Kabut Asap yang Kian Menggoda

Kabut Asap yang Kian Menggoda
©Twitter

Sudah lebih dari sepekan lamanya, berita tentang kabut asap yang melanda Provinsi Riau mondar-mandir di lini masa media sosial saya. Alih-alih mendapat kabar baik, yang tersodorkan dari banyak media justru situasi dan kondisi yang makin memburuk. Kepungan kabut asap di Bumi Lancang Kuning itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Soal asap sungguh kian menggoda saja.

Beragam respons pun bermunculan. Selain bahu-membahu memadamkan kobaran api, beberapa kelompok masyarakat tampak melakukan aksi solidaritas, seperti bagi-bagi masker.

Pada waktu yang hampir bersamaan, aliansi mahasiswa juga berdemonstrasi. Mereka menggeruduk kantor gubernur, menuntut pemecahan dan penyelesaian masalah tersebut.

Tidak ketinggalan pula, upaya mengurangi dampak asap bahkan melalui jalur spiritual. Berbekal semangat serta antusiasme yang tinggi, masyarakat di beberapa daerah sempat melaksanakan salat Istisqa secara berjemaah.

Hasilnya, sebagaimana ramai jadi perbincangan, kabut asap tetap bertahan. Jarak pandang bahkan hanya mampu menembus kejauhan sekitar 200 meter. Sementara itu, beberapa aktivitas seperti proses belajar-mengajar harus terhenti untuk sementara waktu. Kualitas udara telah berada pada level berbahaya.

Pertengahan September ini saja, sudah ribuan orang yang terserang penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Jumlah yang lebih fantastis akan kita temukan jika hitungannya kita akumulasi sejak Januari 2019. Sedikitnya, ada 281.626 penduduk Riau yang positif menderita ISPA (Mongabay).

Tidak berhenti sampai di situ, seperti termuat di laman Kompas, kabut asap baru-baru ini juga mengakibatkan 29 orang menderita ISPA Pneumonia. Terdapat pula 26 orang merasakan iritasi mata, 98 orang terkena diare, 122 orang mengalami muntah-muntah, dan 51 orang menanggung gangguan lainnya.

Masih terdapat sederet kerugian lainnya yang mesti kita tanggung bersama, di luar sektor kesehatan. Sebut saja, pendidikan, lingkungan, maupun ekonomi. Kendati demikian, sialnya, perkara asap yang telah selalu menyatroni daratan Riau setiap tahunnya, oleh segelintir orang, justru lebih akrab disapa dengan bencana alam.

Baca juga:

Moeldoko, misalnya. Dengan embel-embel surat al-Baqarah ayat (155-156), Jenderal sekaligus Kepala Staf Kepresidenan ini tak segan-segan mengimbau masyarakat untuk selalu ikhlas dan tetap berdoa dalam menghadapi musibah. Katanya, itu datang dari Allah SWT.

Tanpa bermaksud menegasikan peran Tuhan, ungkapan itu mungkin benar. Sebagai salah satu alasan, tapi bukan satu-satunya alasan.

Menurut penuturan Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), Doni Monardo, 99 persen penyebab kebakaran adalah manusia. 80 persen dari lahan yang terbakar, yang, di kemudian hari, terbukti dijadikan sebagai kebun untuk dimanfaatkan (Tempo).

Tidak dapat tidak, saya harus sepakat dengan ungkapan, “Riau dibakar bukan terbakar.” Bukan Tuhan dalangnya, tapi manusia yang merasa Tuhan-lah yang berada di balik itu semua.

Peristiwa serupa, yang terjadi pada 2015 silam—meskipun menyebabkan kerugian negara hingga ratusan triliun, tampaknya tidak benar-benar memberikan banyak pelajaran bagi mereka, pemangku jabatan dan kepentingan di negeri ini.

Parahnya lagi, emosi masyarakat acap kali dimainkan dan digiring untuk meyakini bahwa kondisi yang tengah dihadapi, hadir dan muncul secara tiba-tiba, tanpa campur tangan manusia (baca: alam dan Tuhan).

Walhasil, sudah dapat ditebak, dengan cara pandang dan pola penyelesaian kasus seperti disebut barusan, saling tuding adalah liputan utama yang acap kali dipertontonkan kepada masyarakat.

Negara, korporasi, hingga masyarakat akhirnya terlibat cekcok, saling lempar tanggung jawab. Sembari itu, hinaan bahkan makian terus dilayangkan negara tetangga, yang tak ingin ketenangan warganya terganggu akibat kiriman asap dari daratan Indonesia.

Halaman selanjutnya >>>

    Latest posts by Abu Bakar (see all)