Jokowi vs Prabowo, Siapa Lebih Islami?

Jokowi vs Prabowo, Siapa Lebih Islami?
Ilustrasi: Jokowi vs Prabowo (ist.)

Tulisan ini lahir dari kegelisaan saya terhadap fenomena politik kita yang semakin acakadut dan menjadikan formalisme Islam sebagai tunggangan politik para elite kita. Jokowi vs Prabowo. Sungguh mengerikan.

Diakui atau pun tidak, masyarakat kita telah terpolarisasi ke dalam dua pola kelompok masyarakat, yaitu kelompok masyarakat islamis dan kelompok masyarakat nasionalis. Polarisasi yang dungu sebenarnya dalam kaca mata saya.

Kenapa demikian? Karena kedua kelompok tersebut, menurut saya, tidak benar-benar Islam dan tidak benar-benar nasionalis. Mana ada Islam dan nasionalisme acap kali saling menghujat dan memfitnah? Keduanya hanya merupakan alat kepentingan para elite kita untuk mencapai hasrat politiknya.

Baik, agar tulisan ini tidak meluber ke mana-mana, saya akan fokus pada label Islam yang tak henti-hentinya dijadikan alat untuk meraup simpati dan suara pemilih dalam setiap pesta demokrasi lima tahunan kita. Kenapa saya bilang label? Karena kepeduliaan yang selama ini mereka tampakkan tidak menyentuh substansi Islam itu sendiri; iya, karena memang hanyalah pencitraan.

Karena mayoritas pemilih kita adalah umat Islam, maka tanpa ada rasa sungkan sedikit pun, agama beserta isu-isu yang berkaitan digoreng, tapi tidak dadakan sebagaimana tahu bulat. Gorengan isu agama (baca: Islam) sudah jauh-jauh hari direkayasa dan dirancang secara matang oleh kelompok elite yang berkepentingan.

Dalam konteks ini, saya mau berbicara Jokowi dan Prabowo, dua rival lama yang acap kali gontok-gontokan. Entah siapa yang memulai. Dua sosok ini kuat kemungkinan akan kembali bertarung dalam laga klasik pesta demokrasi, yang bertajuk ‘pilpres 2019, siapa yang lebih kuat?’

Hal ini berdasarkan hasil survei terbaru Poltracking Indonesia yang menyatakan bahwa hanya Joko Widodo dan Prabowo yang memiliki elektabilitas tinggi sebagai capres pada 2019. Pernyataan ini berdasarkan survei terbuka terhadap 1200 responden pada 27 Januari-3 Februari 2018, di mana Jokowi memiliki elektabilitas 45,4 persen. Sementara elektabilitas Prabowo Subianto adalah 19,8 persen (tirto.id).

Lihat Juga: Survei Elektablitas, Jokowi Kembali Unggul dari Prabowo

Kita fokuskan dulu pikiran kita pada sosok Prabowo Subianto yang tidak jera dan tak ada malunya, meski sudah kalah pada pilpres 2014 kemarin, hari ini tetap ngotot mau nyapres lagi. Sosok yang menurut saya sangat ambisius. Iya, dalam sistem demokrasi yang kita anut, itu sah-sah saja.

Tapi, satu hal yang paling membuat saya geli dan kadang kening saya berkerut dari si Prabowo Subianto dan antek-anteknya ini, yaitu ngaku-ngaku paling Islam dari Jokowi dan antek-anteknya.

Kalian tahu tidak? Sejak kekalahannya di pilpres kemarin, dia acap kali mencitrakan dirinya sebagai sosok yang agamis (Islam), peduli terhadap umat Islam, serta dekat dengan kiai dan ulama. Ah, sungguh sebuah ketololan yang tidak perlu dilakukan oleh sosok sehebat Prabowo Subianto.

Pertanyaan saya, sejak kapan dia peduli terhadap Islam dan ulama? Dulu, sebelum dia nyapres, tidak ada tuh dia dekat dengan ulama dan peduli Islam. Baru-baru ini saja dia sok paling islamis dan sok dekat dengan ulama.

Ayo, buktinya apa kalau Islam-nya benar-benar lebih kokoh dari Islamnya Jokowi? Tidak ada. Juga apa buktinya kalau dia benar-benar peduli terhadap Islam dan ulama? Tidak ada. Kecuali teriak-teriak bela Islam di saat Indonesia gempar dengan aksi bela Islam berjilid-berjilid dan rajin berkunjung ke kediaman para ulama menjelang pilpres.

Berbarengan dengan hal itu, tidak bosan rasanya stigma-stigma negatif dialamatkan pada sosok Jokowi. Dia anti Islam-lah, anti ulama-lah, mengkriminalisasi ulama-lah, antek aseng-lah, dan berbagai ragam stigma negatif lainnya. Seakan ingin menunujukkan terhadap umat bahwa Jokowi musuh Islam.

Siapa yang melakukan ini? Siapa lagi kalau bukan kelompok oposisi yang tidak profesional. Kelompok oposisi yang plonga-plongo dan mencla-mencle.

Lihat Juga: Plonga-plongo, Fadli Zon, dan Kerapuhan Partai Gerindra

Juga serasa tidak mau kalah sama Prabowo dengan segala bentuk pencitraannya, Jokowi juga tampil ke hadapan publik, seolah ia adalah muslim yang baik, yang taat dan dekat dengan para kiai dan ulama.

Buktinya, dia sering kali mengundang para kiai dan ulama beserta ormas-ormas Islam ke Istana Negara dan rajin berkunjung ke pondok-pondok pesantren di seluruh Nusantara. Tetapi, harus kita akui bahwa Jokowi tidak seekstrem yang lainnya. Dia tidak pernah menuduh yang lain tidak islami dan anti-Islam.

Hal ini menurut saya sebagai counter terhadap tuduhan yang selama ini acap kali dialamatkan kepadanya. Dia juga ingin berteriak kepada kyalayak bahwa dia itu muslim. Muslim yang taat, muslim yang peduli terhadap ulama, dan sama sekali dia tidak pernah mengkriminalisasinya sebagaimana sering kali dituduhkan kepadanya.

Dia kelihatan begitu asyik bercengkrama dan menggelar gelak tawa bersama para santri dan kiai pimpinan pondok pesantren, tentu dengan gelak tawa khas Jokowi. Gelak tawa khas wong cilik. Tidak lupa, dia berpeci dan bersarung seperti santri ala kadarnya. Seakan ingin mengatakan: ini lo saya, Presiden yang peduli dengan Islam dan ulama.

Perlu bapak-bapak ketahui (Jokowi dan Prabowo), saya sebagai masyarakat awam, yang tidak banyak mengerti tentang Islam, sering kali merasa bingung. Sebenarnya siapa sih yang lebih Islam, antara Jokowi vs Prabowo? Mungkin bukan hanya saya yang bingung, tapi masyarakat di luar sana juga banyak yang bingung akan hal ini.

Sebuah Usul

Baik, agar kebingungan ini tidak semakin menjadi-jadi dan membuat rambut saya rontok karena keseringan ditikam kebingungan, maka, kalau boleh, saya akan mengajukan usul. Usul ini boleh ditimbang dan bahkan ditolak, karena usul ini hanya lahir dari seorang anak kampung yang tidak melek politik. Makanya mudah ditipu dan di-PHP-in oleh orang-orang yang ngaku politisi kelas berat.

Apa usulan itu? Usulan saya adalah bagaimana kalau diadakan kegiatan semacam debat kandidat gitulah, antara Jokowi dan Prabowo. Dalam acara tersebut, keduanya akan diuji kefasihannya dalam membaca Alquran beserta kemahirannya dalam ilmu tajwid. Siapa yang lebih fasih membaca Alquran dan lebih mahir akan ilmu tajwid, maka dialah yang lebih Islam daripada salah satunya. Sederhana, kan?

Iya, sungguh ide yang sederhana untuk membuktikan siapa yang lebih islami di antara keduanya. Juga pembuktian semacam ini tidak membutuhkan anggaran besar, sebagaimana anggaran ketika kampanye, blusukan, dan kunjungan ke pesantren-pesantren demi hanya untuk membuktikan saya adalah Islam.

Wahai, bapak Jokowi dan Prabowo yang ganteng-ganteng, maukah kalian diadu baca Alquran beserta kemahiran tajwid-nya? Iya, tentunya harus mau dong. Supaya ke depan jelas, siapa yang lebih islami.

___________________

Artikel Terkait:
Naufal Madhure
Latest posts by Naufal Madhure (see all)