Karaeng Pattingaloang adalah Pahlawan untuk Kita Semua

Karaeng Pattingaloang adalah Pahlawan untuk Kita Semua
Foto FB

Nalar Warga – Di saat bangsa Indonesia sedang memperingati Hari Pahlawan pada 10 November 2017 ini, saya jadi teringat sosok Karaeng Pattingaloang dari Makassar abab ke-17, yang ketokohannya pernah saya tulis dalam Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Quran edisi 02/XXI/2012.

Tentu, Karaeng Pattingaloang tidak mendapatkan gelar pahlawan dari pemerintah RI. Tapi, setidak-tidaknya, ia adalah sosok pahlawan bagi orang-orang yang mencintai perdamaian dan haus akan ilmu.

Sebagai seorang Raja Tallo sekaligus perdana menteri kerajaan Gowa, Makassar, Karaeng Pattingaloang adalah sosok yang sangat unik; ia lebih suka berpetualang untuk menjalankan perniagaan ketimbang berperang mengangkat senjata; ia juga lebih suka membaca buku ketimbang berpesta pora.

Sejak muda, ia dikenal cerdas, mahir berbahasa Portugis, Spanyol, Melayu, dan tentu saja Makassar. Menurut kesaksian Alexander de Rhodes, misionaris Katolik asal Portugal, Pattingaloang mampu berbicara bahasa Portugal sefasih orang Lisbon.

Denys Lombard juga mengemukakan kecintaan Pattingaloang pada ilmu. Dengan memberikan bayaran yang sesuai, Pattingaloang membeli barang-barang sebagai berikut:

  1. Bola dunia dengan keliling 157 hingga 160 inci, terbuat dari kayu atau tembaga, yang dapat dipakai untuk menentukan letak Kutub Utara dan Kutub Selatan, serta posisi suatu tempat di Bumi di antara keduanya.
  2. Peta dunia dan atlas yang besar, dengan keterangan yang ditulis dalam bahasa Spanyol, Portugis atau Latin.
  3. Dua buah teropong dengan tabung logam yang ringan, serta sebuah suryakanta yang besar dan bagus.
  4. Dua belas prisma segitiga untuk medekomposisi cahaya.

Konon, Pattingaloang juga telah berhasil membawa teleskop Galileo ke Makassar pada 1652, hanya berselang 41 tahun sejak diciptakannya benda itu untuk pertama kalinya di Eropa oleh Galileo pada 1609.

Dari barang-barang yang diinginkannya, tampak bahwa Pattingaloang sangat menyukai ilmu-ilmu eksperimental: fisika, optik, geografi, dan astronomi.

Kemudian, Pattingaloang juga menginisiasi kegiatan penerjemahan buku-buku dari bahasa Eropa ke dalam bahasa Makassar. Di antaranya adalah penerjemahan naskah berbahasa Spanyol tentang persenjataan abad ke-16 yang ditulis oleh Andreas dari Monyona.

Selain memiliki kecerdasan dan minat pada sains, Pattingaloang juga merupakan pemimpin politik yang lebih memilih jalur komunikasi dan diplomasi. Pada masa kepemimpinannya, disepakati perjanjian damai antara VOC dan Gowa-Tallo pada 1637-1654.

Meninggal pada 15 September 1654, Pattingaloang meninggalkan tiga orang pemimpin sebagai hasil didikannya sendiri: Karaeng Karunrung (anak kandungnya), Hasanuddin (menantunya yang nantinya akan menjadi sultan Gowa), dan Arung Palaka (anak angkatnya yang kelak akan menjadi pemimpin Bone).

Selama Karaeng Pattingaloang masih hidup, Arung Palaka sangat menghormati orangtua angkat sekaligus gurunya itu. Namun, sepeninggal Pattingaloang, Arung Palaka membulatkan tekadnya untuk menjadikan Bone sebagai kerajaan yang merdeka, tidak berada di bawah bayang-bayang kekuasaan Gowa. Karena itu, pertempuran besar antara Arung Palaka dan Sultan Hasanuddin tak terhindarkan lagi.

Demikian, Hasanuddin menjadi pahlawan untuk orang Makassar, sementara Arung Palaka adalah pahlawan untuk orang Bone. Lebih dari keduanya, Karaeng Pattingaloang tampak menjadi pahlawan untuk kita semua.

*Iqbal Hasanuddin

___________________

Artikel Terkait: