Kalau Saya Jadi Menteri Pendidikan

Kalau Saya Jadi Menteri Pendidikan
Mantan Menteri Pendidikan, Anies Baswedan

Kalau saya jadi seorang menteri pendidikan…

Jujur saja, sewaktu di hari pertama yang terhitung sebagai masa pelatihan saya sebagai seorang guru les, ingin rasanya muntah. Mual pun akan menyambut.

Rasanya memang aneh kalau mendengar sesuatu yang sangat mengerikan pada saat pertama kalinya. Di saat itu, mentor saya menjelaskan tujuan tempat les yang saya bakalan tempati nantinya. Dia menjelaskan dengan gamblangnya kalau dunia pendidikan itu sudah termasuk industri. Oleh karenanya, “kita harus bersaing,” katanya.

Bukan hanya muntah dan mual, sakit kepala pun datang. Itu karena saya masih tak bisa menerima dengan adanya industri di sistem pendidikan Indonesia. Di mana-mana yang namanya industri pasti ada kaitannya dengan bisnis (pasti kembali lagi ke duit).

Belum lagi siapa yang untung di bisnis itu, pasti bukan orang miskin. Saya merasa kesalahan pertama yang berlaku di Indonesia sebelum kita mengkritik yang lain-lainnya adalah karena hal ini terabaikan, hal industri pendidikan.

Jika industri muncul, keadilan di dunia pendidikan bakalan tak stabil. Banyak yang mengkritik dan mengabaikan fakta kalau di Finlandia itu memakai sistem sosialisme dalam sistem pendidikannya.

Baiklah. Saya merupakan seseorang tak paham agama, tapi saya yakin setiap agama selalu mengingatkan kita bahwa peraturan-peraturan yang kita sepakati itu selalu memiliki kebaikan bukan keburukan.

Saya sepakat dengan Amin Maalouf, seorang pemikir dari timur, tentang idenya kalau banyak orang mengabaikan pengaruh manusia terhadap agama. Justru yang selalu orang besar-besarkan itu pengaruh agama terhadap manusia. Ya, wajar saja. Namanya manusia. Yang jelas, saya bukanlah ahli agama.

Industri kadang mengabaikan yang sosial. Jika Marx pernah mengatakan kalau salah satu sifat kapitalisme, yaitu terhambatnya sirkulasi produk selain penghimpunan produk pada satu titik, di industri pendidikan juga terkena dampaknya juga.

Baca juga:

Apa yang membuat Finlandia menjadi negara yang maju dengan pendidikannya itu lantaran negara tersebut tidak mengabaikan orang-orang yang paling tertindas. Hal itu terbukti dengan adanya tunjangan tersendiri bagi mereka yang menganggur. Walaupun saya tak tahu secara mendetail, tapi itu salah satu bukti bahwa Finlandia merupakan suatu negara yang berbasis sosialis.

Arnold Toynbee, sejarawan Inggris, bahkan mengatakan bahwa komunikasi sosial itu sangat penting dalam peradaban manusia. Dalam fase pertama pun, dia menjelaskan kalau ketidakadilan juga terjadi karena manusia pada saat itu tak bisa berbicara satu sama lain, sehingga yang sosial terabaikan.

Jika yang sosial terabaikan dan industri memegang kendali pada sistem pendidikan di Indonesia, bukan hanya ketidakadilan antara yang miskin dan kaya terjadi, bahkan para pendidik pun juga akan mengalami diskriminasi.

Bukan hal yang aneh lagi jika masih ada sarjana pendidikan yang masih menganggur. Industri pendidikan membuat sekolah-sekolah negeri harus bersaing satu sama lain, sehingga muncullah tren-tren terbaru (walaupun sudah basi), seperti sekolah favorit SMA negeri bla Makassar.

Calon pendidik yang menganggur pun kadang berusaha memasuki sekolah-sekolah negeri tersebut, tapi pada akhirnya bakalan kecewa juga. Soalnya masih ada lagi tingkatan di dalamnya. Misalnya masalah gaji.

Gaji guru yang sudah tersertifikasi pasti berbeda dengan guru yang masih honorer. Soalnya mereka adalah pelayan negara sedangkan guru yang honorer belum termasuk. Maksudnya? Jadi guru honorer cuma pakai idealisme nasionalisme doang untuk mendidik?

Jadi, kalau saya menjadi seorang menteri pendidikan, saya akan berusaha mengkritik industri pendidikan yang ada di Indonesia. Kalau bisa, saya bakalan menghilangkan industri-industri yang memperparah sistem pendidikan (kalau perlu semuanya) yang ada di Indonesia ini.

Persaingan-persaingan yang ada di industri tersebut membuat sekolah negeri menjadi tak layak untuk kita jadikan tempat mengajar. Sehat atau tidak, struktur perbedaan antara yang les dan yang tidak menjadi sangat mendominasi dalam sistem pendidikan kita. Itulah industri.

Halaman selanjutnya >>>