Jokowi Tidak Mau Sowan ke Ormas Perusuh

Jokowi Tidak Mau Sowan ke Ormas Perusuh

Alih-alih mewajibkan sowan ke ormas perusuh, Jokowi malah titip pesan untuk melindungi dan membantu yang lemah.

Nalar Politik – Amanat Presiden Jokowi dalam “Pengarahan Presiden RI pada Apel Kasatwil 2021” di Bali (3/12) layak dilirik. Tidak hanya bagi jajaran Polri dan TNI sebagai objek utama, tetapi juga untuk para pengkritik ngalor-ngidulnya selama ini.

Agenda itu sangat berisi. Banyak hal yang Jokowi jelaskan, mulai soal kesehatan dan pandemi, ekonomi dan investasi, hingga indeks kebebasan berpendapat dan kepuasan publik terhadap kinerja penegakan hukum.

Khusus di ranah yang terakhir, Jokowi ternyata khawatir dengan turunnya indeks kebebasan berpendapat akibat kinerja aparat yang asal libas. Ia mencontohkan penghapusan mural yang sempat viral itu.

“Urusan mural saja, ngapain sih? Itu urusan kecil. Wong saya dihina, saya dimaki-maki, difitnah, sudah biasa. Ada mural saja, takut. Ngapain?” kata Jokowi.

Beda soal kalau tindakan itu memang menyebabkan ketertiban di masyarakat menjadi terganggu. Siapa pun orangnya, apalagi sampai terbukti melakukan tindakan kejahatan terhadap negara juga masyarakat, perintah Jokowi: hantam!

“Yang kritik, dipanggil. Mengkritik, dipanggil. Kalau mengganggu ketertiban, ya silakan. Tapi kalau enggak mengganggu, jangan dipanggil. Kita sudah menyatakan ini negara demokrasi. Hormati kebebasan berpendapat. Serap aspirasinya.”

Presiden turut menekankan kewibawaan jangan sampai hilang di tubuh Polri. Jangan ada lagi Kapolda atau Kapolres baru yang malah datang sowan ke ormas-ormas yang sering bikin onar dengan niat menjaga kekondusifan wilayah kerja. Bagi Jokowi, itu cara yang tidak benar!

“Hati-hati! Jangan menggadaikan kewibawaan dengan sowan kepada pelanggar hukum. Saudara-saudara harus memiliki kewibawaan. Polri harus memiliki kewibawaan.”

Alih-alih mewajibkan sowan ke ormas perusuh, Jokowi malah titip pesan untuk melindungi dan membantu yang lemah, yang biasanya terpinggirkan dalam hukum. Jokowi ingin menghilangkan persepsi “hukum tumpul ke atas tapi runcing ke bawah” dan cap “diskriminasi terhadap yang lemah”.

“Polri sekarang ini pada posisi tiga besar yang dipercaya oleh masyarakat. Hati-hati! Dipercaya itu tidak mudah.”

Baca juga:
    Latest posts by Maman Suratman (see all)