Kabar Baik Redup Ditelan yang Buruk-Buruk

Kabar Baik Redup Ditelan yang Buruk-Buruk
©Pinterest

Belakangan banyak kabar buruk. Sementara kabar baik hampir tidak ada yang tertarik mengangkatnya. Padahal kabar-kabar yang lewat ini ngefek ke pikiran dan emosi kita sendiri.

Bagiku, reportase Republika Online ini menjadi oase di tengah sepinya kabar baik yang terangkat.

Kabar Baik 1

Pak Wiranto pun turut jadi bagian yang sempat mengangkat berita baik: kebakaran hutan dan lahan berkurang 90 persen.

Kabar Baik 2

Kita butuh berita-berita baik agar asupan yang baik-baik ke pikiran bisa lebih banyak.

Laporan BBC seputar peran kaum perempuan di Kalimantan dalam menaklukkan kebakaran hutan dan lahan juga sangat layak disebut berita baik.

Kabar Baik 3

Tak ketinggalan, BRG Indonesia juga jadi bagian yang turut mewarnai pemberitaan dengan kabar baik. Terlebih soal restorasi yang mereka garap, terbukti punya dampak.

Kabar dari salah satu desa di Dumai Selatan ini pun jadi bagian berita baik. Di lahan gambut bekas kebakaran, tidak hanya direstorasi, namun juga digerakkan budi daya lebah madu.

Restorasi dilakukan pemerintah lewat BRG Indonesia di sini kelihatan hasilnya.

Kalaupun ada PR tersisa di Riau, misalnya, penting untuk membentuk Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) oleh gubernur. Apalagi bagi daerah yang sudah masuk sebagai prioritas restorasi.

Sebelumnya, banyak narasi buruk tentang kawasan bekas karhutla. Di sini, ada laporan menarik tentang bagaimana warga di area karhutla bangkit.

Kabar Baik 4

Di sana, pemulihan lahan gambut dilakukan dengan penanaman tumbuhan bernilai ekonomi di Riau. Salah satunya, dengan menanam nanas seperti di Desa Mundam, Medang Kampai, Kota Dumai.

Masyarakat di Desa Mundam menanam nanas dan tumbuhan kayu yang bernilai ekonomi tinggi di area bekas terbakar seluas 20 hektare yang dapat menghasilkan panen senilai Rp1 juta per hektare.

Tidak kalah penting, keberlanjutan restorasi gambut ada pada pemanfaatan area bekas terbakar dengan wanatani atau agroforestri.

Baca juga:
    Zulfikar Akbar