Kartini dan Pembebasan Cara Berpikir

Kartini dan Pembebasan Cara Berpikir
©Jakmall

Seiring berkembangnya zaman, terutama bagi kaum perempuan Indonesia, bicara soal kesetaraan gender menjadi pokok pembicaraan yang urgen. Sosok Kartini memiliki semangat untuk terus maju dan berkarya yang mungkin saja tidak banyak dimiliki oleh perempuan sebayanya waktu itu.

Walaupun Kartini lahir dari keluarga terpandang, tidak menyurutkan niat yang mulianya untuk memperbaiki nasib perempuan pribumi. Yang pada saat itu tidak bisa mengenyam pendidikan yang baik. Pada saat itu juga sistem yang ada sangat menghambat kemajuan perempuan di zamannya.

Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku kumpulan surat yang ditulis oleh Kartini. Kumpulan surat tersebut dibukukan J.H. Abendanon dengan judul Door Duistersnis Tot Licht yang arti harfiahnya adalah Dari Kegelapan Menuju Cahaya.

Kalimat habis gelap terbitlah terang inilah yang selalu dibicarakan dan terkenal di kalangan masyarakat hingga kini. Makna dari penggalan kalimat itu adalah ketika kita merasakan masa sulit, maka kemudian hari pasti akan merasakan kebahagiaan.

Namun di masa sulit itu Kartini tidak hanya berdiam diri. Ia melakukan hal-hal yang dapat memperluas kekuasaan wawasannya, seperti membaca buku dan bahkan selalu mengirim surat dengan temannya di Belanda. Dan perjuangannya yang selalu diingat hingga sekarang yaitu membangkitkan pandangan atas kaum wanita yang dianggap lemah. Dari perjuangannya ini, Indonesia pun ikut mengakui keberhasilannya.

Sri Mulyani juga pernah bicara soal perempuan dan kesetaraan gender di RI. Ia mengatakan, “Indonesia punya angkatan kerja dan partsipasi perempuan masih kecil dan imbalan kerja yang masih rendah. Ini problem untuk perempuan.”

Untuk menghadapi kondisi yang demikian, perempuan perlu saling mendukung satu sama lain dan memberikan dorongan. Sebab perempuan memiliki kemampuan untuk sampai ke level tertentu tapi memiliki banyak halangan.

Baca juga:

Zaman dulu, perempuan dianggap sebagai orang yang lemah. Karena hanya mampu menyelesaikan pekerjaan domestik sebagai ibu rumah tangga, seperti memasak, mencuci, menyetrika, menjaga kebersihan, membimbing belajar anak, dan sebagainya. Didukung juga dengan kondisi alami reproduksi pada perempuan, misalnya menyusui, melahirkan, dan hamil.

Anggapan tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun pada anak cucu. Hingga hal tersebut memberikan pelabelan dan perlakuan khusus bagi perempuan, yang biasanya lebih banyak membatasi dan merugikan perempuan. Citra perempuan dengan berbagai aspek negatifnya yang akhirnya mendarah daging.

Namun seiring berjalannya waktu, menyebabkan peningkatan kesadaran akan pentingnya pendidikan di kalangan perempuan membawa  perubahan posisi pada perempuan. Pendidikan yang diperoleh perempuan akan membawa dirinya sejajar dengan kaum laki-laki. Sehingga tidak heran jika saat ini pendidikan untuk perempuan juga sangat dianjurkan. Karena dapat menjadi perubahan peran perempuan dalam ranah pembangunan nasional.

Hal tersebut terbukti bahwa saat ini banyak perempuan yang bekerja, seperti bidan, polisi, dokter, atlet, dan sebagainya. Kemampuan perempuan juga bisa diseimbangkan dengan laki-laki, tergantung dari sikap kritis dan aktifnya perempuan tersebut dalam menggali potensi dirinya. Pendidikan yang makin tinggi, maka kualitas perempuan tersebut makin dihargai oleh kalangan masyarakat luas.

Ketidakadilan gender yang dialami oleh kaum perempuan bersumber pada keyakinan gender masyarakat yang menempatkan posisi perempuan berada di bawah laki-laki. Masalah gender seperti ini sudah sejak zaman dahulu karena budaya yang mengakar di kalangan masyarakat luas. Terutama di perdesaan, menganggap bahwa perempuan hanya dapat melakukan sesuatu yang ada di dalam rumah. Ini menjadi kebiasaan turun-temurun yang sulit dihilangkan.

Latest posts by Lalik Kongkar (see all)