Kader-Kader PSI Serbu Respons atas Pidato Politik Grace Natalie

Kader-Kader PSI Serbu Respons atas Pidato Politik Grace Natalie
Dara Nasution & Andy Budiman | Dok. PSI

Nalar PolitikKader-kader PSI tampak melakukan penyerbuan. Mereka menanggapi respons bernada negatif atas pidato politik Ketua Umum-nya, Grace Natalie, bertajuk Beda Kami – PSI – dengan Partai Lain.

Dalam konferensi pers (14/3), kader-kader PSI ini menjelaskan hal-hal terkait pidato politik Grace yang berhasil memancing komentar pedas sesama partai koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf. Bahwa sindiran Grace untuk partai-partai politik sayap nasionalis, menurut mereka, memang tepat. Komitmen nasionalismenya dipertanyakan. Sebab mereka, partai-partai nasionalis itu, terlibat dalam perumusan Perda Syariah yang diskriminatif.

“Sebenarnya yang diucapkan Sis Grace Natalie adalah murni upaya membuka diskursus publik, membuka perdebatan publik tentang bagaimana sikap partai politik menjelang Pemilu ini. Jadi kalau disampaikan tidak tepat, silakan dibantah dengan fakta saja, dibantah dengan argumentasi dan substansi,” ujar Tsamara Amany, Caleg DPR RI Dpail DKI Jakarta II.

Terkait desakan untuk PSI meminta maaf, atau menarik kembali isi pidato politik Grace, Tsamara tegaskan menolak. PSI, via Tsamara, tak wajib meminta maaf kepada rekan-rekan koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf.

“Fakta dan data ini lebih baik dijawab daripada menghendaki Sis Grace meminta maaf atau menuduh kita yang tidak-tidak.”

Menguatkan pandangan Tsamara, Surya Tjandra mengatakan bahwa partainya siap berdebat dengan rekan-rekan partai politik, baik itu partai di dalam maupun luar koalisi mengenai isi pidato Grace Natalie. Ia berkeyakinan, manuver politik PSI selama ini ditujukan untuk memperkuat kepemimpinan Presiden Jokowi lewat pendewasaan partai politik.

“Semua partai sibuk di Pilpres. Kami berharap, dari pidato itu, kita mulai mempertanyakan partai-partai ini mau ngapain gitu? Katakanlah setelah Pak Jokowi terpilih lagi, program apa yang mereka tawarkan untuk mendukung Pak Jokowi memimpin dengan baik?” papar Surya.

Dara Adinda Kesuma Nasution ikut angkat bicara. Ia melihat dari sudut pandang berbeda. Menurutnya, anggota DPR RI harus diganti dengan orang-orang berintegritas dan konsisten menjalankan tugas dan fungsi anggota dewan.

Hal itu ia tekankan karena dalam pidato politik di Medan International Convention Center lalu, Grace mengutip kajian dari Formappi yang menyimpulkan bahwa DPR periode sekarang berkinerja terburuk sepanjang sejarah reformasi. Dari 50 rancangan undangan-undangan (RUU), hanya 5 yang berhasil disahkan.

“Anggota DPR sekarang harus diganti dengan segala performanya yang buruk,” ucap caleg DPR RI dapil Sumatra Utara III itu.

Dara turut mengomentari partai-partai lain yang cenderung sinis merespons pidato Grace. Ia menyebut lebih baik partai-partai nasionalis yang hari ini duduk di Senayan menjelaskan alasan politik dukungan mereka terhadap perda-perda Syariah.

“Tentang sikap-sikap partai nasionalis terhadap Perda Syariah, tidak ada partai-partai yang menjelaskan kenapa mereka mendukung perda tersebut,” jelasnya.

Melanjutkan pernyataan rekan-rekannya, Andy Budiman mengharapkan sebuah debat antarpartai politik. Debat itu ia nilai penting, karena dengan cara itu publik bisa melihat diferensiasi (pembedaan) politik di Pemilu 2019.

“Seruan ini kami sampaikan ke KPU, civil society, dan media massa untuk memfasilitasi sebuah debat yang sehat tentang visi dan misi dari seluruh partai politik. Kita belum tahu visi Partai Gerindra tentang Perempuan, misalnya. Kami secara konsisten dan reguler menyampaikan apa yang menjadi program PSI terhadap berbagai isu,” terangnya.

Senada dengan yang lain, caleg DPR RI Dapil Jawa Timur I itu menyayangkan sikap partai-partai senior dalam merespons pidato politik PSI di Festival 11 PSI. Dari cara mereka merespons, terlihat jelas partai-partai lama itu tidak menjangkau substansi pidato dan justru menimbulkan kebisingan politik.

“Hingga saat ini kami belum sekali pun menerima sanggahan apa pun atas tawaran-tawaran kami. Selama ini ide atau perdebatan antarpartai politik lebih banyak diisi oleh sesuatu yang sifatnya berisik. Kita nggak mendapatkan inti dari percakapan politik ini. Kita nggak tahu gagasan dari partai lain seperti apa,” pungkasnya.

Azmi Abubakar menyatakan, partai-partai lain seharusnya dapat lebih dewasa dalam menanggapi Pidato Ketua Umum PSI. lebih lanjut, ia juga menegaskan bahwa keberanian PSI dalam mengunjungi Ibu Meliana seharusnya dapat menjadi teladan.

“Pernyataan Ketua Umum kami, khususnya mengenai apa yang menimpa Ibu Meliana, seharusnya dapat menjadi teladan. PSI yang tidak memiliki kekuatan di parlemen saja berani menghadapi hal-hal yang mungkin bagi partai lain takut karena persoalan elektabilitas. Karena empati dan rasa persaudaraan sesama anak bangsa lebih penting dari sekadar kepentingan pemilu atau elektabilitas. Untuk itu, saya kira partai-partai lain harus dewasalah menanggapinya”, ujar Azmi Abubakar, Caleg PSI Dapil Banten III.

Kader PSI lainnya, Mikhail Gorbachev Dom, meluruskan serangan di berbagai grup WhatsApp mengenai seruan bahwa pilih PSI sama dengan buang-buang suara karena elektabilitas PSI tidak akan sampai 4 persen.

“Padahal, justru PSI hadir untuk sebagai pembeda dari partai-partai lain. Jadi jelas, apa yang kami lakukan ini sama sekali bukan demi elektabilitas,” ujarnya.

Namun, kader-kader PSI tidak ingin partainya seperti partai-partai lain yang berbicara masalah yang itu-itu saja sehingga tidak ada pembeda lagi di antara partai politik. PSI justru ingin meningkatkan standar partai politik. Untuk itu, memilih PSI sama sekali tidak buang-buang suara.

Redaksi NP
Reporter Nalar Politik