Juliari, Pandemi, dan Kita yang Terombang-ambing

Juliari, Pandemi, dan Kita yang Terombang-ambing
©detikNews

Nama Juliari Batubara menjadi trending topic di platform media sosial Twitter beberapa hari lalu. Juliari di-“bully” netizen gara-gara meminta dibebaskan dari semua tuntutan hukum padanya, terkait kasus korupsi paket bansos Covid-19. Juliari pun mengaku menyesal. Penyesalan itu ia nyatakan di hadapan sidang Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat.

“Dari lubuk hati yang paling dalam, saya sungguh menyesal telah menyusahkan banyak pihak akibat dari perkara ini. Oleh karena itu, permohonan saya, istri saya, dan kedua anak saya serta keluarga besar saya kepada Majelis Hakim Yang Mulia, akhirilah penderitaan kami ini dengan membebaskan saya dari segala dakwaan,” kata Juliari saat membacakan pleidoi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakpus, Senin (9/8) seperti dilansir Kompas.

Jelas saja, permintaan tersangka kasus korupsi bantuan sosial tersebut membuat saya merasa geram. Bayangkan, betapa hinanya seorang tersangka koruptor yang tanpa tahu malu meminta divonis bebas, setelah perbuatan keji yang dilakukannya merugikan negara.  Apalagi, perbuatannya tersebut ia lakukan di tengah negara lagi dikepung badai krisis multidimensi karena pandemi Covid-19.

Kasus yang baru saya sebutkan di atas hanya satu dari sekian banyak persoalan yang tengah melilit adab dan akhlak pejabat negeri ini. Bangsa kita lagi berada pade fase krisis moral juga kepedulian terhadap sesama. Pejabat pemerintah seperti Juliari Batubara seperti kehilangan empati terhadap penderitaan rakyat.

Gembar-gembor Presiden Joko Widodo tentang pendidikan karakter di awal masa pemerintahannya tidak mampu direalisasikan dalam kehidupan bangsa. Elite negeri ini tidak mampu mempertontonkan karakter peduli terhadap rakyat.

Tidak salah jika menyebut itu hanyalah bualan semata seorang presiden. Toh, menterinya yang notabene anak buah presiden justru melakukan tindakan yang berseberangan dengan ucapan presiden.

Apalagi, berdasarkan pemberitaan Kompas beberapa waktu lalu, hukuman yang diterima Juliari cuma dua tahun. Dua tahun, yang mana itu tidak sebanding dengan penderitaan rakyat gara-gara krisis akibat pandemi.

Lantas, siapa yang patut dijadikan kambing hitam? Penulis pribadi tentu tak serta-merta menyalahkan Presiden Joko Widodo. Pak Jokowi sedang pada klimaks titik uji kepemimpinannya.

Rentetan persoalan bangsa, seperti: sengkarut ekonomi karena pandemi Covid-19, goncangan politik oleh para elite yang mencari untung di tengah wabah yang melanda negeri, persoalan pendidikan yang kian carut-marut, tetek bengek persoalan menuntut keadilan hukum yang kian hari kian tajam ke bawah dan tumpul ke atas, serta banyak persoalan lainnya. Persoalan-persoalan ini jelas ujian bagi Presiden Jokowi di awal masa pemerintahannya yang kedua.

Beberapa pihak memang menyalahkan pemerintah. Ya, itu wajar. Sebagai pengambil kebijakan yang notabene memiliki sumber daya yang kuat, pemerintah wajib bertanggung jawab. Bukan saja karena itu tugas dan kewajiban sebagai pemimpin, tetapi itulah tuntutan dan amanat didirikannya negara itu lewat ideologi Pancasila.

Baca juga:

Persoalan korupsi yang kian merebak di saat pandemi seperti ini seolah-olah bukti bahwa pemerintah gagal menunjukkan eksistensinya untuk mempertontonkan supremasi hukum. Hukum “milik pemerintah” berlaku hanya buat rakyat kecil yang tak berdaya.

Pemerintah perlu berbenah, sekali lagi. Tidak dengan janji teoritis maupun melalui “gimmick” pada mimbar konferensi pers. Pemerintah perlu berbenah dengan merombak semua sistem yang membuat pengambilan kebijakan hanya menguntungkan pihak tertentu. Rakyat haruslah menjadi fokus utama pengambilan kebijakan.

Hukum harus berdiri tegak, bertindak jujur dan berlaku adil di tengah badai yang melanda negeri ini. Koruptor harus dihukum seberat-beratnya. Jika masih berat sebelah, kita tidak akan pernah keluar dari jurang masalah. Jika hukum hanya mampu menindak rakyat kecil tak berdaya, bukan tidak mungkin, badai krisis akan menimpa bangsa ini. Alhasil, Indonesia Emas 2045 hanyalah khayalan belaka.

Januarius Darwin Tosong
Latest posts by Januarius Darwin Tosong (see all)