Karakteristik Islam Fundamentalis

Para tokoh agama sekarang ini tidak lagi berbicara tentang Tuhan, melainkan berbicara atas nama Tuhan, bahkan menjadi corong Tuhan untuk menyampaikan pesan-pesan moral di atas bumi. Hal ini cukup berbahaya karena ketika terjadi perselingkuhan antara agama dan kekuasaan, maka yang muncul kemudian adalah otoritarianisme.

Kedua, menolak pluralisme dan relativisme. Bagi kaum fundamentalis, pluralisme merupakan produk yang keliru dari pemahaman terhadap teks suci. Pemahaman dan sikap yang tidak selaras dengan pandangan kaum fundamentalis, yang merupakan bentuk dari relativisme keagamaan. Hal itu terutama muncul tidak hanya dari intervensi nalar terhadap teks kitab suci, tetapi juga karena perkembangan sosial kemasyarakatan yang telah lepas dari kendali agama.

Ketiga, monopoli kebenaran atas tafsir agama. Kaum fundamentalis cenderung menganggap dirinya sebagai penafsir yang paling absah atau paling benar, sehingga memandang sesat kepada aliran yang tidak sepaham dengannya. Tidak bisa membedakan antara agama dan pemikiran keagamaan yang berbentuk tafsir.

Bahkan parahnya adalah adanya klaim hanya tafsir dan pendapatnya yang paling benar. Tafsir dan pendapat orang lain adalah salah. Sikap keagamaan yang seperti ini berpotensi untuk melahirkan kekerasan, dengan dalih atas nama agama, atas nama membela agama, atas nama Tuhan.

Keempat, setiap gerakan fundamentalis hampir selalu dapat dihubungkan dengan fanatisme, eksklusivisme, intoleran, radikalisme. Kaum fundamentalisme selalu mengambil bentuk perlawanan yang bukannya tak sering bersifat radikal terhadap ancaman yang dipandang membahayakan eksistensi agama dalam bentuk modernitas atau modernisme, sekularisasi atau tata nilai Barat pada umumnya.

Kaum fundamentalisme sebenarnya tidak serta-merta mesti memilih jalan kekerasan, namun banyaknya fundamentalis yang tidak sabar melihat penyimpangan dalam masyarakat dan melakukan tindakan kekerasan atas mereka yang dianggap bertanggung jawab.

Syahdan, sikap militan tidak jarang terlihat dengan jelas dalam gerakan fundamentalisme. Orang-orang fundamentalis merasa terpanggil, bahkan terpilih untuk meluruskan penyimpangan dalam bentuk pembelaan terhadap agama. Hal ini tampaknya sangat wajar.

Pesan-pesan dasar agama sudah sangat jelas, yang harus dilakukan adalah melaksanakannya dengan segala konsekuensinya, termasuk meluruskan orang-orang yang dianggap berusaha membelokkan pesan-pesan agama. Sikap fundamen tidak terbangun dengan sendirinya. Bisa jadi kesadaran tersebut lahir karena dialektika yang berlangsung secara produktif dalam dinamika hidup yang panjang.

Baca juga:
Salman Akif Faylasuf
Latest posts by Salman Akif Faylasuf (see all)