Kapitalisme Rakyat, Sistem Ekonomi Islam ala Gus Dur

Kapitalisme Rakyat, Sistem Ekonomi Islam ala Gus Dur
Islamic Economy | Courtesy

Nalar PolitikSiapa bilang Islam tidak mengajarkan kapitalisme, bahkan malah menentangnya? Buktinya, ada ayat menarik dalam Alquran, yakni ayat 7 surat Al-Hasyr. Ayat ini secara terang bicara sistem atau pengaturan perekonomian umat yang, menurut Gus Dur, adalah dasar dari poor capitalism, kapitalisme rakyat.

Soal kapitalisme rakyat ini Gus Dur terangkan melalui ceramahnya di Masjid Takhobbar, Surabaya, Jumat (26/12/1997) dalam rangka menyongsong bulan suci Ramadan. Kala itu Gus Dur masih menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, yang kemudian ceramahnya dimuat di Majalah Aula edisi Februari 1998 bertajuk Kerangka Umum Mengatur Ekonomi menurut Islam.

Berikut ini kami sajikan transkrip lengkap ceramah Gus Dur tentang bagaimana sistem kerja dari kapitalisme rakyat yang dimaksud.

___________________

Pada penghujung tahun 1997 dan sekaligus menyongsong bulan suci Ramadan ini, mudah-mudahan kita semua diberi Allah barokah hidup kita. Dan mudah-mudahan bulan Ramadan dan seterusnya.

Sebagaimana dinyatakan dalam riwayat: Syahru romadona awwaluhu rahmatun, wa wastuhu maghfiratun, wa akhiruhu ‘itqun minanar. Bulan Ramadan itu awalnya—sepertiga yang awal—adalah rahmah. Rahmah, asalnya dalam bahasa Arab, artinya “ikatan”.

Sebagaimana Alquran menyatakan: Wamin ayatihi an khalaqa lakum min anfusikum azwajan litaskunu ilaiha wa ja’ala bainakum mawaddatan wa rahmah. Di antara tanda-tanda kebebasan Allah adalah bahwa Ia telah menjadikan dari kalangan kalian sendiri pasangan-pasangan kalian. Agar supaya kalian dapat hidup mantap dengan pasangan-pasangan kalian tersebut (suami atau istri). Dan Allah membuat di antara kalian mawaddah wa rahmah, rasa saling mencintai dan rahmah (ikatan batin yang sangat kuat) di antara suami dan istri.

Alquran juga menyatakan: Wa arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin. Tiadalah Kuutus engkau, ya Muhammad, kecuali sebagai pembawa tali ikatan kemanusiaan yang kokoh di antara sesama umat manusia.

Alamin, di dalam kebanyakan tafsir, diartikan lil basyar (umat manusia), bukan untuk penghuni seluruh alam. Berarti khusus untuk ikatan di antara manusia. Jadi, Islam itu datang untuk mengikat orang banyak, bukan untuk mencerai-beraikannya.

Bulan Ramadan itu sepertiga yang awal rahmah. Itu karena kita menderita lapar dahaga, kita harus prihatin. Itu semua tidak lain untuk menciptakan rasa terikat satu sama lain di antara sesama umat manusia.

Dimensi kemanusiaan yang timbul dari rasa satu keluarga besar umat manusia inilah yang dituju untuk dicapai dalam sepuluh hari pertama dalam bulan Ramadan. Mudah-mudahan kita memperoleh rasa seperti itu: rasa damai, rasa saling memiliki kepada orang-orang lain.

Wa wasatuhu maghfiratun. Dan di tengah-tengah bulan Ramadan itu maghfirah, pengampunan. Kalau kita sudah mempunyai rasa terikat yang kokoh-kuat, kita tentu dapat memaafkan orang lain dan kita akan dimaafkan oleh orang-orang lain. Ini menjadikan kita memperoleh maghfirah, pengampunan dari Allah SWT.

Wa akhiru ‘itqun minannar atau najatun minannar. Dan seperti terakhir, 21 Ramadan ke atas, kita memperoleh pembebasan ancaman neraka. Artinya, kita menjadi manusia yang kembali kepada sifat kemanusiaan yang asli. Berarti kita ini tidak lagi dipenuhi dengan hawa nafsu, yang jauh dari sifat-sifat kemanusiaan.

Ini akan membuat kita menjadi makhluk baru, yang seolah-olah lahir dalam bulan puasa, lahir menjadi orang baru, yang kembali pada awal mula penciptaan dirinya yang dinamakan fitratun nas. Blank, kosong, tidak ada kesalahan, tidak ada penguasaan hawa nafsu atas dirinya, melainkan menjadikan dirinya sebagai manusia yang baik.

Pada dasarnya konsep Islam tentang manusia itu, yakni dia lahir dalam kebaikan. Karena itu, harus berfungsi membawa kebaikan dan perbaikan.

Islam itu agama perbaikan, dinul islah. Ini timbul dari fitrah manusia. Hari di saat manusia mengakhiri puasanya, mereka kembali asal kemanusiaan yang dinamakan Idulfitri, hari raya kebersihan. Atau asal manusia, yaitu corak semua dari dirinya, sebelum dia disimpangkan oleh kehidupannya sendiri selama ini.

Karenanya, mudah-mudahan kita, dalam bulan Ramadan ini, betul-betul memperoleh rahmah, rasa terikat satu sama lain kepada semua orang tanpa kecuali. Kedua, memperoleh maghfirah, pengampunan dari Allah SWT. Dan yang ketiga, kita dapat kembali ke fitrah semula.

Kalau ketiganya tercapai, maka sudah betul-betul kita menjadi manusia baru yang dosa-dosanya terhapus semua. Seperti dikatakan oleh hadis: Man soma romadona imanan wahtisaban ghufiro lahu ma taqoddama min zambihi. Barang siapa berpuasa Ramadan karena dorongan keimanan atau keyakinannya kepada kebenaran perintah Allah untuk berpuasa, dan karena mengharapkan rida Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Itu janji Allah. Tergantung puasa kita betul-betul apa tidak. Kalau puasa mau cari enaknya saja—pagi mengantuk, siang tidak kerja apa-apa dan malas-malasan, malamnya makan enak, bukan itu yang man soma romadona imanan wahtisaban. Justru berpuasa dalam kondisi tidak makan tidak minum lalu lapar dahaga tetap bekerja seperti biasa, itu esensi puasa tercapai di sana. Bukan sebaliknya.

Karena itu, kadang-kadang kita salah menerjemahkan. Umpamanya di Saudi Arabia, kalau bulan puasa, kerjanya malam hari. Pagi, kantor tutup semua. Habis tarawih, kerja sampai subuh. Saat itu ramainya kantor dan pasar-pasar. Itu, menurut saya, esensi puasa lalu hilang. Kita lalu tinggal menerima laparnya saja, menerima dahaganya, tapi tidak atas dasar atau inti peribadatan dalam bulan suci tersebut.

Dalam berpuasa, kesiapan mental—apalagi kesiapan rohani—sangat diperlukan. Bagaimana kita mengendalikan diri, jangan sampai gampang-gampang marah. Apalagi suudzon, berprasangka buruk kepada orang lain. Apalagi ada iri hati, ada segala macam rasa itu. Kita harus mau melepas diri dari hal-hal itu. Maka kesiapan mental dan rohani kita sangat diperlukan.

Kalau kita lihat Islam membawakan ibadah semacam itu, kita kadang-kadang memang ngeri. Ini agama kok banyak benar kewajiban-kewajibannya?

Apalagi kalau mendengar para mubalig bicara tentang amr makruf nahi mungkar, harus memerintahkan yang diwajibkan agama dan mencegah yang dilarang, dengan nada yang berapi-api. Segala macam yang dilarang, dikupas panjang lebar, sambil ngata-ngatain orang yang melanggar.

Saya juga menjadi jamaah di masjid. Saya dengerin, kadang-kadang ada yang hampir seperti itu. Sebab ada cerita:

Serombongan kiai pada hari akhirat nanti, mereka bergegas ke pintu surga, merasa amalnya paling betul, semuanya paling beres. Ternyata mau masuk surga ditahan malaikat.

“Tidak boleh masuk dulu, Pak Kiai. Tunggu dulu.”

“Lho, saya ini Kiai.”

“Tidak bisa, Pak Kiai. Antri dulu di sana.”

Para kiai tadi lalu antri. Kemudian, tiba-tiba datang serombongan sopir bus gila. Kerjanya nyetir ugal-ugalan. Begitu datang, langsung masuk surga.

Padahal, karena menjadi sopir bus, salatnya juga urakan. Setiap hari menggunakan rukhsah. Salatnya tidak pernah jangkep. Keringanan kok menjadi harian?

Tapi, eee.., begitu datang, malaikat langsung mempersilakan masuk ke surga. Kiai-kiai langsung protes.

“Bagaimana, Pak Malaikat, dia kok masuk? Dia itu, kalau nyopir, masyallah. Hidupnya, salatnya juga nggak karu-karuan. Salatnya dhat nyeng (tidak ajeg).”

“Sebabnya ada, Pak Kiai. Bapak-Bapak Kiai ini, kalau khotbah Jumat, kepanjangan. Sehingga jamaahnya ketiduran dan tidak ada yang berdoa. Dan lagi, doa khatibnya itu tak ada yang mengamini karena ketiduran semua. Sebaliknya, sopir ini, setiap hari nyopirnya ugal-ugalan. Seluruh penumpang tidak ada yang berani tidur. Semua berdoa minta selamat.”

Saya tidak minta Anda untuk menjadi sopir ugal-ugalan. Bukan. Tapi maksudnya, kita tidak bisa memastikan segala sesuatu kalau kita sendiri tidak siap. Buktinya, sudah pintar-pintar, alim-alim, akhlaknya hebat semuanya, tapi kok kepleset hanya karena khotbah Jumat-nya kepanjangan? Ini membuat prioritas dia masuk surga paling belakang.

Menurut mazhab Hanafi, khotbah terbaik itu panjangnya hanya dua kali salat terpanjang. Salat terpanjang, kan, empat rakaat? Zuhur, Asar, atau Isya. Dua kali empat rakaat, berarti delapan rakaat.

Rupanya Imam Hanafi membikin aturan seperti ini supaya kiai-kiai mazhabnya cepat masuk surga. Kesiapan mental dan rohani kita sangat dibutuhkan.

Sebetulnya bukan dalam masalah panjang atau pendeknya khotbah, tetapi dalam menghadapi kehidupan, khususnya dalam menjalankan kehidupan beragama. Sering kali kita ini, karena merasa bahwa Islam itu begitu banyak perintahnya, kita jalankan seolah-olah Islam terpisah dari kehidupan. Apakah itu yang bernama puasa atau pergi haji.

Bukti kalau Islam pisah dari kehidupan itu, misalnya, banyak orang pergi haji itu menjual tanah. Memakai modal tanah sepenggal-penggalnya dipakai untuk pergi haji. Menjual rumah, menjual pekarangan, dan sebagainya.

Lumayanlah bila harta itu nanti bisa dicari lagi. Tapi kalau tidak, kan bagaimana barang modal kok dihabiskan? Padahal, kalau orang tak ada kelebihannya, tidak wajib haji sama sekali kok. Tidak apa-apa tidak haji. Masalahnya, kan, kewajiban itu penting? Tapi pentingnya tidak boleh lepas dari konteks kehidupan. Ini yang tidak boleh sama sekali.

Islam tidak pernah berpretensi mengatur kehidupan secara rinci dengan tipologi yang kayak apa. Tidak begitu. Segala hal yang sifatnya teknis itu diserahkan kepada manusia. Cuma konteksnya itu yang diciptakan oleh Islam.

Ini yang penting yang selalu kita ingatkan dan jarang dipertimbangkan karena orang asyik dengan teks agama. Harus begini, harus begitu, lalu kita lepas dari kerangka kehidupan. Kita jalankan seolah-olah kita ini tidak punya kewajiban apa-apa kepada orang lain, tidak ada tugas-tugas yang kita hadapi, dan sebagainya.

Inilah yang harus kita ubah. Mari kita lihat bahwa kita menciptakan kerangka bagi kehidupan yang utuh. Kita tak boleh lepas dari kehidupan.

Ambil sajalah satu contoh yang sangat sederhana yang menjadi pikiran kita hari-hari ini, yaitu keadaan ekonomi atau krisis ekonomi yang kita hadapi sekarang ini. Bagaimana Islam menjawab krisis ekonomi?

Kalau kita seperti George Soros memborong dolar, kita tidak bisa. Islam tidak mengajarkan borongan dolar. Kita juga tidak bisa menyatakan bahwa Islam akan mengambil langkah ini. Resep Islam mengatasi itu tidak ada. Yang ada, kerangka umum mengatur ekonomi itu kayak apa.

Ada sebuah ayat yang menarik dalam Alquran, yakni ayat 7 surat Al-Hasyr:

Ma afallahu ‘ala rasulihi min ahlil qura falillahi walir rasuli walizil qurba wal yatama wal masakini wabinis sabili kai la yakuna dulatan bainal aghniya’i. Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan. Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.

Dahulu, ada pungutan kepada non-muslim itu digunakan kepentingan siapa dan tujuan apa. Dari situ kita tahu bahwa zakat yang merupakan pungutan oleh Islam atas orang Islam, ditambah sedekah, wakaf, hibah, dan segala macam itulah—harta umat—yang pantas untuk kepentingan umat. Digunakan untuk kepentingan siapa dan dengan tujuan apa, itu terserah umat. Pungutan dari non-muslim sudah begitu, apalagi yang dari kalangan umat Islam sendiri.

Harta yang dipungut dari orang-orang non-muslim itu namanya fai’. Harta fai’ yang dilimpahkan Allah kepada utusannya, yaitu Nabi Muhammad SAW, dari orang-orang kota atau desa-desa kawasan sekitar Madinah, yaitu orang Yahudi dan sedikit orang Kristen.

Itu digunakan untuk kepentingan siapa? Falillah, untuk kepentingan Allah membuat masjid, tempat-tempat ibadah, tempat pendidikan, mungkin media untuk kepentingan Islam, dan sebagainya. Pokoknya, segala sarana fisik yang digunakan untuk kepentingan penyebaran dan penerusan ajaran-ajaran Islam dikatakan falillah.

Walir rasuli, untuk kepentingan pembiayaan kegiatan rasulullah. Artinya, kegiatan umat Islam dalam memanfaatkan sarana-sarana fisik falillah tadi. Ini semua harus dibiayai kegiatannya dari hartanya umat itu sendiri.

Alidzil qurba, untuk sanak keluarga yang memerlukan pertolongan, harus disediakan. Wal yatama, dan anak-anak yatim. Wal masakin, dan orang-orang miskin. Kalau miskin, wajib ditolong, apalagi fuqara (melarat). Melarat itu di bawahnya miskin, itu wajib ditolong.

Wabni sabil, dan pejalan di jalan Allah (baik untuk ibadah, ziarah ke tempat-tempat atau kepada pihak-pihak-pihak yang penting maupun untuk thalabul ilmi, mencari ilmu). Ini semua perlu dibiayai.

Apa tujuan pembiayaan semacam itu? Kaila yakuna dulatan bainal aghniya’i minkum. Agar harta yang terkumpul itu jangan hanya berputar-putar di kalangan orang kaya saja di lingkungan kalian.

Ini jelas. Islam tidak mempunyai resep mengatasi krisis moneter, kurs dolar naik. Tapi yang ada, mengatur ekonomi berdasarkan prinsip yang baik, kerangka yang baik. Agar supaya pengumpulan sumber daya ekonomi digunakan untuk mencegah penumpukan modal di kalangan tertentu saja.

Ini penting sekali. Kalau kita berbicara kapitalisme, umpamanya di negara-negara yang sudah maju industrinya seperti Amerika, Jepang, dan lain-lain, menjadi poor capitalism, kapitalisme rakyat. Bukan lagi kapitalisme sejumlah pemilik modal. Di negeri kita belum.

*Sumber:

Kapitalisme Rakyat, Sistem Ekonomi Islam ala Gus Dur

___________________

Artikel Terkait: