Kagumku Adalah Harapan

Kagumku Adalah Harapan
©WTS

Seperti angin yang menghantarkan kesejukan
Dan bagaikan awan yang memperindah langit biru
Engkau adalah sosok yang manis sendayu
Engkau tatapkan mata indah berseri
Dan engkau tebarkan senyummu yang begitu menawan hati

Dalam diam, kata tak mampu lagi bertakhta
Jiwa pun terpaku dalam bisunya rasa
Hanya terhantar coretan tinta di atas hamparan kertas
Di dalamnya tertulis bait-bait pujian

Semesta pun Mengetahuinya

Di tengah ambang kegundahan jiwa terdalam
Aku menemukan embun penuh kesejukan dalam diam
Dengan saksama aku pun mengamatinya dalam diam

Aku tak ubahnya seperti anak kecil
Yang baru pertama kali melihat pelangi
Menatap lama-lama di balik kastil
Hingga rasa ingin tahu merasuk dalam diri
Yang pada akhirnya
Aku terkesima akan ketenangan jiwanya
Aku terpukau akan keteduhan wajahnya
Aku pun terpesona akan kemuliaan akhlaknya

Pada semburat sinar mentari mencumbu badan
Gemercik air disela-sela bebatuan
Bisikan angin menyentuh dedaunan
Aroma tanah tandus tersapu air hujan
Bahkan pada debur ombak memecah keheningan

Pencarian

Mencarimu adalah jejak hidupku
Di saat fajar terbit sampai melabuh di ujung senja
Memeluk pertemuan yang tiada bersua adalah kepedihan rasa tiada tara

Tenteram jiwa ini di tengah keramaian
Merindukan keheningan itulah harapan
Kala membiasankanmu di sinar lilin temaram
Di situlah kebahagiaan sejati hadir di hati

Sentuh jemari ini di rentang mimpi
Sampai teriakan ayam jantan membelah kesunyian
Turunkan maknamu memeluk asaku
Dengan jiwa yang kerontang
Aku pun memelukmu di pejam mataku

Saat pagi menyiratkan keemasan
Mimpiku berlalu dengan desakan menghimpit dadaku
Betapa ringkas waktu berlalu
Meninggalkanku yang termangu melihat sekelebat hadirmu

Hujan

Rintik hujan mengiring langkahku di kesunyian malam
Berkali kubasuh raut wajahku sendiri dari terpaan air
Kehangatan yang terasa menyentak imajinasi
Bahwa di antara butiran air hujan, terselip butiran air mata
Mengalir perlahan di antara kedua pipiku

Beberapa kerumunan menaungi tempat berteduh
Mata mereka tertuju satu ke arahku berjalan
Sementara bibir mereka terkatup dipenuhi tanda tanya
Kenapa tidak berteduh?
Ada apa?
Mungkin seperti itulah tanda tanya mereka pendam.
Dan aku tetap melangkah

Siapakah aku ini?
Orang lemah yang selalu mengalah!!
Senyum pun mengambang
Setidaknya kepergianku mematahkan kelemahanku

    Latest posts by Lalik Kongkar (see all)