Kampus, Mahasiswa, dan Politik

Kampus, Mahasiswa, dan Politik
©Colleges

Mahasiswa sejak dari kampus memang sudah tak belajar bagaimana berpolitik yang baik dan benar.

Acapkali kemiskinan menjadi penghalang yang berat dalam mencari ilmu pengetahuan. Persoalan biaya masih menjadi problem yang sangat krusial di negeri ini.

Alasan biaya ini acapkali membuat impian seseorang harus terkubur dalam-dalam. Dengan begitu, ada pertimbangan lain, seperti bekerja menjadi solusi dan pilihan yang jauh lebih baik daripada melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Realitas yang sering kali kita jumpai di negeri ini, betapa banyak anak yang berkeliaran di jalan, berjualan, mengamen, ataupun nongkrong saat anak-anak sebaya lagi asyik bercengkerama dengan buku-buku ilmu pengetahuan di bangku kuliah dengan alasan persoalan biaya kuliah.

Maka tak heran, bagi sebagian kalangan, masuk dan menjadi mahasiswa di kampus perguruan tinggi khususnya perguruan tinggi negeri itu suatu kebanggaan. Baginya, menyandang gelar mahasiswa “seakan-akan” telah menjadi makhluk istimewa, baik secara biologis maupun secara secara sosial.

Kita katakan istimewa secara biologis, sebab rata-rata mereka yang menjadi mahasiswa tentu berada umur yang sangat energik dan cocok serta memungkinkan jadi pelopor perbaikan persoalan negeri ini.

Menjadi mahasiswa secara sosial, bisa memperoleh status istimewa di mata masyarakat. Belum lagi ia bisa menikmati fasilitas istimewa di perguruan tinggi.

Terlebih lagi, untuk saat ini, hampir semua kurikulum yang ada di perguruan tinggi sudah terancang sedemikian rupa untuk menjadi lapisan calon pemimpin yang siap mengganti generasi tua. Lulusan perguruan tinggi bukan lulusan yang mementingkan masalah pribadi.

Tak ayal, banyak yang mengatakan kalau pekerjaan yang cocok bagi lulusan perguruan tinggi tak jauh-jauh dari manajer dan pemikir atau pencetus gagasan baru.

Baca juga:

Untuk saat ini kedua pekerjaan ini, tiap masing-masing kampus di perguruan tinggi di negeri ini, baik negeri maupun swasta, sudah tersedia jurusan dan fakultas masing-masing. Walaupun kadang kala ada lulusan kampus perguruan tinggi yang bekerja tak sesuai jurusan selama kuliah di perguruan tinggi, dan untuk saat ini dirasa sangat menemukan dua kepribadian dalam satu pribadi.

Secara teoritis, seorang manajer lebih menekankan orientasi pada masalah yang dapat ia selesaikan. Dalam hal ini, lebih membutuhkan bekal keilmuan yang bisa mengatasi masalah-masalah dalam bidang manajemen yang lebih bersifat teknokrat.

Sementara peran seorang pencetus gagasan, orientasinya lebih menekankan pada pemikiran yang lebih terfokus pada asah otak untuk memunculkan gagasan alternatif. Setidaknya, bekal keilmuan yang harus ia penuhi lebih banyak pada perenungan atau kontemplasi.

Sebagai manajer dan pencetus gagasan, mahasiswa wajib untuk lebih banyak belajar tentang kemasyarakatan, terlebih belajar menjadi pemimpin masyarakat. Belajar menyelesaikan masalah kemasyarakatan secara bersama masyarakat adalah modal awal belajar berpolitik. Dalam arti, belajar bersosial, bukan dalam pengertian politik praktis.

Kesempatan program Kuliah Kerja Nyata atau KKN yang ada di kampus perguruan tinggi sering kali bagi sebagian mahasiswa menjadi peralihan tempat tidur; kosan. Jarang sering mahasiswa yang mau benar-benar belajar dan dimaknai menjadi attentive public, apalagi sampai menjadi aktor politik.

Tak pernah ada ceritanya perumusan persoalan kemasayarakatan yang kemudian menjadi masukkan kebijakan bagi pelaku politik praktis maupun bagi masyarakat yang memiliki kebijakan.

Di sini kesadaran setiap mahasiswa penting, di mana pada dasarnya belajar menjadi aktor politik adalah belajar mengembangkan kemampuan mendesain aturan-aturan dalam masyarakat, baik secara sosial, kultural, ekonomi, dan budaya, lebih-lebih belajar politik praktis. Sejatinya, semua ini bagi lulusan perguruan tinggi sudah tak asing dan awam lagi.

Persoalan yang begitu tampak, dan ini mungkin dari dulu hingga kini adalah mahasiswa jarang sekali bahkan tak pernah terlibat dalam membuat atau main dalam proses pembuatan aturan, baik itu di kampus sendiri, apalagi pada ranah pelaku pembuat kebijakan politik. Dengan kata lain, mahasiswa sejak dari kampus memang sudah tak belajar bagaimana berpolitik yang baik dan benar.

Halaman selanjutnya >>>
Syahuri Arsyi
Latest posts by Syahuri Arsyi (see all)