Kalashnikov dan Kausalitas Kekuasaan

Kalashnikov dan Kausalitas Kekuasaan
©NPR

Mikhail Timofeyevich Kalashnikov merupakan seorang perwira tinggi Rusia (dahulu:  Uni Soviet). Selain sebagai perwira tinggi, ia merupakan seorang penemu dan insinyur militer dan perancang senjata kecil berkebangsaan Rusia. Ia menjadi terkenal setelah berhasil mengembangkan suatu senapan serbu AK-47, AKM, dan AK-74.

Senjata-senjata tersebut menjadi sangat terkenal karena beberapa keunggulan yang dimilikinya, yaitu: ketahanan yang sungguh luar biasa ketika digunakan dalam kondisi apa pun, harga yang murah, perawatan yang mudah dilakukan dan tidak mudah macet saat digunakan. Tidak heran banyak negara membeli senjata tersebut untuk digunakan dalam angkatan bersenjata yang mereka miliki.

Inspirasi Kalashnikov untuk mengembangkan senjata AK-47 disebabkan oleh kehebatan senjata tentara Jerman saat itu dibandingkan dengan pasukan Uni Soviet. Ia memiliki pengalaman buruk pada saat pertempuran melawan Jerman ketika invasi tersebut berlangsung di Uni Soviet.

Namun, perjalanannya untuk menciptakan senjata tersebut tidak semulus yang kita bayangkan. Banyak percobaan senjata yang ia ciptakan namun mengalami kegagalan. Akibatnya ia melakukan perancangan kembali dengan memperhatikan beberapa referensi dari senjata terdahulu yang pernah ia buat, sebelum akhirnya berhasil menciptakan perkembangan senjata yang membuat setiap orang terheran-heran dengan ketahanan senjatanya.

AK-47 adalah kepanjangan dari Automat Kalshnikova 47. Angka 47 merujuk kepada tahun pertama pembuatan senjata tersebut.

Tidak Menyerah dengan Keadaan

Kalashnikov tidak menyerah dengan beberapa kegagalan yang ia alami. Selain itu, ia juga terjebak dalam kondsi yang menegangkan ketika perang dunia kedua masih terus berlanjut semasa perancangan senjata tersebut.

Setelah berhasil memenangkan perlombaan senjata yang diikuti oleh puluhan pesaing dari insinyur militer dan pihak lainnya, AK-47 menjadi salah satu simbol revolusi dan menyebar begitu cepat ke negara-negara yang tergabung dalam Pakta Warsawa (baca: Nikita Khrushchev) hingga senjata tersebut tersebar ke seluruh belahan dunia.

Kita melihat kemampuan seseorang yang memiliki pemikiran kreatif untuk mengembangkan suatu teknologi yang mampu membawa manusia dan masyarakat merasa aman. Pengaruh sosial-ekonomi setiap individu dapat memengaruhi perkembangan kemampuan seseorang untuk menjalani aktivitasnya dalam lingkungan sosial.

Ketika terjadi suatu ketimpangan sosial dan tidak adanya kesadaran manusia atas ketimpangan tersebut, maka daya untuk mengembangkan dalam diri manusia tidak akan pernah terealisasikan.

Kita harus melihat bahwa pendidikan menjadi salah satu faktor penting untuk menunjang pengembangan kemampuan seseorang dan melepaskan dirinya dari siklus pembodohan kapitalisme. Namun, kita tidak dapat menutup mata bahwa banyak orang yang tidak memiliki akses terhadap pendidikan.

Ketika kita menemukan kelompok marjinal di dalam masyarakat, maka tidak jarang kita akan menemukan pendidikan bukan sebagai prioritas utama di masyarakat marjinal. Akses terhadap pendidikan yang tidak merata ini dilanggengkan oleh kapitalisme untuk mempertahankan hegemoni yang ada di masyarakat.

Panah Kapitalisme

Kapitalisme dengan semua kemampuan yang mereka miliki untuk menjaga hegemoni dan dominasi mereka atas suatu kelompok terus menyebabkan penindasan dan pembodohan sosial. Pembodohan yang dilakukan oleh kapitalisme seiring dengan pengalihan fokus kelompok marjinal dari urusan pendidikan ke urusan ekonomi.

Hal ini disebabkan oleh kemampuan kapitalisme untuk menciptakan ketidaksadaran manusia sehingga kemiskinan struktural terus terjadi. Akibatnya, seseorang tidak akan mampu untuk keluar dari siklus kapitalisme. Kapitalisme membawa kita pada suatu prinsip “pertolongan dari kuasa tertinggi” sehingga setiap orang hanya akan berharap pada otoritas tertinggi untuk membantu mereka keluar dari permasalahan kemiskinan dan pendidikan.

Namun, yang perlu disadari adalah ketika pertolongan dari kuasa tertinggi, maka seseorang harus siap dengan segala hegemoni yang sudah disiapkan agar mereka mendapatkan keuntungan setelah seseorang yang ditolong dapat keluar dari siklus yang ada. Dengan ajakan “bekerja keraslah” seseorang akan terus berupaya untuk mendapatkan apa yang mereka sebut sebagai “kekayaan”.

Akibatnya, seseorang tidak akan menyadari bahwa ia seharusnya mendahulukan kemampuan kreatif dan pemikiran yang terbuka untuk menganalisis setiap sudut pandang.

Ketika seseorang hanya mengandalkan prinsip yang diajarkan dan dipropagandakan oleh kapitalisme, maka mereka tidak akan pernah menemukan otentisitas diri mereka, kemampuan kritis yang tadinya mereka miliki perlahan ditumpulkan dan diarahkan agar mereka menjadi seseorang pada umumnya.

Halaman selanjutnya >>>
Angga Pratama