Karantina NU Scholarship Batch 1

Kemudian dibuka oleh pak direktur Muhammad Syauqillah Ph.D. namun sebelum dibuka kami menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu kebesaran NU Hubbul Wathan Minal Iman. Kemudian, ada pengarahan dari pak direktur untuk kami berkarantina dan lain-lain tentang NUS. Dan kelas motivasi yang singkat dari beliau untuk kami yang akan berkuliah di luar negeri.

Siangnya, ada materi keaswajaan yang diantarkan oleh pak kiai Khalid Syeirazi, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) yang menekankan filosofi “Hubbul Wathan Minal Iman”. Lalu sore harinya kami berziarah ke makam KH. Hasyim Muzadi yang terletak di dalam kompleks pesantren di sana teman-teman yang rata-rata lulusan anak pesantren membaca doa ala NU kirim fatihah dan tahlilan.

Di malam hari, adik Ikbal  yang lagi menulis tesis tentang tosalama Imam Lapeo di S2 Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta menyambangiku, aku menyempatkan diri untuk menemuinya sebelum kelas IELTS dimulai oleh mas Amik yang berduet dengan mas Haris dari Pekalongan. Tes simulasi IELTS pun dikerjakan secara keroyokan di kelas dengan teman-teman karena fasilitator belum datang malam ini.

Bertemu Gus Ulil Absar di Hari Kedua

Siapa yang tidak mengenal Gus Ulil Abshar Abdalla? Seorang  Intelektual NU yang pernah sangat viral. Kali pertama aku bertemu dengan beliau ketika aku mengikuti kegiatan Borobudur Writers 2018 di Magelang, Jawa Tengah. Beliau datang bukan on time lagi tapi in time. Beliau dan istri sudah sampai di lokasi sebelum jam delapan pagi. Kami pun buru-buru ke kelas, dan aku sendiri sampai terlambat. Gus Ulil memberikan materi tentang NU dengan penyampaian yang sangat sederhana.

Intinya, kata beliau saat ini banyak yang mengidelogikan banyak hal, mengakidahkan banyak hal padahal ada yang konsepnya fikih. Beliau lalu berpesan silahkan jika kita tidak saling sepakat pada sesuatu hal. Baginya, soal isu kemanusian dan lingkungan yang akhir-akhir ini merebak, manusia adalah mahluk mulia, Allah itu memuliakan manusia.

Lalu siangnya, kami mendapatkan materi membuat CV dan Esai, Prof. Khoirul Rosyadi, S.S., Ma., PhD dan Ir, Drs. Abdul Rahman Ma’mun, MIP. Hari ini yang mengisi pertama kali adalah Pak Abdul Rahman Ma’mun yang akrab dipanggil pak Aman adalah seorang akademisi, wartawan, dan penulis.

Menurut beliau, menulis Curriculum Vitae (CV) dan Esai adalah menulis sejarah diri sendiri. CV merupakan sejarah masa lalu, tulislah masa lalumu yang paling keren dan oke, menyangkut latar belakang, akademis, pengalaman kerja, keterampilan, dan prestasi. Dimana reviewer melihat kualifikasi dan potensi akademik.

Lanjut beliau mengatakan, sedangkan esai adalah sejarah masa depan kita. Sejarah juga bisa merupakan masa depan yang bisa kita ubah sendiri menyangkut motivasi, tujuan karir, dan program studi. Esai yang baik mampu menghubungkan latar belakang dengan tujuan masa depan serta menunjukkan komitmen dan kesiapan untuk berkontribusi di studi yang dipilih. CV dan Esai ada benang merahnya, ada kompetensi masa lalu dengan cita-cita. Namun, buatlah CV dan esai sesederhana mungkin karena ini bukan soal adu cerdas tapi adu cerdik bagaimana menciptakan impressive!

Baca juga:

Di kelas sore, bapak ustad Faried F Saenong dari kampus Universitas Islam International Indonesia (UIII) Jakarta  memberikan pengarahan serba-serbi beasiswa di Australia dan Eropa. Beliau memberikan jalan untuk bisa kuliah di luar negeri tanpa harus mencari beasiswa tapi dengan menghubungi profesor cara membuat proposal riset yang dekat dengan dunia si profesor (bidang dan keahlian) sesuai dengan riset proyek mereka sehingga profesor tertarik dengan anda sebagai research student. Posisi yang saling menguntungkan antara profesor dan mahasiswa.

Malam harinya, diisi oleh rapat sesama peserta NUS untuk mendiskusikan beberapa hal penting menyangkut keberlangsungan hidup bersama selama karantina. Dan pastinya hari-hari yang lain akan lebih seru.

Zuhriah
Latest posts by Zuhriah (see all)