Kant, Gagasan Moral dan Pendidikan Karakter

Kant, Gagasan Moral dan Pendidikan Karakter
©GKI

Kant mengupayakan adanya pembentukan moral yang membawa individu menuju kebaikan.

Perkembangan hidup kaum remaja Indonesia di era post modern mengalami kemerosotan moral yang memprihatinkan. Berbagai permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat seperti pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, pergaulan bebas, perdagangan manusia, narkoba, candu teknologi, aborsi dan kekerasan seksual kerap kali menunjukkan indikasi keterlibatan kaum remaja di dalamnya.

Secara implisit, realitas ini hendak membahasakan suatu bentuk kegagalan dari sebuah sistem pendidikan dalam membentuk pribadi-pribadi unggul yang cerdas, kompeten dan berwawasan.

Menjawabi persoalan semacam ini, muncul gagasan dalam pendidikan dengan basis pembelajaran yang seimbang antara pengetahuan dan pembentukan karakter. Sebagaimana gagasan pendidikan karakter Prof H. Pramula Razzan menekankan poin ilmu pengetahuan berdaya fungsi memperbaiki karakter manusia yang mesti ditanam dan dihidupi sejak dini, guna melahirkan generasi berakhlak dan bermoral di tengah masyarakat.

Berkaitan dengan basis pengajaran moral, lokus pemikiran Kant didasari pada tindakan moral yang murni, di mana hal yang baik seutuhnya baik pada dirinya sendiri. Kebaikan moral Kant adalah yang baik dari segala segi tanpa pembatasan sama sekali (Matias Daven, 2018: 115). Moralitas Kant dalam penerapannya berjalan secara seimbang antara akal budi, sikap batin dan tindakan praksis.

Lebih lanjut pemikiran moral Immanuel Kant tertuang dalam dua karyanya yakni Critique of Partical Reason dan Metaphyisics of Moral. Dua karya Kant ini sama-sama menyentil konsep pendidikan moral (Antonius Puspo Kuntjoro, 2016: 231). Penalarannya berujung pada suatu usaha menghidupi etika sebagai keutamaan diri yang harus dipelajari.

Apabila dikaji lebih lanjut, dapat dikatakan bahwa pemikiran Emmanuel Kant paralel dengan penerapan pendidikan karakter di Indonesia. Kant mengupayakan adanya pembentukan moral yang membawa individu menuju kebaikan. Sebagaimana tujuan pendidikan karakter, yakni membentuk manusia menjadi pribadi yang baik dengan kualitas kepribadian yang unggul.

Pendidikan berkarakter dalam corong bahasa pengajaran moral Kant hendaknya menjadi wadah pembentukan yang mampu mematangkan kepribadian seseorang dalam segala aspek dan penerapanya harus dimulai secara bertahap sejak dini.

Gagasan Virtue dalam Moralitas Kant: Titik Acuan Pendidikan Karakter

Inti moralitas Kant terletak dalam kebaikan diri sendiri yang berpusat pada kehendak baik. Kehendak baik yang dihidupi berkaitan dengan akal budi praktis yang mengarah ke aktus. Di sini penerapan lebih lanjut terhadap sebuah nilai yang diperoleh menjadi tujuan utama. Apa yang baik dari konsepnya harus nyata dalam tindakan baik yang dilakukan (Franz Magnis Suseno, 2004: 147).

Di samping itu, dalam Doktrin Metode Etika (Doctrine of the Method Of Ethics) yang tertuang dalam salah satu karyanya Methaphysics of Moral menegaskan poin penting mengenai pengajaran etika. Menurut Kant, etika menjadi bagian dari kewajiban moral yang tidak berasal dari hukum atau peraturan dari luar. Oleh sebab itu, pengajaran berbasis moral menjadi hal tanpa syarat dalam praksis nyata dan merupakan hal yang murni serta dasariah sebagai pembentuk aspek kemanusian diri sebagai seorang manusia.

Pendidikan karekter menekankan aspek kualitas dalam diri manusia, yang mana kepribadian individu terbentuk secara matang lewat dan melalui pendidikan. Realisasi nyata terhadap nilai yang diperoleh lewat pengetahuan hendaknya mampu membentuk kematangan seseorang yang berpendidikan. Ada nilai lebih dalam penerapan pendidikan berbasis karakter dari sekadar kematangan aspek kognitif para peserta didik.

Implementasi dari kehendak akal budi praktis dalam pengetahuan menjadi nyata dalam tindakan. Nilai yang diperoleh lebih dari sekedar nilai sebagai hasil indoktrinasi pendidikan, namun lebih dari itu nyata dalam kualitas kepribadian yang unggul. Hal ini secara langsung hendak membentuk kematangan akan keutamaan-keutamaan diri yang dimiliki dalam sebuah proses pembentukan diri yang berkelanjutan.

Keutamaan-keutamaan menjadi wujud dari kewajiban moral. Gagasan akan keutamaan (virtue) bukanlah suatu yang berada sejak lahir namun harus diperoleh dalam pembelajaran melalui akal budi praktis yang murni dalam tindakan.

Di sinilah letak korelasi antara pemikiran Kant dan pengembangan pendidikan karakter. Ajaran etika dalam moralitas Kant sejalan dengan pengembangan pendidikan karakter peserta didik yakni apa yang baik sebagai keutamaan harus terus menerus dibentuk lewat pengajaran moral, dalam konteks saat ini ialah dalam basis pendidikan karakter.

Pendidikan Karakter: Membentuk Pribadi Unggul yang Berkualitas

Tujuan dasar pendidikan karakter ialah mendorong setiap pribadi yang terdidik untuk mengerti, peduli dan bertindak berdasarkan nilai-nilai dasar moral. Di sini pendidikan karakter membantu setiap pribadi untuk mengerti tentang apa yang baik dan benar, yang harus dihidupi dalam praktik hidupnya.

Nilai-nilai baik sebagai hasil pembelajaran di sekolah hendaknya secara utuh diterapkan dalam berbagai segi kehidupan di lingkungan keluarga dan masyarakat sesuai dengan tataran kebaikan moral yang berlaku. Lewat dan melalui pendidikan berbasis karakter, para remaja di Indonesia dibentuk untuk bertumbuh sebagai pribadi dengan kualitas diri yang unggul dan seimbang antara kemapanan intelektual dan kedewasaan moral.

Pendidikan karakter saat ini menjadi wujud impelementasi lanjut dari upaya melancarkan produk revolusi mental dalam tubuh bangsa Indonesia. Sebuah gerak perubahan yang paralel dengan tujuan pendidikan itu sendiri yakni membentuk dan melahirkan pribadi-pribadi unggul yang berkualitas.

Sejalan dengan maksud mulia UU Sistem Pendidikan Nasional No 20/2003, hendaknya pendidikan menjadi “pengandung” (conceivers) bagi tumbuh kembangnya pribadi yang berakhlak, berilmu, cakap, kretif dan mandiri. Penerapan pendidikan berbasis karakter menjadikan setiap pribadi terdidik (siswa dan mahasiswa) belajar mengambangkan prilaku prososial dalam mengkomuniskasikan perasaan, mendengarkan secara aktif, kemampuan menolong dan memiliki kapasitas dan tendensi yang masif untuk berprilaku sesuai dengan nilai-nilai dalam hidup (Khoiruddin Bashori, Media Indonesia, 2019).

Kecapakapan dalam khazanah wawasan kognitif harus seimbang dengan kecakapan karakter diri setiap remaja (peserta didik) di Indonesia.

Pemeberlakuan sistem pendidikan yang seimbang dengan berbagai formulasi yang diterapkan menjadi titik solutif yang mestinya menyentuh substansi pendidikan Indonesia. Berbagai pendekatan dalam basis pendikan yang seimbang harus terus-menerus dihidupi, baik dalam rana pendidikan formal maupun pendidikan nonformal.

Namun menjadi sorotan utama yang hendak diangkat ialah soal tumbuh kembangnya kualitas pendidikan formal bangsa Indonesia. Yang mana dalam rana penerapanya diharapakan agar sistem pendidikan Indonesia mampu berjalan seimbang antara pembentukan kualitas kognitif dan kualitas moral sebagai buah dari kematangan karakter para remaja.

Moralitas Kant: Rekonstruksi Pendidikan Karakter dalam Menjawabi Dekadensi Moral Kaum Remaja di Indonesia

Pendekatan langsung pendidikan berbasis karakter ialah pendidikan moral lewat jalan membekali para peserta didik dengan pengetahuan moral yang baik dan benar, sehingga membantu kaum terdidik untuk bertindak baik dan benar. Problem dalam dunia modern di kalangan remaja ialah penerapan terhadap nilai kognitif yang diperoleh dalam sikap dan perilaku yang ditunjukan.

Dengan kata lain, kaum remaja “cacat” secara moral meskipun mapan secara intelektual. Di sini pengetahuan yang diperoleh tidak sepenuhnya menjamin perkembangan kualitas kepribadian kaum remaja terdidik. Oleh karena itu, pendidikan moral berbasis karakter menjadi landasan bagi kaum remaja terdidik untuk hidup secara baik dan benar sesuai dengan hukum moral.

Penerapan pendidikan yang dilakukan sejak dini, baik dalam pendidikan formal maupun nonformal menjadi kunci utama pembentukan diri para remaja. Pendekatan melalui berbagai tahap pengajaran moral Kant dalam critique of partical reason dan metaphyisics of moral dapat dipakai.

Praktik pendidikan moral dan etika dapat diterapkan sejak dini melalui pengajaran tentang segala bentuk keutaman baik dalam diri (virtue) seperti berlaku adil, jujur, bijaksana, peduli, menghormati, menghargai, empati, solidaritas, kerjasama dan berbagai keutamaan lainnya, baik dalam lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat. Hal ini  bertujuan agar para remaja yang berpendidikan sejak awal telah dibentuk untuk menghidupi segala keutamaan dalam diri yang bermoral dengan baik dan benar sebagai kualitas yang dimiliki.

Pengajaran akan nilai-nilai kebaikan dalam berbagai segi kehidupan menjadi hal utama yang harus dihidupi, sebagaimana Kant menekankan kebaikan dalam segala aspek kehidupan. Maksudnya para remaja terdidik tidak dibawah pada doktrinasi aturan-aturan pendidikan semata lewat besarnya nilai kognitif yang diperoleh sebagai hasil belajar di sekolah, melainkan lebih dari itu realisasi terhadap nilai yang diperoleh menjadi hal utama.

Di sinilah letak solusi untuk mengatasi ketimpangan moral kaum remaja di Indonesia sebab kemapanan intelektual yang tidak seimbang dengan kematangan moral dan etika tidak menjamin pembentukan mutu dan kualitas diri kaum remaja.