Jokowi Terlibat Korupsi Bus Transjakarta?

Bus Transjakarta
Foto: Wikipedia

Benarkah Jokowi terlibat di kasus korupsi bus Transjakarta? Kenapa kini orang-orang ramai memviralkannya lagi ke media-media sosial? Apa sesungguhnya yang hendak mereka tuju itu?

Berita yang viral tersebut datang dengan media bernama KabarNet. Disebutkan dalam judulnya bahwa DPRD DKI pastikan Jokowi terlibat korupsi bus Transjakarta.

Setelah ditelusuri, ternyata dan ternyata, kabar itu mengalir saat Jokowi masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Itu pun sebatas dugaan, tetapi sengaja diviralkan seolah terjadi baru-baru ini saja.

Sebagaimana dilansir, anggota DPRD DKI Jakarta, Muhammad Sanusi, mengharap para penyedik dan penegak hukum di negeri ini agar bersikap tanpa pandang bulu. Di situ ia mengimbau untuk memeriksa siapa pun, termasuk Jokowi, dalam kasus dugaan korupsi ini.

“Kita mengharapkan penyidik menegakkan hukum dengan adil dan sama rata dengan memeriksa siapa pun dalam kasus ini,” kata Sanusi.

Pertanyaannya, kenapa melibatkan Jokowi? Bukankah yang mengatur perkara itu adalah kepala dinas terkait?

“Dari sisi kebijakan, perundang-undangan jelas mengatur bahwa penguasa pengelola anggaran daerah adalah gubernur dan kepala dinas sebagai penguna anggaran,” jelas Sanusi.

Ia pun memastikan, nama Jokowi pasti ada dalam BAP. Karena terbit SK yang mengatur itu di mana sekretaris dinas, katanya, melaporkan semua hal terkait proyek langsung kepada gubernur.

“Bahkan, khusus terkait pengadaan bus Transjakarta, Gubernur Jokowi pernah membuat surat secara langsung kepada DPRD dan pihak terkait lainnya,” pungkas Sanusi.

Permainan Politik

Arbi Sanit, dalam satu laporannya di Liputan6, menduga bahwa isu keterlibatan Jokowi di kasus korupsi ini sengaja diembuskan guna menjatuhkan nama baiknya di mata publik. Apalagi kasus tersebut berada tepat di jelang Pilpres 2014 di mana Jokowi maju sebagai capres.

“Ada permainan politik di balik pembentukan opini bahwa Jokowi terlibat di kasus tersebut. Jadi, saat ini, ada upaya menyerang Jokowi dengan kampanye hitam,” kata pengamat politik dari Universitas Indonesia ini.

Dugaan Arbi tersebut tentu bukan tanpa alasan. Itu terbukti setelah Jaksa Agung menegaskan bahwa Jokowi sama sekali tidak terlibat.

Dan memang, seperti terjadi selama ini, segelintir orang kerap berupaya menyeret nama Jokowi, terutama di tahun-tahun politik. Inilah yang kata Arbi dimanfaatkan betul oleh lawan-lawan politiknya.

“Saya melihatnya lebih mengarah ke sana. Ini terjadi karena pertarungan menjelang pemilu presiden makin keras,” jelasnya. [kn/li]