaha-usaha lain yang mengancam persatuan kita. Inilah tugas generasi muda kita ke dapan,” lanjutnya.

Di depan ribuan mahasiswa UNISMA, topik utama yang disampaikan Presiden memang terkait kebinekaan. Kebinekaan, menurutnya, adalah anugerah tuhan, bahkan sejak awal terbentuknya Indonesia.

“Di dalam kebinekaan atau kemajemukan, selalu melekat banyak kekayaan. Karena dalam setiap kemajemukan, selalu ada kekayaan seni dan budaya yang antarkelompok dapat saling mengisi dan menginspirasi,” tutup Presiden. (us)

___________________

Artikel Terkait: