Karmina Kota-Kota di Indonesia

Karmina Kota-Kota di Indonesia
©Unsplash

Makassar kota angin mamiri
Orang gusar karena iri

Denpasar kota wisata
Orang kesasar karena buta

Sumenep kota garam
Perut senep karena geram

Surabaya kota pahlawan
Orang kaya harus dermawan

Malang kota apel
Hati senang mendapat wesel

Gresik kota semen
Orang berisik karena permen

Semarang kota atlas
Orang bimbang karena malas

Jepara kota ukir
Orang sengsara karena rentenir

Demak kota wali
Orang galak karena tuli

Tegal kota bahari
Orang gagal karena iri

Brebes kota bawang
Hati ngenes tak punya uang

Jogjakarta kota gudeg
Orang keja sampai budeg

Temanggung kota tembakau
Orang linglung karena galau

Sokaraja kota gethuk
Malas kerja karena ngantuk

Cianjur kota beras
Orang jujur kena peras

Bandung kota kembang
Orang bingung karena bimbang

Sumedang kota tahu
Orang meradang karena malu

Garut kota dodol
Orang cemberut karena ngompol

Indramayu kota mangga
Orang merayu karena suka

Bekasi kota patriot
Orang berdasi pipinya kempot

Jakarta kota megapolitan
Orang menderita karena setan

Palembang kota seribu sungai
Orang bimbang karena lunglai

Bukittinggi kota jam gadang
Sakit gigi karena banyak utang

Kudus kota kretek
Orang kurus bau di ketek

Solo kota bengawan
Orang jomlo karena tak perawan

Bogor kota hujan
Orang slebor karena setan

Bukan!

Omnibus Law,
Anda bukan Melky Guslaw, kan?
Bukan!

Jangan Ganti Nama!

Orang suka ganti nama
Biar terlihat berbeda
Unik terdengar di telinga
Nyaman dibaca di mata

Di desa namanya Pariyem
Di kota berganti Mery
Di desa namanya Partinah
Di kota menjadi Prety

Di desa namanya Paijo
Di kota berganti Jecko
Di desa namanya Paimo
Di kota berganti Mecko

Jangan ganti nama Jepang
Seperti Hiroko dan Batako
Jangan ganti nama Portugal
Seperti Ronaldo dan Sabodo

Jangan ganti nama Belanda
Seperti van Den Bosh dan Gedebos
Jangan ganti nama Mexico
Seperti Maria Marcedes dan Belgedes

Sebaiknya jangan ganti nama
Meski makan produk Amerika
Meski minum hasil Australia
Meski pakai busana Eropa

Sebaiknya jangan ganti nama
Meski tak juga mendunia
Biar kelihatan aslinya
Biar tampak jati dirinya

Ambulans yang Membawa Peti Mati

Mobil ambulans menyibak gerimis pagi. Bunyi sirine meraung tak henti-henti. Mobil dikawal pak polisi. Meminta sedikit ruang dari pengguna jalan untuk berlari. Di dalamnya terdapat peti mati. Berisi jenazah yang meninggal malam tadi.

Ketika masih hidup almarhum adalah seorang pejabat. Virus corona menyerangnya hingga sekarat. Ia tak tertolong hingga hidupnya pun tamat. Apa boleh buat. Meski semua diupayakan kuat-kuat. Nyatanya hidup hanya menunda kiamat.

Di sepanjang perjalanan dari rumah sakit jenazah hanya diam membisu. Cuma arwahnya yang meratap dan menangis pilu. “Kenapa mobil mewahmu tak membawamu?” Begitu suara-suara gaib bertanya tanpa ragu. Sebuah pertanyaan yang mengharu biru.

“Mengapa Tuan, ketika hayat masih dikandung badan, Tuan mati-matian mencari sesuatu yang tak dibawa mati, hingga Tuan kini berada di dalam peti mati?” Begitu suara-suara gaib bertanya bertalu-talu. Seolah pertanyaan yang membelenggu.

Apakah almarhum dikebumikan di taman makam corona? Tidak demikian tentunya. Ia dimakamkan di tanah keluarga. Di samping rumahnya yang seperti istana. Hingga istri dan anaknya dapat menjenguknya kapan saja.

Syukur Budiardjo
Latest posts by Syukur Budiardjo (see all)